2 February 2026
HomeBeritaKesehatanAktivis Soroti Risiko Gizi Anak Korban Banjir Sumatra

Aktivis Soroti Risiko Gizi Anak Korban Banjir Sumatra

SHNet – Bantuan pangan untuk korban banjir bandang di Sumatera dinilai masih perlu dibenahi. Di tengah pengungsian yang telah berlangsung lebih dari dua bulan, pemberian kental manis kepada anak-anak dan balita di wilayah bencana justru dikhawatirkan memperburuk masalah gizi dan kesehatan.

Aktivis sosial Inayah Wahid menegaskan, fase tanggap darurat seharusnya sudah bergeser dari sekadar bertahan hidup menuju pemenuhan gizi yang layak, terutama bagi kelompok rentan seperti anak dan balita. Hal tersebut ia sampaikan dalam podcast Bossmama yang dikutip dari YouTube.

“Bantuan seringkali masih berhenti pada logika survival. Padahal kalau pengungsian berlangsung lama, kita harus mulai memikirkan kualitas gizinya,” ujar Inayah. 

Sebagaimana diketahui, masih jamak ditemui bantuan pangan berupa mie instan dan kental manis, yang cenderung dapat mempengaruhi kebiasaan makan anak jika tidak disertai pemahaman akan gizi yang cukup dari masyarakat. 

Dikutip dari situs Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Kental manis  merupakan susu yang melalui proses evaporasi atau penguapan dan umumnya memiliki kandungan protein yang rendah. Selain diuapkan, susu kental manis juga diberikan gula tambahan. Penambahan gula pada produk kental manis berfungsi sebagai pengawet agar produk dapat tahan lebih lama. 

Tambahan gula tersebut menyebabkan susu kental manis memiliki kadar protein rendah dan kadar gula yang tinggi. Kadar gula tambahan pada makanan untuk anak yang direkomendasikan oleh WHO tahun 2015 adalah kurang dari 10% total kebutuhan kalori.

Daripada mengirim kental manis, Inayah mendorong para pemberi bantuan untuk menyalurkan susu yang sesuai atau memilih makanan berbasis real food yang lebih aman dan bernilai gizi.

“Kental manis itu bukan susu. Daripada mengirim kental manis, lebih baik mengirim susu yang memang sesuai atau memilih makanan real food yang lebih aman,” ucap Inayah Wahid.

Ia pun mengajak seluruh pihak—pemerintah, relawan, hingga masyarakat—untuk lebih waspada dan selektif dalam menyalurkan bantuan pangan di daerah bencana, agar kebutuhan gizi para penyintas, khususnya anak-anak, dapat terpenuhi secara optimal.

 “Sekarang sudah banyak makanan kemasan yang sebenarnya real food. Itu bisa jadi pilihan dibandingkan produk yang tinggi gula atau minim nilai gizi,” ungkap Inayah.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU