4 June 2026
HomeBeritaSinemart dan IMDE Gelar Bedah Film "Suamiku Lukaku": Angkat Isi Pentingnya Keamanan...

Sinemart dan IMDE Gelar Bedah Film “Suamiku Lukaku”: Angkat Isi Pentingnya Keamanan di Balik Layar

SHNet, Jakarta-Institut Media Digital Emtek (IMDE) bersama Sinemart sukses menggelar acara diskusi dan bedah film bertajuk “Suamiku Lukaku Goes to IMDE” pada Rabu, 3 Juni 2026, di Kampus IMDE, Jakarta Barat. Acara yang berlangsung mulai pukul 12.30 hingga 14.00 WIB ini menghadirkan bintang tamu spesial, Putri Ayudya, yang dalam film ini selain memerankan karakter seorang Jaksa Penuntut Umum, sekaligus menjadi acting coach dan intimacy coordinator di tim safety dalam produksi film tersebut.

Mengusung tema diskusi yang jarang diangkat ke permukaan, kegiatan ini tidak hanya membahas alur cerita film, tetapi juga menyoroti aspek teknis dan psikologis di balik produksi film yang mengangkat isu stop kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Dalam sesi diskusi yang hangat namun menarik, Putri Ayudya berbagi pengalamannya sebagai acting coach dalam produksi film “Suamiku Lukaku”. Topik yang menarik dan di bahas lebih jauh adalah teknik produksi adegan kekerasan dan adegan intim (intimacy scene) dalam sebuah film.

“Bagaimana caranya membuat adegan kekerasan atau intim terasa nyata di layar namun tetap aman dan nyaman bagi para aktor dan aktris? Ini membutuhkan persiapan matang, komunikasi terbuka, dan kehadiran profesi khusus seperti Intimacy Coordinator,” ujar Putri Ayudya di hadapan puluhan peserta.

Putri juga menyoroti bahwa profesi Intimacy Coordinator masih tergolong langka di Indonesia. Padahal, keberadaan profesi ini sangat dibutuhkan untuk memastikan kemanan dan kenyamanan para pemain.

Putri juga memberikan bahwa Film ini dibuat dan ditulis melalui proses riset. Dan film-film yang menggunakan riset akan memiliki relevansi yang baik, tepat sasaran dan bisa menjadi penanda jaman sehingga para penonton bisa mengerti apa yang terjadi pada zaman saat film itu terjadi.

Tidak hanya dari sisi produksi, diskusi juga mengupas tantangan mengemas cerita berlatar KDRT yang berisiko memicu trauma (trigger warning) bagi penonton. Narasumber mengingatkan bahwa pentingnya Etika dalam membuat film agar dapat terukur relevansi dan impact yang ditimbulkan dari film tersebut. Film Sinemaku Lukaku selain memberikan peringatan di awal sebelum film dimulai, beberapa adegan kekerasan juga ditampilkan pada trailer film sehingga para penonton dapat mengukur apakah mereka dapat menonton film tersebut secara utuh / tidak.

Foto bersama narasumber dengan peserta diskusi

Hadir pula Ichico, selaku Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT) Kampus IMDE. Ichico menekankan peran institusi pendidikan dalam menciptakan ruang aman di Perguruan Tinggi untuk berdialog tentang isu-isu kekerasan baik fisik maupun verbal.

Interaktif dan Dinamis

Acara yang berlangsung secara offline ini dihadiri oleh sekitar 60 orang, terdiri dari mahasiswa IMDE dan masyarakat umum. Diskusi berjalan interaktif dan dinamis dipandu oleh Palupi Krakatao, seorang MC profesional yang juga merupakan Best Advocacy Miss Hijab Indonesia 2022. Dengan gaya komunikasinya, Palupi berhasil menggali banyak pertanyaan dari peserta terkait etika pembuatan film dan perlindungan aktor di balik layar.

Melalui diskusi film ini, IMDE dan Sinemart berharap dapat membuka wawasan generasi muda, khususnya mahasiswa yang bercita-cita berkarier di industri perfilman, tentang pentingnya profesionalisme dan empati dalam berkarya.

Tidak kalah penting, Putri menekankan pentingnya Etika dalam membuat Film dan pentingnya menonton Film langsung dari Sumber yang benar agar kita mengetahui bahwa film tersebut tidak dipotong / diisi oleh konten-konten yang tidak sesuai dan impact / dampaknya dapat terukur oleh para produsen film. (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU