8 October 2026
HomeBeritaKesraLewat “Kupu-Kupu Alam”, Supriyono Raih Anugerah Pustakawan Indonesia 2026

Lewat “Kupu-Kupu Alam”, Supriyono Raih Anugerah Pustakawan Indonesia 2026

SHNet, Semarang – Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan dan membaca buku. Di tangan pustakawan yang kreatif, perpustakaan bisa menjadi pintu bagi anak-anak untuk mengenal lingkungan, budaya, sekaligus kekayaan daerahnya.

Semangat itulah yang dibawa Supriyono, pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Kebumen, melalui inovasi “Kupu-Kupu Alam”. Program tersebut mengantarkannya meraih Anugerah Pustakawan Indonesia (API) 2026.

Penghargaan diberikan pada penutupan Rapat Kerja Nasional Ikatan Pustakawan Indonesia (Rakernas IPI) 2026 di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (7/10/2026).

Supriyono yang merupakan utusan Pengurus Daerah IPI Provinsi Jawa Tengah memperoleh nilai akhir 81,25. Ia terpilih setelah melewati proses pemeriksaan dan verifikasi dokumen administratif serta penilaian portofolio berbasis bukti.

Melalui program “Kupu-Kupu Alam” Pelita Geopark Kebumen, peserta didik diajak tidak hanya mengenal perpustakaan dan dunia literasi, tetapi juga melihat lebih dekat kekayaan alam dan budaya yang ada di lingkungan mereka.

Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa kerja pustakawan dapat hadir jauh melampaui ruang perpustakaan. Literasi dikembangkan menjadi pengalaman yang dekat dengan kehidupan anak-anak dan lingkungan sekitar.

API 2026 sendiri diikuti 17 peserta sebelum akhirnya mengerucut menjadi 10 nominator. Dewan juri kemudian menggelar rapat pleno penjurian akhir pada 3 Oktober 2026 untuk menentukan penerima penghargaan berdasarkan rekapitulasi nilai akhir, konsensus mufakat, dan pertimbangan objektif.

Mengangkat “Kerja Sunyi” Pustakawan

Ketua Umum Pengurus Pusat IPI Joko Santoso mengatakan, penghargaan tersebut bukan sekadar seremoni tahunan. API 2026 menjadi bentuk apresiasi terhadap pustakawan yang selama ini bekerja di balik layar untuk mencerdaskan masyarakat.

“Ini adalah bentuk rekognisi dan juga apresiasi tertinggi terhadap apa yang saya sebut kerja sunyi para pustakawan itu,” kata Joko.

Menurutnya, para pustakawan terus bekerja merawat literasi, mencerdaskan bangsa, dan memberikan pelayanan kepada masyarakat, meski tidak selalu mendapat sorotan publik.

Namun, kerja yang dilakukan dalam kesunyian tersebut memiliki dampak yang nyata.

“Melalui penghargaan ini kita ingin menegaskan bahwa negara dan organisasi melihat, menghargai dan bangga atas dedikasi sunyi yang telah kita torehkan,” ujarnya.

Penghargaan kepada Supriyono sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi di bidang kepustakawanan dapat lahir dari kebutuhan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Rakernas IPI 2026 juga memberikan ruang bagi pustakawan untuk membagikan gagasan dan praktik terbaik melalui Call for Papers dan Call for Best Practices.

Dari proses tersebut, tiga karya ditetapkan sebagai paper terbaik.

Peringkat pertama dengan nilai 81,33 diraih Ahmad Syawqi melalui karya “Sinergi Pustakawan-Media Massa: Menulis Opini untuk Memperluas Dampak Gerakan Literasi di Kalimantan Selatan.”

Peringkat kedua dengan nilai 80,8 diraih Firman Hadiansyah, Piping Arif Siswandi, dan Hilman Irmansyah melalui karya “Pustakawan Masuk Desa: Model Kolaborasi UPA Perpustakaan Untirta dan Penguatan Ekosistem Literasi Masyarakat di Desa Pabuaran.”

Sementara peringkat ketiga dengan nilai 78,94 diraih Supriyono bersama Hernanda Argha Sasmita dan Vera Gita Andini melalui karya “Sinergi Akademis dan Budaya Kerelawanan: Co-Creation Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi Berbasis Kolaborasi Sivitas Akademika.”

Joko mengatakan, budaya berbagi pengetahuan di kalangan pustakawan akan terus dikembangkan. Menurutnya, pustakawan harus semakin terdorong untuk menulis, melakukan penelitian, membagikan praktik baik, serta mengembangkan layanan berdasarkan bukti.

“Kita ingin semakin banyak pustakawan menulis, meneliti, membagikan praktik baik, dan membangun pembaruan layanan berdasarkan bukti,” katanya.

Dengan demikian, pengetahuan yang lahir dari pengalaman pustakawan tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi, tetapi dapat menjadi pembelajaran bagi perpustakaan dan masyarakat di daerah lain.

Rakernas IPI 2026 berlangsung di Semarang pada 6-8 Oktober dengan mengusung tema “Pustakawan Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak.”

Berbagai agenda digelar, mulai dari lokakarya, gelar wicara, persidangan organisasi, pembahasan AD/ART dan program kerja, hingga presentasi karya ilmiah dan praktik terbaik kepustakawanan.

Bagi Joko, keberhasilan Rakernas tidak cukup hanya diukur dari keputusan yang dihasilkan di ruang persidangan. Ukuran sesungguhnya justru terlihat ketika para pustakawan kembali ke daerah masing-masing dan menghasilkan perubahan nyata bagi masyarakat.

“Terlibat dalam menjawab kebutuhan masyarakat, bersinergi dalam memperkuat profesi, dan berdampak melalui karya dan layanan yang nyata,” tegas Joko.

Kisah Supriyono dan “Kupu-Kupu Alam” menjadi salah satu gambaran bahwa kerja pustakawan memang kerap berlangsung dalam kesunyian. Namun, ketika inovasi tersebut mampu membuka wawasan anak-anak, memperkenalkan kekayaan alam dan budaya, serta menghidupkan literasi, kerja sunyi itu pada akhirnya meninggalkan jejak yang nyata bagi masyarakat. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU