Oleh: Pendeta Victor Rembeth
Pada tanggal 14 April 2026, di Desa Tolang Julu, Kecamatan Sayur Matinggi Kabupaten Tapanuli Selatan diselenggarakan peletakan baru pertama Rumah Bersama Indonesia. Bangunan yang dibangun di lokasi Hunian Sementara warga penyintas bencana yang akan ditingkatkan menjadi Hunian Tetap ini berupa aula yang akan dipakai untuk kegiatan bersama seluruh warga.
Kata bersama m bukan hanya bermakna pemakaian gedung itu, tetapi dimulai dari pembangunan yang dilaksanakan secara bersama. Yayasan Kristen Penabur dari Jakarta mendonasikan dana pembangunan yang kemudian difasilitasi oleh Yayasan Katolik Karitas Indonesia, di lokasi yang akan di bangun bersama dalam areal Hunian dan Rumah Ibadah oleh lembaga zakat Rumah Zakat Indonesia.
Ini merupakan sebuah kolaborasi bersama yang indah, dimana tanah diberikan oleh kepala desa dan pembangunan difasilitasi oleh negara melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia. Sebuah kebersamaan yang apik sebagai wujud rasa dan karsa kemanusiaan berbela rasa dengan warga penyintas bencana yang sekaligus menunjukkan indahnya kebhinekaan.
Hal ini menjadi manifestasi dari istilah vertizontal, yang dipopulerkan oleh Kepala BNPB pertama, Syamsul Maarif. Ini adalah sebuah pemaknaan kerja bersama semua pihak baik secara vertikal, pemerintah pusat sampai ke desa, dan semua pihak masyarakat secara horisontal antar suku, agama dan lembaga menghadirkan kemanusiaan dalam kebencanaan.
Dalam hal inilah masyarakat yang diwakili oleh Kepala Desa Fuad Daulay merasakan hadirnya negara yang majemuk dalam kekhasan masyarakat yang Islami ketika bersama dalam aksi nyata keberagaman.
Untuk itu, Direktur BNPB Nelwan Harahap, sebagai penanggung jawab Kabupaten Tapanuli Selatan, menyatakan, “Rumah ini menyimpulkan keberagaman Bangsa, sekaligus tetap konsisten dengan keimanan masing-masing”. Sebuah sapaan yang menjadikan warga Tolang Julu tidak merasakan kesendirian dan memiliki saudara yang berbeda tapi saling memperhatikan.
Anggota Unsur Pengarah BNPB, Pdt Victor Rembeth, yang sekaligus mewakili Yayasan Penabur, menyatakan bahwa karya ini, “menunjukkan kasih sesama manusia yang melewati batas suku, agama atau apapun, sehingga Yayasan Penabur dapat berkarya bersama dengan semua pihak untuk pemulihan warga Tolang Julu”. Praktik baik yang menjadi etalase kemanusiaan dan sekaligus memantapkan rasa keindonesiaan dalam bencana.
Dalam pemulihan Bencana berlaku adagium, “Pulih lebih baik, lebih kuat, lebih tangguh dan berkelanjutan”. Hal inilah yang sedang dirajut dalam pembangunan Rumah Bersama Indonesia di Tolang Julu. Dari bencana ekologis yang menghancurkan semua, kebersamaan dapat dibangun kembali untuk kebaikan semua.
Penulis, Pdt Victor Rembeth, Ketua DPP PIKI Bidang Mitigasi Bencana, Komisi PRB PGI, Pengarah BNPB.

