3 May 2026
HomeBeritaMelongok Agrowisata Sayur Mayur di Desa Winong, Tulungagung

Melongok Agrowisata Sayur Mayur di Desa Winong, Tulungagung

SHNet, Jakarta –  Masyarakat Desa Winong, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur membangun wahana agrowisata edukasi berbasis tanaman sayur-mayur.

Desain agrowisata aneka tanaman sayuran yang dilengkapi berbagai sarana bagi pengunjung untuk menikmati paket wisata petik sayur sambil menikmati sajian kuliner khas berbahan pangan organik.

Berlokasi di pinggiran kota Tulungagung, tepatnya sekitar tiga kilometer arah barat daya dari pusat kota, Desa Winong bukan tergolong desa yang masyarakatnya memiliki rata-rata penghasilan (gross domestic bruto/GDB) mapan. Terutama warga yang asli Winong, bukan pendatang. Kendati sebagian sudah berpendidikan dan menjadi pegawai negeri dan menekuni dunia usaha yang berkembang, tak sedikit yang masih hidup di bawah garis kesejahteraan.

Salah satunya yang ada di lingkungan RT 03 RW 02 Dusun Winong. Berada di jalur gang dengan lebar jalan selebar mobil lebih sedikit, bangunan rumah warga didominasi bangunan tua. Ukurannya juga kecil, lahan pun sempit. Minimnya lahan membuat warga setempat lebih banyak mengembangkan model tanaman agroponic. Menanam di atas media tanam seperti botol plastik bekas, poly bag dan sejenisnya untuk tempat tumbuh kembang aneka sayur mayur.

Pemandangan itu mengubah wajah lingkungan RT 03 Dusun Winong yang terkesan “minus” menjadi lebih produktif. Hampir sepanjang gang terlihat tanaman agroponic dengan aneka jenis sayuran seperti sawi, bawang pre, sledri, slada, hingga terong menghiasi pekarangan sempit warga hingga pinggir jalanan.

Di sudut simpang empat jalan gang, dan beberapa rumah warga, berdiri semacam “mini green house” yang diistilahkan sebagai Kebun Bibit Desa (KBD) untuk etalase aneka tanaman sayur yang sedang dikembangkan warga, lengkap dengan nama-nama varietas yang sedang ditanam. Sungguh pemandangan segar. Tak heran banyak pengunjung yang datang, betah berlama-lama di lingkungan ini. Sekalipun sebenarnya lokasi desa ini berada di dataran rendah dengan ketinggian 85 mdpl.

Hanya beberapa detik berkendara dengan kendaraan roda dua menyusuri gang dengan konstruksi jalan paving sejauh 400-an meter, terdapat sebuah kebun sayur cukup luas yang dihias sedemikian rupa.

Sepintas konsepnya persis wisata-wisata rintisan yang kini tengah “booming” di desa-desa lain. Memanfaatkan lahan bengkok atau lahan kosong yang disulap menjadi wahana wisata yang dikreasi kekinian. Selain hiasan taman dengan mengandalkan corak warna-warni yang tajam menyolok mata, ada banyak ornamen yang dibangun untuk spot-spot swafoto yang instagramable atau layak diunggah ke Instagram.

Tampilan visual boleh jadi mirip-mirip dengan wahana-wahana wisata rintisan di desa lain. Namun jika merunut riwayat perjalanan terbentuknya agrowisata sayur di desa yang memiliki sejarah panjang sejak era kerajaan Mataram Hindu ini memiliki spirit keekonomian masyarakat yang luar biasa.

Bagaimana tidak, cikal-bakal wisata agro yang dibangun sederhana ala masyarakat desa itu tak bisa dipisahkan dari semangat emak-emak yang sejak 2019 mengembangkan pekarangan pangan lestari (P2L) dengan menanam aneka sayuran di lahan sempit depan rumah mereka.

Seperti dikutip dari Antara, semakin berdaya dengan aneka produk sayuran yang dihasilkan, 24 emak atau ibu rumah tangga yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Winong Asri mulai keteteran dengan permintaan pasar. Beberapa rumah makan minta pengiriman rutin dengan volume cukup banyak. Meningkatnya permintaan tak seimbang dengan ketersediaan bahan baku akibat lahan yang memang terbatas.

Ketua KWT, Sri Agung Monariyanti pun “curhat”ke LPM Desa Winong. Aspirasi itupun ditangkap pengurus LPM dan kemudian mendiskusikannya bersama sang kepala desa, Agus Satoto. Dan gayung pun bersambut. Kades Agus yang sejak lama memantau geliat ekonomi ibu-ibu yang tergabung dalam KWT Winong Asri sepakat membantu menyediakan demplot khusus. Lahan luas untuk bercocok tanam sayur.

Namun idenya tak sekadar kebun sayur apa adanya. Tetapi dikemas dalam sebuah agrowisata tanaman sayur. Sekitar bulan Juni 2019 pembangunan taman dimulai di atas tanah sewa seluas 1.200 meter persegi dengan modal awal Rp85 juta hasil pinjaman kelompok dan PNPM, suntikan modal tambahan dari swasta perorangan akhirnya mempercepat penyelesaian pembangunan demplot sayur yang diproyeksikan sebagai wahana edukasi pertanian dan perikanan tersebut. (Victor)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU