SHNet – Bantuan masih didominasi makanan instan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi balita dan anak-anak seperti kental manis. Hal itu dinilai makin memperburuk situasi krisis yang sedang dialami oleh anak-anak korban terdampak bencana.
Primary Health Care Manager CISDI, Maria Kartika, mengatakan persoalan menjadi semakin serius ketika produk seperti susu kental manis ikut masuk dalam paket bantuan. Pasalnya, produk tersebut mengandung gula yang tinggi dan tidak memenuhi kebutuhan protein serta mikronutrien yang penting bagi tumbuh kembang anak.
“Pemberian susu kental manis pada balita, terutama dalam situasi krisis, justru dapat memperburuk status gizi. Ini bukan susu untuk anak,” kata Maria.
Diketahui, kental manis menjadi salah satu produk yang umum diberikan kepada korban terdampak bencana. Produk ini kerap disalurkan bersamaan dengan bantuan pangan siap saji lainnya, seperti mie instan oleh banyak pihak.
Maria menegaskan kental manis bukan merupakan susu yang diberikan kepada anak. Dilansir dari laman halodoc, kandungan susu pada kental manis sangat minim, berbanding terbaik dengan gula yang mencapai 50 persen. Hal itu membuat kental manis tidak direkomendasikan kepada anak karena berpotensi mengakibatkan penyakit tidak menular.
“Penting ditegaskan bahwa susu kental manis tidak dapat dikategorikan sebagai susu untuk anak, terlebih balita,” ucap Maria.
Lebih lanjut, Maria menyebut kebiasaan konsumsi mengonsumsi pangan instan daapat mengubah kebiasaan dalam jangka waktu yang lama. Maka dari itu, ia menekankan perlu adanya strategi transisi yang jelas agar preferensi makanan terutama bagi anak tidak berubah.
”Jika makanan instan menjadi sumber pangan utama selama berminggu-minggu, pola makan ini dapat terbawa hingga fase pasca bencana, terutama pada anak-anak, yang preferensi makannya masih mudah dibentuk,” katanya.
Oleh karena itu, Maria mendorong agar pemenuhan gizi anak dijadikan prioritas utama dalam penanganan bencana. Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki sejumlah pedoman terkait perlindungan kelompok rentan, namun implementasi di lapangan masih belum konsisten.
“Tantangannya bukan hanya menyediakan makanan, tetapi memastikan bantuan tersebut benar-benar melindungi tumbuh kembang anak dan tidak meninggalkan dampak jangka panjang,” ujar Maria.

