21 April 2026
HomeBeritaFakta Terabaikan, Hasil Riset Dapati Kandungan BPA Pada Makanan Kaleng Lebih Besar...

Fakta Terabaikan, Hasil Riset Dapati Kandungan BPA Pada Makanan Kaleng Lebih Besar dari Galon

SHNet, Jakarta — Kandungan Bisphenol A (BPA) pada makanan kaleng nyatanya jauh lebih tinggi dibandingkan kemasan galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) untuk wadah air minum. Tingginya kandungan BPA pada kaleng acap kali terlupakan. Uniknya, isu berkenaan dengan BPA di Indonesia hanya fokus pada galon saja.

Berdasarkan penelitian yang dipublikasi Pubmed.gov, sebuah survei di Amerika Serikat (AS) dan Kanada menemukan BPA terkandung dalam 60–70 persen produk kaleng termasuk produk bermerek besar. Konsentrasi BPA mencapai hingga 730 nanogram/gram (ng/g) dalam sampel makanan kaleng AS, sedangkan survei Kanada mencatat tuna kaleng rata-rata 137 ng/g bahkan puncaknya hingga 534 ng/g.

Kondisi ini bukan tidak mungkin sama dengan makanan kaleng yang ada di Indonesia. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Nomor 20 Tahun 2019 telah menetapkan ambang batas BPA dalam kemasan pangan, termasuk kaleng adalah 0,6 bpj (bagian per juta) atau 600 mikrogram/kg.

Sedangkan dalam riset yang sama, migrasi BPA dari galon guna ulang berbahan polikarbonat (PC) menunjukkan konsentrasi sangat rendah, misalnya 0.128–0.145 ng/g, jauh di bawah level pada makanan kaleng. Bahkan dalam beberapa penelitian mendapati bahwa tidak terjadi cemaran BPA dari galon guna ulang ke dalam air.

Berbagai penelitian di AS dan Kanada juga mempertegas bahwa konsumsi makanan kaleng adalah jalur utama paparan BPA dibanding sumber lain seperti plastik, debu, atau thermal paper yang digunakan untuk struk tagihan. BPA dapat larut ke dalam makanan saat dipanaskan atau disimpan dalam jangka panjang.

Lebih lanjut, studi klinis oleh Harvard School of Public Health (2011) menemukan bahwa konsumsi sup kaleng selama lima hari berturut-turut dapat meningkatkan kadar BPA dalam urin peserta hingga 1.000 persen. Temuan ini menegaskan bahwa paparan BPA dari makanan kaleng bukan hanya teoretis, tapi nyata terjadi di tubuh manusia.

Ironisnya, narasi publik yang beredar di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir justru lebih banyak menyasar galon sebagai pelaku utama dalam isu BPA. Sementara, makanan kaleng yang berdasarkan banyak riset justru menjadi penyumbang terbesar paparan BPA dalam tubuh manusia hampir luput dari sorotan.

Hal ini sejalan dengan pernyataan spesialis gizi klinik dokter Karin Wiradarma. Dia menyebutkan bahwa makanan kaleng merupakan sumber utama pajanan BPA di manusia.

“Sebuah studi meneliti kandungan BPA di berbagai makanan baik makanan segar, beku, dan kaleng. Mereka menemukan BPA di 73 persen makanan kaleng. Di makanan segar dan beku sekalipun juga ditemukan BPA sebanyak 7 persen,” katanya.

Guru Besar Bidang Keamanan Pangan & Gizi di Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Institut Pertanian Bogor (IPB) Ahmad Sulaeman juga menilai bahwa kandungan BPA dalam kemasan kaleng lebih mengkhawatirkan dibanding kandungan BPA pada galon air minum.

Dia melanjutkan bahwa secara logika, makanan kaleng bisa disimpan dalam waktu yang lama di toko dan tempat penyimpanan sebelum sampai ke rumah konsumen. Bahkan masyarakat belum tentu segera mengolah makanan kaleng, tetapi disimpan lagi untuk nanti.

“Artinya kontak antara makanan dan plastik epoksi BPA tadi jadi lebih lama,” kata Ahmad. ***

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU