SHNet, Jakarta – Ketua Umum PERGIZI PANGAN Indonesia, Prof. Ahmad Sulaeman dijadwalkan menghadiri 29th World Congress on Clinical Nutrition (WCCN) di Makhachkala, Dagestan, Rusia, pada 1–3 Oktober 2026. Kongres tersebut mengangkat tema gizi dan teknologi biomekatronik baru untuk meningkatkan kualitas hidup.
Penyelenggara membagi pembahasan ke dalam dua bidang utama, yakni gizi klinis dan fungsional untuk penyakit tidak menular serta pengendalian neurometabolik melalui biomekatronik adaptif dan neuroteknologi. Rangkaian topik itu mempertemukan pendekatan gizi dengan perkembangan teknologi kesehatan.
Pada bidang gizi klinis, agenda kongres mencakup peran pola makan dalam pencegahan dan penanganan penyakit tidak menular, nutrigenomik, gizi personal, mikrobiota usus, serta penanda biologis untuk menilai status gizi. Penelitian mengenai intervensi diet juga tercantum dalam program.
Pangan fungsional dan nutrasetikal menjadi bagian dari pembahasan, bersama kajian pola konsumsi masyarakat dan kebijakan publik. Agenda penyelenggara turut memuat isu pelabelan pangan, perpajakan, program pemerintah, dan rekomendasi keamanan pangan.
Bidang kedua menyoroti penggunaan kecerdasan buatan untuk mempelajari perilaku makan, adaptasi metabolik dalam kondisi ekstrim, serta neuromodulasi yang berkaitan dengan obesitas dan diabetes tipe 2. Kongres juga akan membahas antarmuka saraf dan prostetik dalam bidang medis.
“Kongres ini akan mengumpulkan konsensus berisi masalah-masalah kesehatan yang ada di dunia yang nantinya bisa menjadi bahan bagi para ahli dan pakar untuk membuat panduan akan masalah kesehatan tertentu,” kata Prof. Ahmad Sulaeman.
Guru Besar Keamanan Pangan dan Gizi IPB ini mengungkapkan, WCCN juga akan fokus membahas masalah gizi dan nutrisi bagi seluruh umat manusia mulai dari preproduksi hingga pascaproduksi dan dihidangkan di meja makan. Hal ini untuk menjamin makanan tersebut dapat membentuk tubuh dan gaya hidup yang sehat.
Prof Sulaeman melanjutkan, pertemuan WCCN menjadi sangat penting karena disamping membahas gizi, pertemuan internasional ini juga membahas tentang sistem pangan yang tangguh. Dia mengungkapkan bahwa keamanan pangan menjadi salah satu bahasan dunia saat ini.
Pakar nutrisi dan keamanan pangan ini menambahkan, WCCN juga ikut dalam bahasan tersebut dalam konteks menghadirkan konsumsi gizi sejak masih dalam tanaman atau peternakan. Dia mengatakan, sumber-sumber pangan tersebut menjadi titik penting awal mula makanan bernutrisi bagi dunia.
“Kadi kita harus bisa memangun sistem pangan yang tahan terhadap perubahan kondisi hingga geopolitik global,” katanya.
Pernyataan Ketua Umum PERGIZI PANGAN dapat menjelaskan relevansi pembahasan kongres bagi riset gizi, pencegahan penyakit tidak menular, dan kebutuhan kesehatan masyarakat Indonesia. Kongres tahun ini berlangsung setelah penyelenggaraan WCCN ke-28 di Bogor, Indonesia, pada 2025.
Diskusi dari pertemuan di Bogor menjadi dasar sebuah pernyataan konsensus ilmiah mengenai pola makan berkelanjutan dan pangan fungsional yang diterbitkan pada Juli 2026, dengan Prof. Hardinsyah dan Prof. Ahmad Sulaeman tercantum sebagai penulis.
Ketua WCCN 2025, Prof. Hardinsyah mengatakan bahwa kongres membahas banyak topik penting, salah satunya terkait komponen fungsional pada pangan yang berperan dalam mencegah berbagai penyakit. Dia menambahkan, salah satu fokus dari kongres ini adalah bagaimana memanfaatkan makanan sehari-hari sebagai pencegah penyakit.
“Jadi komponen fungsional yang bermanfaat buat kesehatan, yaitu mencegah dan meredakan hipertensi, hiperglikemia, hiperkolesterol itu dibicarakan. Bagaimana upaya sebelum terapi dengan obat bisa meminimalkan risiko dengan pendekatan pengaturan makanan dan minuman,” katanya beberapa waktu lalu.
Pernyataannya dapat menguraikan tujuan kerja sama ilmiah internasional dalam kongres ini. Penyebutan Prof. Hardinsyah sebagai Presiden International College of Nutrition (ICN) untuk periode kongres 2026 juga perlu dikonfirmasi; laman ICN yang tersedia mencantumkan masa jabatannya pada 2024–2025.
Ketua panitia penyelenggara, Prof. Magomed Magomedov, menyampaikan melalui situs resmi kongres bahwa Dagestan menyambut tamu yang datang membawa pengetahuan. Kongres akan diselenggarakan di SRC Juravli, Makhachkala.
Hingga 24 September, situs penyelenggara memuat tema, tanggal, tempat, dan bidang pembahasan kongres. Rincian kehadiran delegasi Indonesia, isi paparan kedua profesor, serta hasil pertemuan perlu diperbarui setelah mendapat konfirmasi dari narasumber dan setelah kongres berlangsung.

