SHNet – Sebanyak lebih dari 200 kader ‘Aisyiyah dari seluruh nusantara mengikuti training program dan pendampingan digital guna mengoptimalkan edukasi gizi untuk masyarakat. Kegiatan hasil kolaborasi Majelis Kessehatan PP ‘Aisyiyah dengan Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) ini mencakup pelatihan interaktif dan produksi konten edukasi guna memperkuat dakwah kesehatan digital.
Ketua Majelis Kesehatan PP ’Aisyiyah, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., menegaskan inisiatif ini digagas untuk merespons perubahan pola komunikasi masyarakat yang kini lebih banyak mengakses informasi kesehatan melalui media sosial.
“Masyarakat kita saat ini sudah berubah cara pandangnya, cara memperoleh informasinya, dan cara berkomunikasinya. Kehadiran offline tetap penting, tetapi jangkauannya sangat terbatas. Media sosial kini menjadi ruang yang sangat strategis untuk menyampaikan pesan kesehatan secara tepat dan lebih luas,” ujar Warsiti saat memberikan arahan dalam pembukaan pelatihan, Sabtu (26/9/2026).
Warsiti menjelaskan, derasnya arus informasi di media sosial kerap memicu kebingungan publik akibat maraknya hoaks, mitos, maupun klaim kesehatan yang tidak memiliki dasar ilmiah. Oleh karena itu, para kader kesehatan ’Aisyiyah dilatih agar mampu mengemas materi medis yang rumit menjadi pesan yang sederhana, mudah dipahami, tetapi tetap kredibel dan berbasis bukti ilmiah.
Satu di antara fokus edukasi yang disoroti adalah maraknya salah kaprah di masyarakat terkait konsumsi susu dan nutrisi anak, seperti persepsi mengenai kental manis.
Perwakilan Majelis Kesehatan PP ‘Aisyiyah, Dr. dr. Merita Arini, MMR., mengungkapkan bahwa iklan masa lalu yang bombastis dan keliru telah membentuk persepsi salah di tengah masyarakat, di mana kental manis dianggap sebagai susu pertumbuhan atau pengganti nutrisi untuk anak.
“Iklan-iklan lama membentuk pemahaman yang keliru, seolah kental manis adalah susu pelengkap gizi untuk anak. Padahal, produk ini memiliki kadar gula yang sangat tinggi dan kandungan susu yang amat sedikit,” terang dr. Merita.
Ia mengutip survey YAICI dan ‘Aisyiyah yang mencatat lebih dari 67 persen responden masyarakat sempat mengonsumsi kental manis sebagai pengganti susu harian.
“Tugas kader digital ‘Aisyiyah adalah menjadi penyaring dan pelurus informasi Kita harus masif mengedukasi masyarakat bahwa konsumsi gula berlebih dari kental manis meningkatkan risiko obesitas dan penyakit tidak menular sejak dini. Pesan kesehatan ini harus dibungkus dengan bahasa yang sederhana dan relevan dengan ibu serta keluarga,” tambah dr. Merita.
Dalam kesempatan tersebut, Warsiti juga menyoroti pentingnya edukasi kesehatan yang inklusif dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas. Ia mendorong para kader untuk menyisipkan penerjemah Bahasa Isyarat atau teks transkrip pada setiap konten video edukasi yang diproduksi.
“Media edukasi digital yang kita miliki harus ramah pada kelompok disabilitas. Misalnya untuk teman-teman tunarungu, konten video bisa diselipkan JBI di pojok kanan bawah atau diberikan teks yang jelas. Kita harus memastikan informasi kesehatan ini dapat menjangkau kelompok rentan tanpa terkecuali,” tegas Warsiti.
PP ’Aisyiyah mendorong seluruh pimpinan wilayah dan daerah untuk memperlihatkan dampak nyata serta inovasi dari gerakan kesehatan masyarakat yang telah dijalankan.

