SHNet, Jakarta – Monumen Perjuangan Rakyat Bali atau dikenal Bajra Sandhi. berdiri megah di tengah Kota Denpasar, Bali, tepatnya di area Niti Mandala, Renon, Denpasar.
Monumen itu dibangun di atas lahan seluas 13,8 hektare dengan luas gedung 4.900 meter persegi. Dinding-dindingnya dibuat dengan sistem tulang beton cor dan dilapisi dengan batuan andesit (lahar) agar tahan terhadap guncangan. Di sekitar monumen tersebut, juga terdapat jam peninggalan Belanda, tugu kilometer nol dan hotel tertua Ina Veteran Renon.
Seperti dikutip dari Antara, Monumen itu dinamai Bajra Sandhi karena bentuk monumen ini menyerupai lonceng para pendeta Hindu. Bajra berarti genta atau lonceng besar. Bagian atasnya terdapat periuk (kumba) yang melambangkan Guci Amerta.
Genta yang menjulang di bagian atas monumen diartikan sebagai lambang perjumpaan lingga, sisi maskulin dan yoni, sisi feminin. Lingga menjadi bangunan utamanya, sementara yoni bangunan dasarnya. Dalam falsafah Hindu, itu merupakan simbol pertemuan purusa (pria) dan radana (perempuan) yang memberikan kesejahteraan bagi kehidupan manusia.

Bangunan ini juga dilandasi oleh kisah pemutaran Mandara Giri yang bersumber dari Kitab Adi Parwa, kisah pertama dalam epos Mahabarata.
Melalui kisah pemutaran Gunung Mandara, para pencetus monumen Bajra Shandi berpesan kepada generasi muda bahwa keberhasilan hanya dapat dicapai dengan kerja keras, ketekunan, keuletan dan gotong royong. Demikian pula bangunan yang berbentuk segi delapan melambangkan kekuasaan Tuhan yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa).
Setiap sisi bangunan ini memiliki dasar falsafahnya sendiri-sendiri. Hal ini dapat dilihat dari 17 anak tangga yang ada di pintu utama, 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter.
Angka tersebut merujuk pada perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah sehingga dapat merdeka pada 17 Agustus 1945. Secara horisontal monumen itu berbentuk bujur sangkar yang mengacu pada Konsep Tri Mandala.
Pertama, Nista Mandala (jaba sisi) diwujudkan dalam bentuk pelataran luar yang mengelilingi monumen yang dilengkapi dengan jalan setapak, taman, tempat duduk dan lintasan serta lapangan untuk kegiatan olahraga. Kedua, Madia Mandala (jaba tengah) yang berada dilapis kedua diwujudkan dalam bentuk pelataran yang dikelilingi oleh pagar bangunan dilengkapi pintu gerbang (Candi Bentar) pada keempat sisinya. Ketiga, Utama Mandala (jeroan) merupakan inti bangunan yang dikelilingi oleh telaga, jalan setapak dan bale bengong pada setiap sudut.
Secara vertikal, bangunan ini mengambil konsep Tri Angga. Pertama, Nistaining Utama Mandala adalah lantai gedung monumen terbawah. Pada bagian ini terdapat ruang informasi, ruang pameran, ruang rapat, perpustakaan, pusat cendera mata dan toilet. Kedua, Madianing Utama Mandala adalah lantai kedua berisi 33 diaroma, yaitu tempat pemajangan miniatur Perjuangan Rakyat Bali dari masa ke masa. Ketiga, Utamaning Utama Mandala adalah lantai teratas dimana wisatawan dapat melihat pemandangan kota Denpasar.
Monumen ini, didesain oleh seorang generasi muda bernama Ida Gede Yadnya yang masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Udayana, Denpasar. Dia mengalahkan para arsitek seniornya pada sayembara yang dilakukan pada tahun 1981.
Setelah sayembara rancangan dan gambar, monumen Perjuangan Rakyat Bali mulai dibangun Agustus Tahun 1988 melalui anggaran pemerintah provinsi Bali. Pembangunan monumen ini sempat mengalami hambatan karena depresiasi uang rupiah tahun 1997. Pada tahun 2001, barulah bangunan ini selesai dibangun
Pada 14 Juni 2003, Presiden Megawati Soekarno Putri meresmikan Monumen Perjuangan Rakyat Bali bersamaan dengan pembukaan Pesta Kesenian Bali. Sejak saat itulah, monumen ini dibuka untuk umum.(Victor)

