11 July 2026
HomeMegapolitanDikukuhkan Sebagai Guru Besar UNJ, Hidayat Humaid Angkat Prestadi Panahan Indonesia di...

Dikukuhkan Sebagai Guru Besar UNJ, Hidayat Humaid Angkat Prestadi Panahan Indonesia di Pentas Dunia

SHNet, JAKARTA – Prof. Dr. Drs. Hidayat Humaid, M.Pd resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar oleh Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof. Dr. Drs Komarudin M.Si di Gedung Dewi Sartika Kampus A Rawamangun Muka, Jakarta Timur, Kamis 9 Juli 2026.

Ketua Umum KONI Provinsi DKI Jakarta ini dikukuhkan bersama dua Guru Besar lainnya dari disiplin ilmu berbeda. Prof. Dr. Wesnina, M.Sn dari bidang ilmu Desain Busana dan Prof. Dr. Imam Basori, M.T dari bidang ilmu Teknik Metalurgi.

Hidayat Humaid yang tampil sebagai orang pertama memaparkan orasi ilmiahnya tentang Prestasi Panahan Indonesia di Pentas Dunia menjelaskan kalau dalam lanskap olahraga global yang semakin kompetitif, sukse prestasi olahraga suatu bangsa di panggung dunia tak hanya ditentukan oleh bakat alamiah atau keunggulan antropometrik populasi, melainkan oleh kualitas sistem pembinaan yang berbasis ilmu pengetahuan.

“Literatur kebijakan olahraga menunjukkan bahwa prestasi internasional merupakan hasil dari interaksi kompleks antara strategi nasional, pengembangan pelatih, dukungan sport science, serta tata kelola organisasi yang profesional,” kata pria kelahiran Sukabumi 10 Februari 1963 ini.

Ia menyebut negara-negara yang konsisten meraih medali dalam cabang-cabang olahraga tertentu, tak selalu punya keunggulan biologis populasi, tapi yang mampu membangun sistem pembinaan jangka panjang yang terintegrasi dan berbasis data.

Dalam konteks inilah, kepelatihan panahan punya relevansi strategis bagi Indonesia. “Panahan adalah cabang olahraga akurasi yang menempatkan kontrol neuromotorik, stabilitas postural, konsistensi teknik, dan kontrol psikologis sebagai determinan utama performa. Berbeda dengan cabang olahraga yang sangat dipengaruhi oleh tinggi badan, panjang tungkai, atau massa otot tertentu, panahan membuka ruang kompetitif yang lebih luas bagi bangsa Indonesia yang memiliki karakteristik antropometri yang tidak terlalu tinggi dan besar,” lanjutnya.

Hidayat Humaid yang juga dosen tetap di UNJ saat menyampaikan orası ilmiahnya. (SHNet/Nonnie Rering).

Dosen tetap di UNJ ini mengaku mulai tertarik memilih panahan sebagai disertasi keilmuannya sejak panahan menjadi cabang olahraga pertama Indonesia meraih medali perak di Olimpiade Seoul 1988.

Saat itu Trio Srikandi Indonesia, Nurfitriana Saiman, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardani meraih medali perak. Bahkan pada Sidang Terbuka yang berlangsung Kamis pagi 9 Juli 2026, salah seorang Trio Srikandi Medali Perak Olimpiade Seoul 1988, Nurfitriana Saiman juga hadir memenuhi undangan Prof. Dr. Drs. Hidayat Humaid, M.Pd

Dalam orasi ilmiahnya Hidayat menyampaikan kalau panahan memiliki karakteristik berbeda, karena keberhasilan lebih ditentukan oleh akurasi, konsistensi teknik, stabilitas postural, Kontrol neuromotorik dan faktor psikologis seperti fokus, pengendalian emosi, dan stabilitas perhatian sangat memengaruhi performa atlet. Bukan ukuran tubuh ekstrem.

Hal inilah menurutnya membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk berprestasi melalui kualitas sistem pelatihan dan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi keolahragaan.

Lebih jauh Hidayat memaparkan, potensi Demografis dan Sosiokultural Indonesia dalam Panahan adalah Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar dengan dominasi usia muda, sehingga menyediakan basis luas dalam proses pencarian dan pembinaan atlet. Bonus demografi ini memberikan peluang untuk mengembangkan lebih banyak talenta olahraga sejak usia dini.

Hidayat Humaid (kedua Dari kiri) bersama dua rekannya yang juga dikukuhkan sebagai guru besar dan rektor bersama asisten rektor UNJ. (Dok/SHNet).

Apalagi panahan juga memiliki jejak historis dan budaya dalam berbagai tradisi masyarakat, yang dapat menjadi landasan dalam membangun minat dan partisipasi olahraga. Dengan dukungan sistem pembinaan yang baik, potensi demografis dan budaya tersebut dapat menjadi modal strategis dalam pengembangan prestasi panahan nasional.

Karena itu, kata Hidayat, dengan memanfaatkan bonus demografi dan nilai budaya yang mendukung, serta memperbaiki sistem pembinaan dan akses fasilitas, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan panahan sebagai cabang olahraga unggulan dunia.

Mmenurutnya ada tiga Strategi Pembinaan Berbasis Long-Term Athlete Development (LTAD). Yakni pertama prestasi olahraga tidak dapat dicapai secara instan, tetapi melalui proses pembinaan jangka panjang yang sistematis dan berkelanjutan.

Kedua, menekankan pentingnya pembinaan sesuai dengan tahap perkembangan fisik, psikologis, dan keterampilan atlet. Ketiga, setiap tahap perkembangan atlet membutuhkan pendekatan latihan yang berbeda, mulai dari pengenalan olahraga, pengembangan keterampilan dasar, hingga tahap prestasi tinggi.

“Pendekatan LTAD ini membantu memastikan bahwa potensi atlet berkembang secara optimal dan berkelanjutan. Sistem pembinaan yang terstruktur memungkinkan atlet mencapai puncak performa pada usia kompetitif yang tepat.

Ia mengatakan dengan dukungan kebijakan nasional dan sistem pembinaan yang terarah, panahan dapat menjadi cabang olahraga unggulan Indonesia di tingkat dunia.   (Non)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU