20 April 2026
HomeBeritaDi Balik (Cara Berikan) Hadiah Jokowi dan Ganjar

Di Balik (Cara Berikan) Hadiah Jokowi dan Ganjar

Oleh: Robert Bala

Sudah cukup sering menonton pemberian hadiah dari Jokowi. Sebagai presiden, maka model hadiahnya tentu saja menarik perhatian. Hadiah tersebut adalah sepeda.

Hadiah sepeda pertama diberikan tanggal 19 November 2014, atau sebulan sesudah jadi presiden. Dalam peringatan Hari Menanam Nasional di Desa Tempursari kecamatan Sukoharjo Jawa Tengah, Jokowi berikan sepeda. Sejak saat itu hampir di berbagai tempat ia tawarkan sepeda tentu saja setelah menjawab beberapa pertanyaan. Singkatnya sepeda adalah hadiah ‘unggulan’ dari Jokowi sebagai apresiasi terhadap jawaban atas pertanyaannya.

Ganjar Pranowo juga memiliki cara memberikan hadiah. Yang menarik, hadiah yang ditawarkan bervariasi. Terhadap seorang siswa yang telah berhasil menjawab pertanyaan dengan variasi pertanyaan dan kreativitas. Ganjar menawarkan beberapa opsi dan penerima hadiah bisa memilih. (Karena memilih maka hadiah tentu tidak bisa diberikan saat itu. Hal itu berbeda dengan Jokowi yang sudah menyiapkan hadiah dan bisa diserahkan waktu itu juga).

Bila dari cara bertanya, mengikuti Taksonomi Bloom, maka Jokowi bertanya pada tingkatan mencari pengetahuan (nama ikan, nama suku, Pancasila). Semuanya tentang hafalan. Ia bisa dikategorikan sebagai pertanyaan dengan tingkat terlihat bahwa pertanyaan Jokowi tidak saja merupakan cara berpikir tingkat rendah tetapi malah yang paling rendah.

Bagi orang berpendidikan biasanya cukup paham akan hal ini. Sebagai gambaran kita tidak hanya tanya apa dan siapa karena itu menyangkut hafalan. Sebaliknya kita perlu bertanya secara kritis agar orang bisa menjawab. Misalnya saja: mengapa ikan yang hidup di lautan yang bergelombang besar lebih enak dari laut yang hidup di laut yang tenang. Hal ini tentu membuat orang beradu argumen. Jawaban terbuka dan lebih membuka sikap kritis.

Ganjar Pranowo memiliki model bertanya yang variatif. Yang menarik dari cara memberi hadiah. Dalam dua cuplikan youtube, ia memberikan beberapa alternatif kepada yang telah berhasil menjawab pertanyaan. Apakah memilih hadiah buku atau HP? Setelah menjawab (HP tentunya). Ia masih berikan alternatif lagi. Apakah HP biasa atau smartfriend. Selanjutnya masih ada opsi juga: apakah memilih smartfriend atau laptop.

Apa yang dilakukan Ganjar dengan variasi seperti ini menyadarkan bahwa di balik hadiah terdapat beberapa makna yang bisa digali.

Pertama, hadiah dapat memperkuat hubungan satu sama lain.Sebuah hadiah akan dirasa bermanfaat karena pemberi menyesuaikan hadiahnya dengan kebutuhan dari penerima. Ia tidak memaksakan untuk harus menerima hadiah yang bisa saja disenangi oleh pemberi tetapi bukan oleh penerima. Ia tidak dipaksakan untuk harus menerima tetapi kalau bisa memberikan alternatif.

Di sini tercipta pola hubungan. Mengapa hubungan itu akan mendalam? Karena dnegan memberikan opsi maka yang diutamakan oleh pemberi adalah kondisi penerima. Ia mau memberikan sesuatu secara khusus yang disenangi dan dengan itu si penerima akan menanggapi dengan memperdlaam relasi mereka. Kita bisa bayangkan kalau saja pemberian hadiah dalam kaitan dengan sebuah permintaan maaf. Si pemberi tentu sangat selektif dalam mencari hadiah karena di balik hadiah itu ia bisa menebus perilaku bruku serta kesalahan yang pernah diperbuat. (Presiden kan tidak ada kesalahan yang mau dimintakan maaf hehee).

Singkatnya setiap hadiah itu selalu yang dibayangkan adalah reaksi penerima. Itulah yang kita buat terhadap anak yang berulang tahun. Kita tanyakan untuk dapat mereka-reka kira-kira hadiah apa yang dibutuhkan. Ia bisa berikan kode tentang hadiah dimaksud.

Kedua, hadiah merupakan salah satu bentuk komunikasi simbolik. Kita bisa bayangkan bagaimana reaksi orang yang menerima hadiah dan umpan balik apa yang diberikan. Apakah seseorang gembira atau sedih? Kadang reaksi itu tidak bisa terungkap tetapi secara non-verbal. Ketika reaksi itu muncul sesuai harapan maka kita merasa gembira. Sebaliknya ketika apa yang diberikan tidak mendatangkan reaksi seperti yang diiharapkan maka tentu saja membuat kita kecewa.

Terhadap reaksi simbolik juga tergantung pada pemberi. Biasanya sudah ada pembenaran diri di balik sebuah hadiah seperti sepeda. Ada asumsi, kalau pun dia tidak memakainya, tetapi bisa dipakai oleh orang lain. Demikian pembenaran diri. Kalau demikian maka hadiah itu diberikan karena sudah disiapkan dan bukan karena menjawabi kebutuhan. Di sana makna komunikasi simbolik itu menjadi sangat kurang. Dalam arti ini, Ganjar cukup lincah dalam memainkan simbol, sementara Jokowi kadang menjadikannya sebagai lelucuan kalau hadiah sepedanya ditolak seperti dilakukan siswa Irfan Hakim, siswa SMPN 4 Pontianak Timur. Juga ditolak oleh Ivan Afdal Riyanto saat muktamar XII Jam’iyah Ahlith Thariqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyag (Jatman) di Pendopo Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, 15 Januari 2018.

Ketiga, hadiah menunjukkan kasih saying dan perhatian. Hadiah juga melambangkan cinta dan pengabdian. Hadiah digunakan bisa saja bukan barang yang sangat berharga tetapi ia bisa mengungkapkan kasih sayang pada orang .Contoh saja orang menghadiahkan bunga, Hal itu menandakan perhatian dan kasih sayang.

Lalu bagaimana kita menilai cara memberi hadiah dari Jokowi dan Ganjar?

Pertama, untuk periode 10 tahun kita terbiasa dengan hadiah satu arah dengan hadiah tunggal. Apa yang dilakukan Pak Jokowi itu penting pada masanya. Hadiah yang diambil dari anggaran bantuan sosial presiden itu bertujuan agar menyehatkan rakyat melalui alat transportasi yang sehat yakni sepeda. Tetapi bila hal itu sudah dicapai atau minimal telah mendekati maka tentu saja model memberikan hadiah perlu lebih variatif menjawabi konteks kebutuhan masyarakat yang berubah. Singkatnya apa yang sudah baik oleh Jokowi tentu sangat dihargai tetapi tentu tidak berarti harus diulang hal yang sama (maksudnya sepeda, jangan ditafsir sebagai penolakan terhadap Gibran).

Kedua, kita berada pada zaman dengan perubahan yang sangat cepat. Heraklitus, filsuf yang hidup pada tahun 280 SM saja sudah merasakan bahwa perubahan saat itu sangat cepat apalagi sekarang. Kata dia semua tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Jadi kita tentu tidak bisa sekadar mengulang sesuatu yang sudah ada.

Singkatnya, diperlukan penyesuaian yang cepat terhadap perubahan itu dan tidak terkesan memaksakan. Di sinilah modelpemberian hadiah dari Ganjar ini bisa menjadi pertimbangan yang tentu kembali kepada masing-masing pembaca apakah masih melanjutkan sepeda dari Jokowi atau memberikan hadiah yang lebih variatif? Anda yang memutuskan.

Penulis, Robert Bala. Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik, Facultad Ciencia Politica, Universidad Complutense de Madrid – Spanyol.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU