29 November 2025
HomeBeritaKesraKRESNA HIMPSI Gelar "Psychosocial Support" bagi Anak dan Guru Terdampak Gempa Poso

KRESNA HIMPSI Gelar “Psychosocial Support” bagi Anak dan Guru Terdampak Gempa Poso

SHNet, Poso— Gempa berkekuatan sekitar 5,8 SR mengguncang Desa Ueralulu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso pada 17 Agustus 2025, menimbulkan dampak signifikan terhadap kondisi fisik masyarakat, bangunan sekolah serta kesehatan psikologis anak-anak dan para guru.

Terkait hal tersebut, KRESNA HIMPSI, Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) menyelenggarakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak dan guru terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen, Dr. Sarjadi, 19 November 2025, di Aula BPMP Provinsi Sulawesi Tengah, sekaligus menandai dimulainya upaya terpadu untuk mendukung pemulihan psikologis penyintas bencana serta memperkuat kesiapsiagaan sekolah menghadapi kondisi darurat di masa yang akan datang.

Acara pembukaan dihadiri oleh Ketua Umum PP HIMPSI, Dr Andik Matulessy, M.Si., Psikolog dan Ketua IV PP HIMPSI, Anrilia E.M., Ningdyah, Ph.D., Psikolog, yang juga merupakan Ketua Umum KRESNA HIMPSI. Hadir pula Kepala BPMP Prov. Sulteng, Dr. Muhammad Anis, S.Si., M.Si. juga undangan dari berbagai dinas yang terkait, seperti Dinas Pendidikan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BGTK, dan Balai Bahasa.

Dalam laporannya, Direktur PKPLK menyampaikan bahwa Kemendikdasmen melibatkan HIMPSI sebagai ahli yang memahami bagaimana melihat kondisi psikologis manusia terkait peristiwa yang menimpanya.

Ketua Umum PP HIMPSI, Dr Andik Matulessy, M.Si. menjelaskan, pada 18 September 2025, HIMPSI telah melakukan pengukuran dampak psikologis pascabencana terhadap 456 siswa (316 siswa SD dan 119 siswa SMP). Hasil assessment menunjukkan:

– 54,83% mengalami kecemasan, ketegangan, dan kekhawatiran berulang

– 61,18% mudah merasa takut dalam situasi tertentu

– 14,25% sulit tidur

– 13,6% mengalami mimpi buruk dan kecemasan terkait tidur

“Temuan ini menunjukkan perlunya intervensi psikologis intensif, terutama bagi kelompok anak rentan yang membutuhkan pendampingan berkelanjutan,” ujarnya.

Kemendikdasmen bekerja sama dengan HIMPSI melalui KRESNA HIMPSI melaksanakan Psychosocial Support Program yang mencakup assessment lanjutan, kegiatan trauma healing bagi siswa, capacity building untuk guru, hingga simulasi penyelamatan diri atau Integrated Drill Procedure. KRESNA HIMPSI merupakan wadah relawan dan psikolog yang dibentuk pada 22 November 2022 untuk memberikan layanan psikologi kebencanaan, mulai dari program preventif, promotif, kuratif, hingga rehabilitatif.

Sasaran Program:

– 31 sekolah terdampak bencana

– 1.625 siswa, terdiri dari:

• PAUD: 43 siswa

• TK: 96 siswa

• SD: 1.005 siswa

• SMP: 481 siswa

– 125 guru sebagai peserta pelatihan peningkatan kapasitas dan pemberian Bantuan Psikologis Awal (BPA)

Jadwal Pelaksanaan:

– 19 November 2025 — Pembukaan di Aula BPMP Provinsi Sulawesi Tengah

– 20–21 November 2025 — Capacity Building Guru

– 23–25 November 2025 — Pelatihan siswa PAUD, TK, dan SD

– 24–25 November 2025 — Pelatihan siswa SMP

– 26 November 2025 — Pentas Seni dan Integrated Drill Procedure

Program ini melibatkan sekitar 100 psikolog dan ilmuwan psikologi yang berasal dari HIMPSI Pusat dan KRESNA, serta melibatkan kolaborasi antara 3 HIMPSI Wilayah di sekitar daerah terdampak, yaitu HIMPSI Wilayah Sulteng, Sulsel, dan Sulbar. Tim yang terlibat memiliki latar belakang keilmuan psikologi, dengan pengalaman sebagai trainer di berbagai peristiwa kebencanaan. Selain itu telah dilakukan pembekalan kepada semua tim trainer dan fasilitator agar dapat menjalankan program dengan baik.

Program dirancang secara interaktif terdiri atas materi dan games yang mengarah pada proses pemulihan psikologis penyintas dan sebagai bekal mereka untuk menghadapi berbagai krisis di masa yang akan datang.

Melalui program ini, KRESNA HIMPSI berharap dapat mendukung pemulihan psikologis penyintas bencana agar lebih tangguh dan dapat memperkuat kesiapsiagaan sekolah menghadapi kondisi darurat di masa yang akan datang bagi seluruh siswa dan tenaga pendidik di Kabupaten Poso.

Dr Andik berharap, kerjasama yang telah dilakukan dengan direktorat PKPLK dapat terus berjalan untuk membangun generasi yang tangguh dengan mendukung program pemerintah menyiapkan satuan pendidikan aman bencana. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU