30 April 2026
HomeBeritaG-20 dan Kisah Orang Gila

G-20 dan Kisah Orang Gila

Oleh: Robert Bala

Malam (10/11/222), sambil berkendara, saya mengamati seseorang yang saya duga gila. Hal itu terlihat dari pakaiannya yang lusuh, sobek, dan kelihatan lembab karean terkena hujan sebelumnya. Saya tidak sempat mencium pakaiannya yang tentu saja “berbau”.

Waktu sekitar pukul 8 malam. Saya melihat dia mengorek sampah dan mengangkat keluar sebuah sterofom berisi makanan dan kemudian diisi pada tas plastiknya. Saya lalu terus melewatinya dan kemudian berhenti sekitar 100 meter mendahuluinya untuk sebuah urusan.

Karena sedikit lama berada di tempat itu, saya pun melihat “si gila” tadi melewati saya. Ia lalu berhenti di sudut sebuah agen penjual telur. Setelah memeriksa (mungkin saja ia temuakn lagi sesuatu untuk dimakan), ia lalu menyudut dan mulai melahap makanan itu. Ia makan dengan lahap makanan dari sampah.

Saya yang berada 10 meter di depannya kemudian memutar balik dan mendekatinya. Saya kemudian coba menarik perhatiannya dengan memberi sesuatu. Apa yang diberikan sangat sedikit. Saya hanya mau menarik perhatiannya karena saya yakin hanya dengan itu bisa mengajaknya berbicara. Dia pun menanggapinya dan dengan tatapannya yang tulus kami pun mulai komunikasi.

Setelah menanayakan tempat tinggal (yang dijawabnya bahwa ia selalu berpindah-pindah); bagaimana ia bisa makan dan minum (yang tidak dijawabnya tetapi hanya menatap dengan tatapan kosong).

Saya lalu menanyakan siapa namanya. Dia tidak menjawab beberapa lama. Mungkin saja dia tidak mau diketahui siapa namanya dan karena itu ia seakan lebih fokus pada makanannya. Saya pun mengulang pertanyaannya lagi dengan harapan dia bisa jawab meski hanya nama panggilan. Tetapi yang terjadi di luar dugaan. Ia menunjukkan sikap tidak senang dengan pertanyaan saya. Ia lalu mengulurkan tangannya sambil berusaha memulangkan uang yang saya berikan sambil berkata: “Jika dengan uang itu kamu tanya nama saya, sebaiknya diambil pulang saja uang itu”.

Saya jadi terkejut (dan malu). Saya coba memikirkan dan merasakan apa yang orang itu rasakan. Dia mungkin merasa, kalau nama adalah sebuah tanda, demikian Silliam Shakespeare, maka apalah artinya memiliki nama dan identitas kalau dalam kenyataan ia tidak diharagai identitasnya? Saya tidak tahu apakah pikiran dia sedalam itu. Tetapi dari pengembalian uang itu dapat saya rasakan apa yang menjadi pergulatannya.

Saya terdiam dan sedikit menjauh darinya biar uang yang mau dikembalikan itu saya tidak terima. Saya lalu ucapkan terimakasih dan meminta pamit. Dia tidak menjawab sepatah kata pun. Saya pergi dengan malu sambil berpikir, apakah orang itu benar-benar gila atau orang terlalu pintar menertawakan kegilaanku?

Kebhinekaan Makanan

Pertemuan yang tidak disangka-sangka itu membuat saya teringat akan data tentang sampah makanan (food waste) yang katanya menempatkan Indoinesia di posisi ke-2 di dunia.

Pada tahun 2020, Indonesia memasuki darurat sampah makanan. Bahkan 2019, telah ditunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan ke-2 penghasil sampah makanan sesudah Arab Saudi. Pada tahun 2021, Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat sampah sisa makan Indonesia mencapai 36,35 juta ton. Bayangkan.

Jumlah ini menduduk komposisi terbesar dari total sampah yang dihasilkan bahkan melebihi sampah plastik yang hanya 26,27 juta ton. Tentu ada yang berpendapat bahwa sampah makanan bisa terurai dan karena itu tidak menadi masalah lingkungan hal mana benarnya.

Tetapi bila sampah plastik efeknya baru dirasakan bertahun-tahun kemudian karena tidak terurai dan semakin bertimbun maka kematian akibat kekurangan makanan menjadi bahaya yang nyata. Ia menjadi masalah ekonomi dan sosial yang sangat mengkuatirkan. Dari segi ekonomi, sampah makanan itu setara dengan kerugian Rp 213 – 551 triliun per tahun.

Kalau kejadian ini kita hubung-hubungkan dengan pertemuan G-20 (13-16 November), maka apakah kesadaran tentang krisis pangan (dan energi) bisa menemukan sedikit jawabannya. Dengan kekuatan kolektif G-20 yang mewakili sekitar 65% penduduk dunia, 79% perdagangan global, dan setidaknya 85% perekonomian dunia, maka apay an gdilakukan di sini bisa menjadi solusi.

Yang dimaksud di sini adalah sebuah tawaran jangka pendek yang ada di tangan penduduk bumi. Jelasnya, apakah kekurangan pangan bisa diisi dengan hanya mengonsumsi apa yang seharusnya dan tidak berbelanja makanan secara berlebihan yang sisanya hanya bisa dibuang?

Kesadaran akan krisis pangan akibat pemborosan seperti ini kadang sangat minim. Pasalnya orang merasa bahwa telah membeli dari kantongnya sendiri, hal mana benar adanya. Yang tidak terpikirkan, konsumsi berlebihan di satu pihak dan kelaparan di pihak lain, cepat atau lambat menghadirkan dampak yang akan diderita bersama mengingat kita semua mendiami dunia yang sama.

Hal lain yang sangat ironis adalah penderitaan mereka yang ketiadaan makanan kadang besifat diam dan anonim. Mereka menderita dalam keheningan dan kadang meninggal pun tidak diketahui. Dalam arti ini saya bisa pahami mengapa orang gila tadi tidak memberikan namannya karena mungkin lahir dari ironi ini. Untuk apa menanyakan nama kalau mereka hanyalah objek penderita dan korban?

Sampah makanan juga pada sisi lain bisa menjadi ironi bahwa seharusnya yang menderita kelaparan tidak akan sedahsyat itu penderitaan kalau ia tahu akan kekayaan makanan yang ada di sekitarnya. Indonesia dengan luas daratan dan lautan (lautan kadang tidak masuk hitungan) menyediakan aneka makanan lokal. Kita tahu ada sagu, sorgum, ubi, pisang, buah yang dengan mudah tumbuh menyesuaikan dengan keadaan geografis. Di laut kita kelimpahan ikan dari berbagai jenis.

Lalu mengapa kita lapar? Ya, karena kita dipaksakan (dan mekaksakan diri) untuk menyempitkan arti makanan hanya pada nasi (beras padi) dan gandum. Nasi menjadi simbol penyeragaman makan di dalam negeri. Dari sabang sampai Merauke kita “bertunggal ika” mengakui nasi sebagai makanan satu-satunya dan lupa akan kebhinekaan makanan kita.

Kini dengan krisis pangan yakni berkurangnya persediaan beras yang cukup signifikan dan juga terhambatnya impor gandum, kita gigit jari. Kita tahu, kebhinekaan kita ternyata hanya ucapan manis di bibir dan tidak terejawantahkan dalam politik pangan.

G-20 yang berlangsung di Bali merupakan jawaban. Jawaban bahwa semua negara G-20 perlu membuat gerakan megnatasi sampah makanan sebagai solusi jangka pendek. Sementara itu untuk jangka menengah dan jangka panjang, kita perlu kembali kepada makanan lokal yang khasiatnya bahkan melebihi beras dan gandum.

Penulis, Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU