4 April 2026
HomeBeritaBebatuan di Sungai Kembang, Kalsel, Bagian Geopark Meratus

Bebatuan di Sungai Kembang, Kalsel, Bagian Geopark Meratus

SHNet, Jakarta –  Sungai Kembang, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan dipenuhi bebatuan yang berlumut. Tapi, tak banyak yang tahu, berdasarkan hasil sebuah penelitian, batuan kawasan yang tak jauh dari bendungan Riam Kanan itu bernilai sangat tinggi.

Hasil sebuah penelitian ternyata batuan Sungai Kembang termasuk batu sekis hijau yang sangat langka di dunia.

Sungai Kembang adalah destinasi wisata Kalsel yang banyak didatangi orang untuk menyegarkan badan dan pikiran karena dekat dari perkotaan. Jalan dari Banjarmasin menuju ke objek wisata itu mulus, hingga mudah dari pengendara menjangkau kawasan yang berada di Geopark Meratus itu.

Kepala Bidang Air Tanah, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalsel, Ali Mustofa, ketika dikonfirmasi mengenai uniknya bebatuan Sungai Kembang saat kunjungan Dangsanak Geopark Meratus ke Mandiangin baru-baru ini tak membantah jika bebatuan di lokasi itu bernilai tinggi untuk penelitian asal bumi.

Lantaran batuan Sungai Kembang termasuk batu unik dan langka dan tak ditemui di daerah lain, yakni jenis sekis hijau/biru (blue sekis) yang terbentuk akibat penunjaman lempeng pada awal terbentuknya Pegunungan Meratus sekitar 180 juta tahun yang lalu.

Berdasarkan literatur, sekis (bahasa Inggris: schist) adalah salah satu dari jenis batuan metamorf. Batuan ini terbentuk pada saat batuan sedimen atau batuan beku yang terpendam pada tempat yang dalam mengalami tekanan dan temperatur yang tinggi.

Berdasarkan komposisi utama penyusun batuannya yang klorit dapat diketahui bahwa mineral ini terbentuk dari batuan beku basa ataupun ultra basa yang mengalami metamorfosa, dengan pengaruh yang dominan adalah pengaruh tekanan.

Klorit sendiri merupakan mineral ubahan dari olivine ataupun piroksen, mineral ini sangat melimpah pada batuan beku basa ataupun ultra basa. Tekanan mengakibatkan penjajaran-penjajaran mineral pipih dan mineral prismatic.

Diperkirakan batuan ini terbentuk karena metamorfosa regional pada zona penunjaman lempeng, karena metamorfisme pada daerah ini memiliki pengaruh tekanan yang tinggi.

Bukan bebatuan Sungai Kembang saja yang unik di gugusan Geopark Meratus ini, tetapi juga bebatuan yang lain, termasuk salah satunya adalah Jenis batuan plagiogranit yang ditemukan di Gunung Batu Besar Mentewe, Kabupaten Tanah Bumbu.

Batuan di Mentewe juga termasuk langka karena berdasarkan data hanya ada di Athena, Yunani, dan Perancis, katanya.

Ia mengakui memang harus dipastikan lagi, melalui penelitian apakah pasti itu bebatuan plagiogranit, jika itu benar maka Indonesia adalah negara ketiga punya bebatuan jenis itu.

Seperti dikutip Antara, Profesor Ibrahim Komoo yang melakukan verifikasi dan meninjau di Kalsel selama empat hari terkait Geopark Pegunungan Meratus untuk menuju UNESCO Global Geopark (UGG) sudah melakukan serangkaian penelitian yang menyebutkan bebatuan tersebut mengarah ke batuan plagiogranit.

Bumi Kalsel dengan Pegunungan Meratusnya sangat kaya dengan warisan kejadian bumi. Dan ini sudah sangat cocok jika terdaftar UGG, Batuan di bukit Langgara Loksado HSS termasuk jenis batu gamping paling tua di Meratus yang terbentuk sejak zaman kapur. Batu gamping ini merupakan batuan yg terbentuk di laut hasil pengendapan hewan laut jenis orbitulina.

Hasil penelitian menyebutkan batu gamping di Bukit Langara berasal dari fosil binatang laut yang membeku. “Batu kapur tersebut merupakan yang tertua di wilayah ini,” kata Ali Mustofa.

Batu ini sudah terbentuk sejak lempeng benua Australia yang bergerak dan menumbuk lempeng Sunda Land yang sekarang berada di lingkungan bersama dengan ofiolit Meratus.

Ali mengungkapkan, Batu Bukit Langara beda dibandingkan batu gamping di daerah lain, seperti batu gamping di daerah Bajuin, Kabupaten Tanah Laut.

Batu Langara dari hasil penelitian geologi justru adalah binatang kerang yang membatu. “Batuan ini sama persis seperti batu gamping yang ada di Australia, rupanya saat jutaan tahun lalu, batu Australia ini migrasi atau terpental ke Gunung Langara ini,” tuturnya. (Victor)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU