SHNet, Palangkaraya– Keterampilan pengguna internet perlu ditingkatkan agar dampak-dampak negatifnya seperti penyebaran hoaks dan ujaran kebencian, bisa ditekan.
Untuk itu, diperlukan landasan dalam berinteraksi di ruang digital.
Sebagai warga negara Indonesia, nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika semestinya tidak dilupakan.
Hal itu menjadi pembahasan dalam webinar bertema “Pemuda Berkarakter Pancasila dalam Dunia Digital” yang dipandu oleh Nesya Sastrawijaya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kemarin.
Webinar yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi ini menghadirkan narasumber co-founder sekaligus CEO Bicara Project, Rana Rayendra; RTIK Kalimantan Timur, Ratna Sari; dan Pandu Digital Indonesia Badge Merah, Muhammad Mikail Karimov.
Rana Rayendra mengatakan, cakap digital meliputi pengetahuan, memahami, dan mampu menggunakan perangkat keras dan lunak, mesin pencari, media sosial, aplikasi percakapan, hingga bertransaksi di loka pasar dengan dompet digital.
Kecakapan digital harus dibarengi dengan karakter berbangsa dan berbudaya, yaitu dengan memegang nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Sila pertama mengajarkan cinta kasih. Sila kedua mengajarkan nilai kesetaraan. Sila ketiga mewujudkan harmoni. Sila keempat membawa nilai demokratis. Dan sila kelima adalah gotong royong.
“Bagaimana caranya agar bisa mewujudkan nilai-nilai tersebut di ruang digital? Jadilah kreatif di internet. Pertama yakni, kuasai produk digital. Posting konten yang bermanfaat. Kembangkan konten, dan update produk digital. Kreatif di internet akan menjadikan kita positif di internet yaitu mengonsumsi konten baik, menahan postingan negatif, dan tidak mengakses konten ilegal,” kata Rana.
Terkait etika digital, Ratna Sari memaparkan, dunia maya atau ruang digital sebenarnya tidak ada bedanya dari dunia nyata. Kita berinteraksi dengan orang dengan latar belakang budaya yang berbeda, bahkan tidak hanya dari satu negara, tetapi juga antarnegara.
Interaksi ini menciptakan standar baru tentang etika. Maka dari itu, diperlukan netiket di ruang digital sebagai panduan berinteraksi dan menciptakan kolaborasi. Adapun ruang lingkupnya meliputi kesadaran, tanggung jawab, integritas, dan kebajikan.
Salah satu netiket yang penting dijaga adalah tidak menyebar konten negatif, yang menurut UU ITE berarti konten yang melanggar kesusilaan, perjudian, pencemaran nama baik, pemerasan, hoaks, dan ujaran kebencian.
“Jika kita menemukan konten negatif, bagaimana tindakan kita? Analisis, verifikasi, tidak perlu mendistribusikan, dan produksilah hanya konten yang bermanfaat,” kata Ratna.
Pada sesi terakhir, Muhammad Mikail Karimov menerangkan, masyarakat sudah siap dengan teknologi, namun keterampilannya masih harus terus diasah.
Dalam mengakses informasi dan mengunggah konten, netizen perlu memperhatikan kaidah-kaidah. Perlu menyeleksi informasi dari internet, tidak menelan mentah-mentah, dan tidak menyebar hoaks.
Selain itu, saling menghargai antar pengguna internet juga diperlukan dalam interaksi di ruang digital.
“Bagaimana sih caranya menjadi pemuda yang Pancasilais di internet? Pertama, berpikir kritis. Kedua, cerdas menyeleksi konten hingga akun media sosial. Dan terakhir, gotong royong berkolaborasi mengampanyekan literasi digital,” pungkasnya.
Dengan hadirnya program Gerakan Nasional Literasi Digital oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI diharapkan dapat mendorong masyarakat menggunakan internet secara cerdas, positif, kreatif, dan produktif.
Kegiatan ini khususnya ditujukan bagi para komunitas di wilayah Kalimantan dan sekitarnya yang tidak hanya bertujuan untuk menciptakan Komunitas Cerdas, tetapi juga membantu mempersiapkan sumber daya manusia yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0.
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama GNLD Siberkreasi juga terus menjalankan program Indonesia Makin Cakap Digital melalui kegiatan-kegiatan literasi digital yang disesuaikan pada kebutuhan masyarakat. (Stevani Elisabeth)

