4 June 2026
HomeBeritaPDUI: Dokter Umum di Indonesia Belum Pernah Didatangi Pasien Sakit Karena...

PDUI: Dokter Umum di Indonesia Belum Pernah Didatangi Pasien Sakit Karena Minum AMDK

Jakarta-Wakil Ketua Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PP PDUI), Dr. Hartati B Bangsa, mengatakan belum pernah ada kejadian satu pun dokter umum di Indonesia yang didatangi pasiennya karena menderita sakit setelah mengkonsumsi air minum minum dalam kemasan (AMDK). Menurutnya, semua AMDK yang beredar di pasaran itu sudah memiliki nilai ambang batas aman atau NAB yang ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Sampai sekarang belum pernah ada kejadian pasien yang datang ke dokter umum itu sakit akibat khusus minum air kemasan. Kalaupun ada pasien yang mengalami gejala diare yang berdampak kepada pencernaan, kita pasti tanyakan apa yang mereka pernah makan dan minum sebelum diare. Tapi, belum pernah ada pasien yang mengatakan diare setelah minum air kemasan,” katanya.

Ditanya mengenai adanya isu yang mengatakan bahwa AMDK berbahan Polikarbonat yang mengandung Bisfenol A (BPA) itu berbahaya jika dikonsumsi bayi, anak-anak dan ibu hamil, dia mengatakan itu belum menjadi isu khusus di kalangan dokter umum. “Belum jadi perhatian khusus. Karena fungsi dokter umum itu lebih banyak kepada kuratif. Jadi, hal itu perlu dibuktikan kebenarannya,” ujarnya.

Dia mengatakan berdasarnya studinya BPA itu memang bersifat toksik, terutama terhadap bayi. Tapi, kata dokter Hartati, ada batas aman nilai ambang batas atau NAB penggunaan dalam tubuh manusia dan itu dapat diatur. “Jadi, selama tidak melewati NAB-nya maka konsumsinya bisa diakomodir. Sesederhana itu sebenarnya berpikirnya,” ucapnya.

Memang, kata dokter Hartati, untuk botol-botol susu bayi yang berbahan Polikarbonat yang mengandung BPA perlu diperhatikan secara khusus. Hal itu disebabkan penggunaannya yang diisi dengan air panas. “Studi menyampaikan bahwa botol yang mengandung BPA jika melalui proses pemanasan lebih dengan suhu yang tinggi akan memberikan dampak 55 kali lebih tinggi,” tukasnya.

Untuk mengetahui lebih pasti mengenai keamanan kemasan pangan berbahan Polikarbonat yang mengandung BPA ini, menurut dokter Hartati, perlu dilibatkan para pakar ahli yang sesuai bidangnya. “Itu sangat diperlukan betul karena dalam badan pengawas tentu akan melibatkan pakar-pakar ini juga. Untuk ambang batas media-media pangan kita yang berkaitan dengan seluruh aktivitas pencernaan, itu harus melibatkan pakar dari tinjauan efektivitas dan dampak bagi kesehatan,” katanya.

Dia menegaskan seyogianya segala sesuatu yang sudah beredar seharusnya sudah aman dan terjamin keamanannya untuk dapat dikonsumsi masyarakat. Karenanya, dia berharap kalau terkait regulasi harus membicarakannya terlebih dulu dengan pihak-pihak terkait. “Jadi, tidak masuk unsur-unsur kepentingan kanan-kiri,” ujarnya.

Sebelumnya, Dr. M. Alamsyah Aziz, SpOG (K), M.Kes., KIC, dokter spesialis kandungan yang juga Ketua Pokja Infeksi Saluran Reproduksi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), mengatakan sampai saat ini dirinya tidak pernah menemukan adanya gangguan terhadap janin karena ibunya meminum air galon.

Karenanya, dia meminta para ibu hamil agar tidak khawatir menggunakan kemasan AMDK galon guna ulang ini, karena aman sekali dan tidak berbahaya terhadap ibu maupun pada janinnya.

Dokter spesialis anak dan Konsultan Tumbuh Kembang Anak, dr. Bernie Endyarni Medise, SpA(K), MPH juga menegaskan bahwa tidak pernah ada anak menjadi autis karena mengkonsumsi air galon guna ulang. Dia mengatakan penyebab pastinya anak autis ini masih belum diketahui hingga kini. Yang baru diketahui adalah anak auitis itu ada hubungannya dengan genetik tertentu seperti adanya autism pada kelainan Fragile X syndrome.

“Ada yang mengatakan autis itu hasil kombinasi genetik dan lingkungan. Tapi penyebab pasti sampai saat ini belum jelas. Yang pasti, yang mengatakan autis itu karena ibunya waktu hamil terlalu banyak meminum air galon guna ulang itu jelas salah. Tidak ada hubungannya itu,” tukasnya.

Dokter Bernie mengatakan banyak teori yang menyampaikan penyebab-penyebab terjadinya anak autis ini, namun penyebab pastinya tetap masih belum diketahui hingga kini. “Ada yang menghubung-hubungkan dengan logam berat. Tapi sudah sering disebut ada hubungannya dengan genetik,” pungkasnya.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP juga mengatakan belum ada bukti air galon guna ulang menyebabkan penyakit kanker. Menurutnya, 90-95 persen kanker itu dari lingkungan atau environment. “Kebanyakan karena paparan-paparan gaya hidup seperti kurang olahraga dan makan makanan yang salah, merokok, dan lain sebagainya. Jadi belum ada penelitian aii galon itu menyebabkan kanker,” ujarnya. (cls)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU