30 May 2026
HomeBeritaBenny Susetyo: Hormati Keberagaman Bukti Nyata Laksanakan Konstitusi

Benny Susetyo: Hormati Keberagaman Bukti Nyata Laksanakan Konstitusi

Jakarta –Staff Khusus Dewan Pengarah BPIP Antonius Benny Susetyo menyatakan, merawat keberagaman seharusnya menjadi ppirit dari peraturan dan kebijakan yang dibuat Pemerintah maupun para cendekiawan. Penghormatan terhadap merupakan bukti nyata pelasanaan konstitusi.

Hal itu disampaikan dalam diskusi Konstitusi Merawat Toleransi Beragama di Indonesia, Senin (10/10/2022). Diskusi digelar melalui zoom meeting.

Acara yang diselenggarakan Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara Dan Hukum Administrasi Negara Sumatera Utara ini antara lain menghadirkan narasumber Dr Eka NAM Sihombing, SH Mkn Ketua APT HTN- HAN Sumatera Utara dan Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo.

Menurut Benny, peraturan dan kebijakan seharusnya menjadi jawaban atas fenomena yang terjadi dalam masyarakat khususnya yang berkaitan dengan perbedaan dan keberagaman yang dimiliki Bangsa Indonesia.

Peraturan dan Kebijakan, katanya, harus menjadi jalan tengah dan solusi kepada semua pihak yang berkepentingan, bukan sebagai kendaraan kekuasaan untuk bersikap sewenang-wenang dan mau menang sendiri.

Menurutnya, hukum, peraturan dan kebijakan adalah konsensus bangsa dalam mencari jalan tengah dan jalan terbaik dalam menghadapi masalah masalah dan perbedaan perbedaan yang terjadi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Jika berkaca pada masa lalu sesungguhnya Indonesia sudah melebihi dari sekadar bertoleransi, kita tidak hanya sekadar membiarkan mereka yang berbeda dari kita untuk hidup tenang, namun kita terbiasa dan membiasakan diri untuk bersama sama merayakan perbedaan itu, bukan sebagai suatu hal yang menakutkan,” kata Benny.

Namun, katanya, perlu untuk menambah kemampuan agar mengerti dan lebih lanjut hidup berdampingan dalam perbedaan.

Menurutnya, perilaku inilah yang sesungguhnya merupakan cikal bakal dari nilai-nilai Pancasila yang bersumber dari kearifan kearifan lokal yang tidak saja menghormati perbedaan, namun merayakannya sebagai wujud rasa cinta kepada Tuhan dengan mencintai sesama manusia sebagai ciptaan Tuhan, apapun latar belakangnya.

Benny menjelaskan, seperti dijelaskan Sukarno, Bangsa Indonesia bukan dimonopoli satu unsur saja, namun berbagai unsur yang saling menyatu, beradaptasi dan senantiasa membudayakan kedamaian sehingga bisa menghindari konflik.

Cerita seperti kisah Sunan Kudus yang tidak membuat Soto dan makanan lain dari daging sapi namun menggantinya dengan daging kerbau karena mereka menghormati masyarakat Hindu pada waktu itu yang menganggap sapi adalah mahluk yang suci sesungguhnya membuktikan bahwa sejak dulu sesungguhnya nilai nilai luhur kebhinekaan yang menganggap perbedaan bukan alasan terjadinya kekerasan adalah Jiwa dari masyarakat Indonesia dan hendaknya nilai luhur itu tidak hilang lenyap dimakan waktu dan tehnologi.

“Persoalan kita saat ini dalam merawat keberagaman adalah manusia dan masyarakat saat ini dijajah oleh tehnologi yang sebenarnya adalah alat yang mempermudah hidup, teknologi digunakan untuk merusak kedamaian dalam masyarakat, dengan banyaknya hoaks, berita bohong dan berita bernuansa perpecahan serta narasi penuh olok yang merusak nilai-nilai kemanusiaan,” katanya.

Menurutnya, manusia seharusnya tidak dijajah dan digiring teknologi namun mampu memilah dan menyaring apa yang perlu dibagikan dan tidak.

Masyarakat Indonesia, jelasnya, perlu senantiasa merawat dan merayakan perbedaan dengan membangun dialog dialog dan membangun inklusivitas serta moderasi beragama agar kemajemukan yang terjadi bukan menjadi batu sandungan namun kekayaan yang dimiliki Bangsa Ini sebagai modal untuk membangun bangsa dan negara yang lebih baik.

Menjawab pertanyaan mengenai bagaimana cara menyikapi peraturan daerah yang cenderung bernuansa Agama dan diskriminatif, Benny yang juga Ahli Komunikasi politik ini, menyatakan perlu peran serta masyarakat dalam pembuatan kebijakan.

Masyarakat melalui wadah FKUB dan Kesbangpol tidak boleh tinggal diam jika politik Identitas dan peraturan bernuansa Agama yang diskriminatif coba ditanamkan oleh pihak pihak yang berusaha mengambil keuntungan dari perpecahan masyarakat.

Masyarakat hendaknya sadar bahwa menjaga dan menghormati keberagaman berarti menjaga dan menghormati konstitusi sebagai dasar berperilaku dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Merawat Toleransi
Dalam Pembukaannya Dr Eka NAM Sihombing, SH Mkn menyatakan, merawat toleransi beragama di indonesia adalah tema yang perlu dicermati bersama, karena kita bersama terikat dalam satu slogan Bhineka Tunggal Ika.

Menurutnya, Agama lahir untuk meniadakan kekacauan, karenanya agama tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan bernegara, agama mengajarkan kedamaian dan ketenangan hingga negara membutuhkan agama untuk membuat keadaan tentram dan damai.

Dia menjelaskan, manusia dan warganegara seharusnya seimbang dalam hablumminallah dan hablumminannas, sehingga diperlukan keinginan untuk saling mengenal, saling mengerti dan saling memahami karena banyak unsur yang berbeda beda dalam negara ini yang keberadaannya harus dipandang sebagai kekayaan bagi negara, bukan batu sandungan.

Manusia yang punya Tuhan tentunya akan melakukan dan berbuat yang terbaik dalam berlaku dan berkehidupan, saling memahami dan saling menolong diperlukan dalam kondisi yang beragam hingga bersama sama dapat meraih kesejahteraan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kita juga harus saling memberikan rasa aman, hindari dan jauhi benturan benturan karena kita adalah satu saudara dalam naungan negara Republik Indonesia, inilah yang harus dimengerti, dihormati dan dijalankan oleh seluruh masyarakat berbangsa dan bernegara,” katanya.(den)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU