5 September 2026
HomeBeritaKabut Asap Karhutla Ancam Paru Anak, PDPI Minta Kelompok Rentan Diprioritaskan

Kabut Asap Karhutla Ancam Paru Anak, PDPI Minta Kelompok Rentan Diprioritaskan

SHNet, Jakarta – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu kualitas udara, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah serius terhadap kesehatan pernapasan masyarakat. Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr. dr. Arief Riadi Arifin, Sp.P(K), MARS., mengatakan anak-anak termasuk kelompok rentan yang perlu mendapat perlindungan prioritas ketika kualitas udara memburuk akibat karhutla.

Menurut Arief, karhutla harus dipandang bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, melainkan juga sebagai krisis kesehatan masyarakat. “Anak-anak dan anak usia sekolah merupakan kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan prioritas dari dampak kabut asap karhutla,” kata Arief dalam dalam zoom, Sabtu (5/9)

Ia menjelaskan kabut asap karhutla merupakan campuran kompleks yang mengandung berbagai gas dan partikulat akibat proses pembakaran. Di antaranya karbon monoksida, karbon dioksida, nitrogen oksida, ozon, sulfur dioksida, serta particulate matter (PM) yang memiliki ukuran berbeda dan dapat memberikan dampak terhadap tubuh.

Salah satu polutan yang menjadi perhatian utama adalah particulate matter berukuran halus, terutama PM2,5. Partikel tersebut dapat masuk hingga bagian terdalam paru atau alveolus dan memicu peradangan sistemik yang berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan akut.

“Dampak akut kabut asap karhutla meliputi batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, serangan asma, eksaserbasi PPOK, ISPA, dan pneumonia. Sementara dampak jangka panjang dapat berupa penurunan fungsi paru, PPOK, kanker paru, penyakit kardiovaskular, serta gangguan perkembangan paru pada anak,” ujar Arief.

Menurut Arief, risiko tersebut membuat perlindungan terhadap kelompok rentan tidak dapat dipisahkan dari penanganan karhutla. Selain anak-anak, PDPI memasukkan bayi, balita, ibu hamil, lansia, penderita penyakit paru kronik, penderita penyakit jantung, pekerja luar ruang, serta petugas pemadam karhutla sebagai kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.

PDPI juga menilai kabut asap karhutla merupakan persoalan multisektoral karena menyangkut kesehatan masyarakat, lingkungan, dan kebencanaan. Dampaknya bahkan dapat meluas hingga negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara yang terdampak asap karhutla.

Arief mengatakan tingkat bahaya kabut asap juga dipengaruhi oleh kadar polutan yang terkandung di udara. Karena itu, pemantauan kualitas udara dan penggunaan indikator seperti PM2,5 menjadi penting untuk mengetahui tingkat pencemaran serta menentukan langkah perlindungan terhadap masyarakat.

“PM2,5 merupakan ancaman utama karena dapat masuk hingga alveolus paru dan memicu peradangan sistemik yang dapat berakhir dengan gangguan pernapasan akut. Kondisi tersebut bahkan dapat membutuhkan layanan kesehatan segera di fasilitas pelayanan kesehatan,” tuturnya.

PDPI menegaskan penanganan karhutla membutuhkan respons yang cepat, ilmiah, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Perlindungan kelompok rentan, terutama anak-anak dan anak usia sekolah, menjadi bagian penting karena paparan kabut asap tidak hanya berisiko menimbulkan keluhan pernapasan dalam jangka pendek, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan paru dalam jangka panjang.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU