2 February 2026
HomeBeritaKesraKecakapan Digital di Bidang Ekraf Ciptakan Iklim Bisnis

Kecakapan Digital di Bidang Ekraf Ciptakan Iklim Bisnis

SHNet, Pontianak — Perkembangan media digital telah mengubah banyak aspek kehidupan, mulai dari sosial-budaya hingga ekonomi.

Meski ada efek buruk seperti munculnya hoaks, ujaran kebencian, dan penipuan online, namun banyak juga peluang yang dihadirkan. Salah satunya yaitu peluang bisnis di bidang ekonomi kreatif.

Baik pelaku usaha maupun pengguna internet pada umumnya tetap wajib meningkatkan kecakapan digital dan berpikir kritis agar terhindar dari dampak buruk ruang digital.

Demikian yang mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan secara hibrid bertema “Creative Mind Behind Society 5.0” oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi, di Pontianak, Sabtu.

Hadir sebagai narasumber adalah Bendahara RTIK Kalbar Ira Dwi Lestari; Kepala Bidang Komunikasi Publik Provinsi Kalbar Maria Wijayanti; Relawan Mafindo Pontianak Eko Akbar Setiawan; relawan TIK Wilayah Kalbar Rahmad Widyo Utomo; serta Direktur Yale Communication Ferianto.

Selain sejumlah narasumber tersebut di atas, acara ini juga diramaikan oleh kehadiran key opinion leader (KOL) nasional Endah Widiastuti, artis stand up comedy Yono Bakrie, dan penampilan grup band Endah N Rhesa. Selaku MC acara tersebut adalah Meme Daeng.

Asisten Administrasi dan Umum Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat Drs Alfian MM, dalam pidato sambutannya, mengatakan, era society 5.0 mengusung konsep bahwa teknologi adalah bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Artinya, internet tidak hanya berguna untuk sarana berbagi informasi dan analisis data, tetapi juga untuk menjalani kehidupan.

Society 5.0 merupakan sebuah solusi yang akan membawa masyarakat menjadi lebih berdaya dalam pemanfaatan teknologi dan dalam transformasi digital. Dengan kata lain, perlu ada keseimbangan antara peran manusia dan masyarakat dengan teknologi.

“Hal ini perlu diimbangi dengan kapasitas digital yang mumpuni agar masyarakat dapat memanfaatkan teknologi digital secara produktif, bijak, dan tepat guna.

Untuk itu diperlukan kolaborasi yang baik agar tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam percepatan transformasi digital ini. Ada tiga syarat bagi setiap individu di era society 5.0, yaitu kreativitas, berpikir kritis, serta komunikasi dan kolaborasi,” ujar Alfian.

Dalam paparannya, Maria mengungkapkan bahwa era baru bergerak begitu cepat. Setelah era 4.0, sekarang Indonesia menuju era 5.0.

Imbasnya adalah lapangan pekerjaan yang menyesuaikan kebutuhan saat ini. Era 5.0 mengusung konsep bahwa semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri. Dari sisi pemerintah, era 5.0 mengampu proses digitalisasi layanan publik yang selama ini belum optimal karena pengembangan yang belum terstandarisasi dan belum terkoordinasi satu sama lain.

“Bagi masyarakat, era 5.0 memiliki peran dalam menghadirkan lingkungan yang kondusif bagi anak-anak untuk tumbuh dan berkembang secara alamiah yang terbingkai oleh nilai-nilai humanisme masyarakat.

Yang dibutuhkan agar masyarakat Indonesia siap menghadapi society 5.0 adalah ketersediaan sarana dan prasarana; kapasitas sumber daya manusia; serta literasi digital untuk menuju Indonesia cakap digital,” ucap Mira.

Dalam webinar tersebut, Ira Dwi Lestari membawakan materi kecakapan digital dengan tema ‘Pentingnya Digital Skill dalam Menghadapi Era 5.0’.

Menurut Ira, individu yang cakap bermedia digital dinilai mampu mengetahui, memahami, dan menggunakan perangkat keras dan lunak dalam lanskap digital, mesin pencari, aplikasi percakapan, media sosial, dompet digital, loka pasar, dan transaksi digital. Hard skill penting dimiliki untuk membantu pekerjaan teknis. Sedang soft skill diperlukan karena berkaitan dengan kepribadian seseorang.

“Keuntungan memiliki digital skill adalah bisa menjadi ahli atau pakar, memiliki kompetensi dalam usaha maupun pekerjaan yang berkaitan dengan ruang digital, punya banyak peluang pendapatan, dan bisa menyuarakan pendapat.

Sebaliknya, kerugian tidak punya digital skill yaitu kurang berdaya saing dan SDM tidak berkembang,” kata Ira.

Masih membahas tentang kecakapan digital, Eko Akbar Setiawan membagikan tema ‘Cakap Bermedia Digital: Tantangan dan Peluang di Era Digital (Sektor Pariwisata dan Ekraf)’. Saat ini masyarakat semakin nyaman dan percaya melakukan aktivitas lewat platform digital. Namun dalam menggunakan media digital, seseorang dituntut untuk bisa berpikir kritis yaitu berpikir rasional, detail, objektif, mempertimbangkan konsekuensi dan risiko, serta mau mengembangkan keterampilan.

“Cara berpikir kritis perlu dilakukan karena banyak muncul hoaks, provokasi, ujaran kebencian, kebocoran data, penipuan, intoleransi, serta kejahatan siber dalam bentuk lain.

Cakap digital juga diperlukan karena saat ini dunia pemasaran telah mengalami transformasi dari pasar tradisional menjadi online shopping. Di bidang ekraf, media digital memang memberikan dampak positif seperti menciptakan iklim bisnis dan citra pada suatu kawasan,” ujar Eko.

Terkait budaya digital, Rahmad Widyo Utomo memaparkan dengan judul ‘Pengaruh Transformasi Digital untuk Kehidupan di Era 5.0: Budaya Bermedia Digital’.

Perkembangan digital mengubah budaya, antara lain menipisnya kesopanan dan kesantunan, minimnya pemahaman akan hak-hak digital, batas-batas privasi, dan pelanggaran hak cipta dan kekayaan intelektual. Selain itu juga kebebasan berekspresi yang kebablasan dan berkurangnya toleransi menjadi tantangan budaya digital. Menurut Rahmad, dalam konteks bermedia digital, budaya yang harus dibangun yakni berlandaskan nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Bagaimana cara mengembangkan konten positif, kreatif, dan viral tanpa kehilangan moral? Kuncinya adalah bijak, tidak sebar hoaks, dan beretika. Selain hak, ada tanggung jawab digital bagi pengguna media digital, yaitu menjaga hak atau reputasi orang lain, dan menjaga keamanan nasional, ketertiban masyarakat, atau kesehatan dan moral publik,” jelas Rahmad.

Ferianto menambahkan, ruang lingkup budaya bermedia digital ini meliputi empat hal: budaya digital, budaya Pancasila; digitalisasi budaya; mencintai produk dalam negeri; serta hak-hak digital. Contoh aksi nyata yang bisa dilakukan yaitu menggalang solidaritas atau gerakan sosial selama pandemi lewat media sosial.

“Dunia digital adalah dunia kita sekarang ini. Marilah mengisinya dan menjadikannya sebagai ruang yang berbudaya, tempat kita belajar dan berinteraksi, tempat anak-anak kita bertumbuh kembang, sekaligus tempat di mana kita sebagai bangsa hadir dengan bermartabat,” imbuh Ferianto.

Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.

Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.

Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU