27 May 2026
HomeOpiniDari Community Menuju Sustainable Community, Cara Astra Daihatsu Motor Menjaga Stakeholder

Dari Community Menuju Sustainable Community, Cara Astra Daihatsu Motor Menjaga Stakeholder

Oleh: Haura Asqo Balqis (*)

Kegiatan Corporate Visit mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jakarta ke PT Astra Daihatsu Motor (ADM) pada Rabu, 13 Mei 2026, memberikan gambaran bahwa CSR perusahaan saat ini tidak lagi hanya berbentuk kegiatan sosial biasa.

ADM menunjukkan bahwa CSR dijalankan sebagai bagian dari strategi stakeholder management untuk menjaga hubungan jangka panjang dengan masyarakat, pemerintah, komunitas, hingga lingkungan.

Dalam sesi pemaparan CSR yang disampaikan oleh tim CSR dan Corporate Communication ADM, perusahaan menjelaskan bahwa mereka memiliki tujuh stakeholder utama, yaitu community, pemerintah, shareholders, customers, employees, suppliers, dan environment. Ketujuh stakeholder tersebut dipetakan berdasarkan tingkat pengaruh (power) dan kepentingannya (interest) terhadap perusahaan.

Konsep tersebut sejalan dengan teori stakeholder Freeman (1984) yang menjelaskan bahwa perusahaan harus memperhatikan seluruh pihak yang dapat mempengaruhi maupun dipengaruhi oleh aktivitas perusahaan. Dalam praktiknya, ADM terlihat cukup fokus pada stakeholder komunitas atau masyarakat lokal sebagai bagian penting dari keberlanjutan perusahaan.

Dalam stakeholder mapping, pemerintah dan masyarakat lokal berada pada kategori manage closely karena memiliki tingkat pengaruh dan kepentingan yang tinggi terhadap perusahaan. Pemerintah berkaitan dengan regulasi, legalitas, dan kolaborasi program, sedangkan masyarakat lokal menjadi stakeholder yang paling dekat dengan dampak operasional maupun program CSR perusahaan.

ADM menggunakan pendekatan local community dan social mapping sebelum menjalankan program CSR. Pendekatan ini dilakukan agar perusahaan memahami kebutuhan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan sehingga program yang dijalankan benar-benar relevan dan memberikan dampak nyata.

Hal tersebut terlihat dalam empat pilar CSR ADM, yaitu Pintar Bersama Daihatsu, Sehat Bersama Daihatsu, Hijau Bersama Daihatsu, dan Sejahtera Bersama Daihatsu. Pada bidang pendidikan, ADM membina ratusan sekolah vokasi dan menjalankan program kelas DOJO untuk mengenalkan budaya industri manufaktur kepada siswa sekolah binaan. Pada bidang kesehatan, perusahaan menjalankan program posyandu binaan, kader kesehatan, dan mobile clinic.

Sementara itu, pada bidang lingkungan melalui program Hijau Bersama Daihatsu, perusahaan menjalankan konservasi penyu, konservasi hutan, bank sampah, penanaman pohon, hingga penggunaan solar panel. Dalam pemaparannya, ADM juga menjelaskan bahwa lingkungan ditempatkan sebagai stakeholder penting perusahaan karena berkaitan dengan keberlanjutan bisnis jangka panjang.

Pada bidang ekonomi masyarakat, ADM menjalankan pembinaan UMKM, Kampung Berseri Astra, hingga kolaborasi dengan komunitas disabilitas melalui pilar Sejahtera Bersama Daihatsu. Program tersebut menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada bantuan sosial, tetapi juga pada pengembangan kapasitas stakeholder agar dapat berkembang secara mandiri.

Selain masyarakat dan pemerintah, shareholders atau pemegang saham berada pada kategori keep satisfied karena memiliki pengaruh tinggi terhadap perusahaan. Stakeholder ini dijaga melalui laporan pencapaian perusahaan, keberhasilan program CSR, dan jumlah penerima manfaat program.

Sementara itu, stakeholder seperti sekolah binaan, UMKM, pelanggan, supplier, dan karyawan berada pada kategori keep informed karena memiliki kepentingan tinggi terhadap perusahaan sehingga perlu terus dilibatkan dalam berbagai program maupun komunikasi perusahaan. ADM sendiri aktif menjaga hubungan stakeholder ini melalui pembinaan, pelatihan, kolaborasi program, dan publikasi kegiatan CSR perusahaan.

Media dan publik umum berada pada kategori monitoring. Walaupun tingkat keterlibatannya tidak setinggi stakeholder utama, kelompok ini tetap penting karena dapat mempengaruhi opini publik terhadap reputasi perusahaan.

Jika dianalisis menggunakan tipologi stakeholder Mitchell et al. (1997), pemerintah dapat dikategorikan sebagai definitive stakeholder karena memiliki power, legitimacy, dan urgency sekaligus. Masyarakat lokal dan UMKM termasuk dependent stakeholder karena memiliki legitimasi dan kepentingan tinggi, tetapi masih membutuhkan dukungan perusahaan. Sementara media dapat menjadi dangerous stakeholder karena memiliki kekuatan dalam membentuk opini publik terhadap perusahaan.

Hal menarik lainnya adalah ADM memiliki Framework Mitra CSR Daihatsu yang menggambarkan proses pembangunan stakeholder secara bertahap. Framework tersebut dimulai dari pondasi culture, safety, dan commitment, lalu berkembang ke tahap trust, bond, skill, hingga loyalty untuk menciptakan high impact sustainable community. Framework ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya menjalankan CSR untuk kepentingan jangka pendek, tetapi juga membangun komunitas yang mandiri dan berkelanjutan bersama perusahaan.

Melalui kegiatan kunjungan ini terlihat bahwa stakeholder management menjadi bagian penting dalam strategi CSR ADM. Perusahaan tidak hanya menjaga hubungan dengan stakeholder untuk kepentingan bisnis semata, tetapi juga berusaha membangun hubungan jangka panjang yang saling memberi manfaat antara perusahaan, masyarakat, dan lingkungan.  Penulis adalah Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi UPN ‘Veteran’ Jakarta (*)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU