SHNet, Jakarta- Di tengah ketimpangan akses terhadap kesempatan dan sumber daya pendidikan, tidak semua anak memiliki ruang yang sama untuk mengenal potensinya, menemukan role model, dan berani membayangkan masa depan. Berangkat dari pemikiran bahwa kesempatan untuk bermimpi juga merupakan bagian dari kesempatan untuk berkembang, Leo Club Jakarta Kharisma yang dipimpin oleh Steven Maxwell Phandana sebagai presiden Club serta beberapa anggota Lions, menginisiasi kegiatan “Berani Menggapai Mimpi” di TBM Bukit Duri Bercerita yang terletak di kawasan Bukit Duri Tanjakan, Tebet, Jakarta Selatan Sabtu sore (08/08/2026).
Anak-anak dan remaja Bukit Duri terlihat sangat gembira dan antusias mengikuti kisah petualangan yang dibawakan oleh narasumber, Lion Tri Ariesta (Arie). Kisah penuh mimpi yang mengajarkan tentang keberanian dan pantang menyerah dibawakan secara interaktif. Anak-anak dan remaja diajak terlibat langsung melakoni cita-cita dan impian mereka.
Yang menarik, ada yang ingin menjadi dokter, guru, ilmuwan, pilot, atlet, dan berbagai profesi lainnya. Bagi sebagian anak, kesempatan untuk berdiri di depan teman-temannya dan mengucapkan impiannya menjadi pengalaman sederhana namun bermakna—sebuah latihan untuk berani menyampaikan apa yang mereka inginkan dan percaya bahwa impian mereka layak untuk diperjuangkan.
Lion Arie yang pernah menjadi Presien Club pada periode 2024-2025 tidak sendirian, ada Lion Ricky Chandra, Lion Hana Agustine, dan Lion Erfi Surianti Budiman. Dan yang tidak tanggung-tanggung 15 Anggota Leo Jakarta Kharisma hadir membantu acara ini sambil memberikan inspirasi pada anak-anak dan remaja. Mereka adalah Anastanihya Tahir, Benedict Hubert Chandra, Celine Florencia Phandana , Cheryl Videline Gunawan, Gabriella Grecia Liano, Jayden Kusuma, Jonathan Elbert Chandra, Kainan Jacob Nicholas, Kishawn Nicholas, Li Hao Hsun, Owen Sasongko, Sherren Anabel Budianto, Steven Maxwell Phandana, Wilson Prawira, Aaron (incoming)
Dalam penyampaian materi, Lion Arie tidak hanya mendengarkan, anak-anak juga diajak terlibat secara langsung. Satu per satu mereka maju ke depan dan secara bergantian menceritakan tentang cita-cita serta impian yang ingin mereka wujudkan ketika dewasa nanti. Ada yang ingin menjadi dokter, guru, ilmuwan, pilot, atlet, dan berbagai cita-cita lainnya.
“Bagi sebagian anak, kesempatan untuk berdiri di depan teman-temannya dan mengucapkan impiannya menjadi pengalaman sederhana namun bermakna—sebuah latihan untuk berani menyampaikan apa yang mereka inginkan dan percaya bahwa impian mereka layak untuk diperjuangkan,”kata Lion Arie.
Setelah sesi storytelling, kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas kreatif membuat “Papan Impian” (Dream Board). Lion Arie memberikan petunjuk kepada anak-anak untuk menggambarkan impian masing-masing melalui gambar, tulisan, atau simbol yang mereka sukai. Anak-anak kemudian diminta menempelkan hasil karya mereka pada sebuah papan impian bersama. Papan tersebut bukan sekadar kumpulan gambar dan cita-cita, melainkan menjadi pengingat visual bahwa setiap impian membutuhkan perhatian, usaha, keberanian, dan ketekunan.

Anak-anak dan remaja diajak untuk sering melihat kembali papan impian tersebut agar mereka tidak mudah melupakan apa yang ingin dicapai. Ketika suatu hari merasa lelah, gagal, atau menghadapi orang yang meragukan kemampuan mereka, papan impian itu diharapkan dapat mengingatkan kembali alasan mereka memulai. Dengan cara sederhana dan menyenangkan, kegiatan ini menanamkan pemahaman bahwa sebuah mimpi tidak cukup hanya dibayangkan, tetapi perlu “dijaga dan dirawat” melalui kebiasaan belajar, berlatih, mencoba, berdoa, dan terus bangkit setiap kali mengalami kegagalan.
Menyemai Mimpi Masa Depan
Kegiatan di TBM Bukit Duri Bercerita tersebut menjadi sebuah pesan bahwa pendidikan tidak hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang membantu anak-anak menemukan harapan dan keberanian untuk membayangkan masa depan mereka. Melalui storytelling dan papan impian, anak-anak diajak memahami bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk seorang anak selama mereka mau belajar dan terus berusaha.
Lion Arie berharap pengalaman sederhana ini dapat menjadi benih yang tumbuh dalam pikiran dan hati anak-anak, sehingga bertahun-tahun kemudian mereka masih mengingat impian yang pernah mereka tuliskan dan gambarkan hari ini. Sebab, keberanian untuk bermimpi dapat menjadi langkah pertama menuju masa depan yang lebih baik. “Bermimpi itu gratis, yang mahal itu menyerah.”
Sementara Lion Hana mengatakan, melalui sesi inspirasi, pengenalan Dream Board, serta games interaktif yang dipandu dan dilaksanakan bersama anggota Leo, anak-anak dan remaja diajak untuk mengenali impian mereka dan mulai memikirkan langkah untuk mencapainya. Bagi seluruh anggota Leo Club Jakarta Kharisma, pengabdian bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi menciptakan ruang agar setiap anak percaya bahwa mereka memiliki potensi, memiliki pilihan, dan berhak membentuk masa depan yang mereka impikan.
Kegiatan dilanjutkan dengan aktivitas membuat “Papan Impian” (Dream Board). Anak-anak diarahkan untuk mengilustrasikan impian mereka melalui gambar, tulisan, atau simbol yang mereka sukai dan kemudian menempelkan hasil karya mereka pada sebuah papan impian bersama. Papan tersebut bukan sekadar kumpulan gambar dan cita-cita, melainkan menjadi pengingat visual bahwa setiap impian membutuhkan perhatian, usaha, keberanian, dan ketekunan. Seyogyanya, mimpi tidak cukup hanya dibayangkan, tetapi perlu “dijaga dan dirawat” melalui kebiasaan belajar, berlatih, mencoba, berdoa, dan terus bangkit setiap kali mengalami kegagalan.
Acara dilanjutkan dengan berbagai permainan, demonstrasi serta sesi kebersamaan. Leo Kainan Jacob Nicholas memandu teman-temannya mengajak anak-anak Bukit Duri bermain lomba tebak profesi. Tidak kurang dari 40 anak dibagi menjadi grup berisi 4 orang berpacu menebak profesi yang sedang diperankan temannya. Acara tersebut pun semakin seru ketika Leo Jonathan Elbert Chandra dan Leo Benedict Hubert Chandra membawa anak-anak bermain ke masa depan dengan peragaan Robot Transformer. Anak-anak dibuat terpana saat Robot Transformer tersebut beraksi mengikuti instruksi yang diberikan secara verbal. Acarapun akhirnya ditutup dengan acara kebersamaan dimana anak-anak Bukit Duri dan para Leo bernyanyi bersama lagu-lagu kekinian yang dipimpin oleh Leo Sherren Anabel Budianto.

Kegiatan di TBM Bukit Duri Bercerita tersebut menjadi sebuah pesan bahwa pendidikan tidak hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga tentang membantu anak-anak menemukan harapan dan keberanian untuk membayangkan masa depan mereka. Melalui storytelling dan papan impian, anak-anak diajak memahami bahwa tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk seorang anak selama mereka mau belajar dan terus berusaha. Keberanian untuk bermimpi dapat menjadi langkah pertama menuju masa depan yang lebih baik. “Bermimpi itu gratis, yang mahal itu menyerah” tegas Lion Arie.
Melalui sesi inspirasi serta games interaktif yang dipandu dan dilaksanakan bersama anggota Leo, anak-anak Bukit Duri diajak untuk mengenali impian mereka dan mulai memikirkan langkah untuk mencapainya. Bagi seluruh anggota Leo Club Jakarta Kharisma, pengabdian bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi menciptakan ruang agar setiap anak percaya bahwa mereka memiliki potensi, memiliki pilihan, dan berhak membentuk masa depan yang mereka impikan.

Acara ini memberikan semangat pada anak-dan remaja untuk menggambarkan impian dan cita-cita di atas selembar papan terbuat dar plastik dan dikerjakan di rumah. Ternyata keseokan hari yakni Minggu (09/08/2026) mereka telah membuat dan menyerahkan. “Salut sekali dengan semangat anak dan remaja Bukit Duri ini karena tugas pekerjaan rumah membuat gambar impian dan cita-cita masa depan, dikerjakan sangat cepat yaitu sehari selesai. Saya diinfo Lion Suradi dan Lion Ning yang menginformasikan bahwa PR telah dikerjakan dan diserahkan,” ujar Hana. (sur)

