30 January 2026
HomeBeritaKesraIPI Gelar Bedah Buku dan Seminar Literasi Nasional, Dorong Membaca sebagai Kebutuhan...

IPI Gelar Bedah Buku dan Seminar Literasi Nasional, Dorong Membaca sebagai Kebutuhan Publik

SHNet, Jakarta – Pengurus Pusat Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) menggelar Bedah Buku dan Seminar Literasi Nasional bertajuk “Bersama Kutubuku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” di Ruang Teater Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia, Jakarta, Selasa (28/1/2026).

Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional, Dr. Joko Santoso menjelaskan, peluncuran dan bedah buku hari ini merayakan upaya kita bagaimana membaca itu sebagai sabuk dalam mempersiapkan generasi penerus ketika menyambut Indonesia emas 2045.

“Pada saat ini, secara demografi ada perubahan dan mereka lahir di masa digital. Perilaku dan cara manfaatkan informasi jelas berbeda,” ujarnya.

Ia menambahkan, sebuah riset menyebutkan minat membaca masyarakat Indonesia merosot. Oleh sebab itu, kita harus menghidupkan literasi dimulai dari lingkungan keluarga dan memberdayakan perpustakaan sekolah.

“Menumbuhkan minat baca sejak dini, dimulai dari kalangan keluarga. Selain itu memberdayakan perpustakaan sekolah. Sekolah jadi pusat pembelajaran dengan membaca,” tutur Joko.

Rektor Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Prof. Dr.  Komarudin melihat kondisi literasi khususnya minat baca di Indonesia memprihatinkan karena pengaruh visual.

“Oleh sebab itu, minat baca harus dimulai sejak usia dini. Usia dini ada di keluarga dan sekolah. Bangun rasa ingin tahu sejak dini. Kalau anak-anak sejak dini dipancing rasa ingin tahu, dia akan menjelajah

Melihat kondisi literasi minat baca di Indonesia memprihatinkan karena pengaruh visual. Usia dini ada di keluarga dan sekolah. Bangun rasa ingin tahu. Kalau anak2 sejak dini dipancing rasa ingin tahunya, dia akan menjelajah,” ungkapnya.

UNJ sendiri, lanjut Prof. Komarudin, turut berperan mendukung program Perpustakaan Nasional lewat program kemahasiswaan dan pemberdayaan masyarakat.

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan pegiat literasi, akademisi, dan praktisi. Hadir sebagai pembicara utama Mia Marianne serta Siti Ma’rifah, yang membahas peran buku dan literasi dalam membentuk cara berpikir kritis di tengah tantangan era digital.

Selain pembicara utama, empat penulis buku “Bersama Kutubuku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” turut memaparkan gagasan mereka.

Para penulis tersebut adalah Komaruddin, Joko Santoso, Antoni Ludfi Arifin, dan Joko Nugroho, yang menyoroti pengalaman personal dan refleksi intelektual tentang makna membaca dalam perjalanan hidup dan profesi.

Kegiatan ini dihadiri jajaran pengurus pusat IPI serta perwakilan pustakawan dari berbagai wilayah. Diskusi berlangsung interaktif, dengan peserta aktif menyampaikan pandangan dan pertanyaan seputar tantangan literasi, peran pustakawan, serta relevansi buku di tengah derasnya arus informasi digital.

Buku “Bersama Kutubuku: Mengunyah Buku, Melahap Ilmu” yang diterbitkan oleh Perpusnas Press menjadi fokus utama dalam sesi bedah buku. Karya yang terdiri atas tujuh bab dan dapat diakses secara gratis melalui aplikasi iPusnas ini dinilai sebagai kontribusi nyata dalam mendorong budaya baca dan memperluas akses pengetahuan bagi masyarakat.

Dalam salah satu sesi diskusi, Joko Santoso menekankan bahwa membaca bukan aktivitas sederhana yang bisa dijelaskan secara hitam-putih. “Mengapa orang membaca dan perlu membaca tidak bisa dijawab hanya dengan ya atau tidak. Diperlukan narasi untuk memperkuat argumen dan memberi daya sugesti agar membaca menjadi kesadaran,” ujarnya.

Diskusi juga mengulas peran buku dalam membentuk pemikiran tokoh-tokoh bangsa. Membaca, menurut para narasumber, menjadi fondasi intelektual yang membangun karakter dan pandangan hidup para pemimpin besar Indonesia.

“Membaca bagi mereka bukan sekadar hobi, tetapi pembentuk identitas. Buku yang dibaca menjadi dasar lahirnya gagasan besar dan keberanian untuk membawa perubahan,” ujar Joko Santoso. Ia mencontohkan kisah Mohammad Hatta yang membawa buku ke penjara dan menjadikan buku sebagai mahar pernikahan sebagai simbol kecintaan mendalam pada ilmu.

Selain diskusi literasi, kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman antara Ketua Umum IPI dan Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas pustakawan dan mendukung percepatan program literasi nasional.

Seminar ditutup dengan ajakan untuk menjadikan membaca sebagai kebutuhan hidup, bukan sekadar pengisi waktu luang. “Setiap buku selalu menawarkan hal baru. Jawaban atas persoalan bisa ditemukan dalam satu buku atau dari gabungan banyak buku. Kuncinya adalah terus membaca dan mencintai ilmu,” pesan yang disampaikan kepada seluruh peserta.

Kegiatan ini menegaskan komitmen IPI dalam mendukung agenda prioritas Perpustakaan Nasional RI, khususnya menjadikan perpustakaan sebagai kekuatan strategis dalam meningkatkan budaya literasi masyarakat Indonesia. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU