19 May 2026
HomeLIFESTYLEIndonesia Jadi Barometer Olah Raga Layangan Aduan Dunia

Indonesia Jadi Barometer Olah Raga Layangan Aduan Dunia

SHNet, Jakarta– Persatuan Layangan Aduan Seluruh Indonesia ( PERLASI) dengan resmi telah menutup kejuaraan tingkat nasional pada Minggu (11/08/2024).

Kejurnas kali ini adalah yang kedua, setelah digelar tahun 2023 dan piala Gubernur DKI tahun 2022. Kejurnas menjadi persyaratan agar olahraga Layangan Aduan diakui KONI sebagai cabang olahraga prestasi.

Setelah melewatkan 384 slot pertandingan yang diikuti oleh 196 atlit pro player layangan aduan dari 23 provinsi, akhirnya keluarlah para juara Kejurnas Perlasi 2024 . Kejuaraan kali ini mengambil tempat di Lapangan Perlasi Rorotan, Jakarta Utara, diadakan pada tanggal 9-11 Agustus 2024.

Sistem pertandingan kejurnas ini menggunakan sistem gugur dan memperebutkan hadiah total sebesar 150 juta Rupiah yang terbagi dalam juara 1, 2, 3, 4 dan juara harapan 1-4. Juara pertama mendapatkan hadiah uang sebesar 50 juta Rupiah, juara dua sebesar  Rp 30 juta, juara ketiga Rp 20 juta dan juara keempat sebesar Rp 10 juta, juara harapan 1-2 akan mendapat hadiah sebesar Rp 5 juta  dan 12 juara lainnya mendapatkan hadiah hiburan.

“ Di partai final kali ini menelurkan juara terbaik, para juara telah konsisten, dari babak penyisihan, hingga 8 besar dan masuk final. Saya sangat puas karen para juara merupakan atlit yang terbaik, memiliki teknik dan sklill sangat baik, “ kata Essa Muhamad, ketua umum Perlasi.

“Saya berharap kejurnas akan terus diadakan tiap tahun, dan tahun depan akan ada kejuaraan Tingkat dunia, yang awalnya direncanakan tahun 2024 namun karena adanya pemilu dan pilkada, maka kami menundanya sampai tahun 2025. Semoga layangan aduan diakui secara resmi sebagai cabang olah raga oleh KONI, “ tambahnya.

Pada final Zaenal Abidin (34 tahun) dari Tim Brotherhood , Jakarta Selatan mengalahkan Muhammad Arifin (31 tahun) dari Tim Pengejar Layangan, Depok – Jawa Barat. Sebagai juara 1, Jenal, panggilan akrabnya menceritakan bahwa babak final sangat menguras tenaganya. Ia telah mengeluarkan segala skill dan kemampuan tekniknya. Walaupun suasana saat itu sore menjelang malam, namun ia dapat mengalahkan Ipin asal Depok.

Jenal berharap, “Semoga layangan aduan dapat masuk daftar cabang olah raga dalam daftar KONI dan kejurnas dapat terus dilaksanakan tiap tahun.”

Begitu juga Muhammad Arifin yang berharap kejurnas layangan aduan dapat terus terlaksana dan lebih baik lagi, “ Sayang kendala cuaca dan waktu pelaksanaan final yang menjelang malam, membuat saya bermain tidak tenang, dan terkesan terburu-buru. Namun saya tetap mengeluarkan segala kemampuan saya, “ ujar Ipin, panggilan akrabnya yang telah mengikuti berbagai lomba layangan sejak tahun 2019 ini.

Sebelumnya pada hari pembukaan kejurnas, ketua umum Perlasi Essa Muhamad telah menjelaskan bahwa kejurnas Layangan Aduan menjadi ajang pertemuan penggemar olah raga layangan seluruh Indonesia, bersilaturahmi sekaligus berkompetisi, “ Sesuai Jargon Perlasi, Di atas Jadi Lawan , di bawah jadi kawan”

“ Indonesia telah menjadi barometer olah raga layangan Indonesia aduan dunia. Pertama dari sisi teknik permainannya, kedua dari teknik pembuatan layangannya dan ketiga dari sisi produksi layangannya. Banyak UKM layangan yang telah melakukan ekspor hingga ke Brazil dan Pakistan, “ lanjut Essa Muhamad.

“ Layangan Aduan merupakan asset Indonesia baik dari sisi olah raganya maupun dari sisi ekonomi dari produksi layangan dan benangnya. Sudah saatnya pemerintah Indonesia mengakui potensi dari olah raga layangan aduan, “ tutup Essa. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU