6 May 2026
HomeBeritaDialog RI–Austria Dorong Generasi Muda Perkuat Toleransi dan Koeksistensi Damai di Ruang...

Dialog RI–Austria Dorong Generasi Muda Perkuat Toleransi dan Koeksistensi Damai di Ruang Digital

SHNet, Wina-Indonesia dan Austria kembali menegaskan komitmen bersama dalam memperkuat toleransi, perdamaian, dan tata kelola keberagaman melalui penyelenggaraan 9th Austria–Indonesia Interfaith and Intercultural Dialogue serta International Conference on Governance of Religious Diversity pada 27-29 April 2026.

Dialog RI–Austria ke-9 diselenggarakan di dua kota, yakni Graz dan Wina, melalui rangkaian sesi internal antarpemerintah, dialog publik bersama akademisi dan masyarakat sipil, serta konferensi internasional yang membahas tata kelola keberagaman agama secara lebih inklusif dan multidisipliner.

Forum secara konsisten telah berlangsung sejak tahun 2010 ini menjadi salah satu platform dialog lintas agama paling aktif dan berkelanjutan antara Austria dan mitra internasionalnya. Indonesia dipimpin oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri RI, Y.M. R. Heru Hartanto Subolo, dengan melibatkan unsur Kementerian Agama – Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB), akademisi, praktisi digital, dan OIC Youth Indonesia.

Maish suasana pertemuan yang cukup serius

Dialog RI-Austria mengangkat tema peran generasi muda dan ruang digital dalam memperkuat koeksistensi damai antarumat beragama. Pertemuan tahun ini menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas generasi dalam menghadapi tantangan intoleransi, disinformasi, dan polarisasi di era digital.

Menyelenggarakan dialog lintas agama di tengah situasi global yang penuh gejolak bukan sekbolis, melainkan sebuah upaya nyata membangun perdamaian. Pengalaman Indonesia bukanlah klaim adar simatas kesempurnaan, melainkan realitas hidup dalam mengelola keberagaman di tengah masyarakat besar dan demokrasi yang dinamis,” ujar Heru Subolo pada sesi Konverensi Publik di Universitas Wina.

Dalam berbagai sesi dialog, pihak Austria secara terbuka menyampaikan apresiasi dan kekaguman terhadap pengalaman Indonesia dalam mengelola keberagaman agama, budaya, dan etnis di tengah jumlah penduduk yang besar dan kondisi geografis kepulauan yang kompleks. Indonesia dinilai berhasil menunjukkan bahwa keberagaman bukan sumber perpecahan, melainkan modal sosial untuk membangun stabilitas dan ketahanan nasional.

Kekaguman Austria terhadap Indonesia juga tercermin dalam pembahasan mengenai Masjid Istiqlal dan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan masjid dengan Gereja Katedral Jakarta. Dalam konferensi, tokoh agama Austria menyebut simbol tersebut sebagai representasi nyata bahwa perbedaan tidak hanya dapat hidup berdampingan, tetapi juga saling terhubung secara mendalam.

Indonesia turut memaparkan berbagai praktik baik dalam penguatan toleransi dan literasi lintas agama, termasuk program Cross-Cultural Religious Literacy (CCRL), sistem peringatan dini konflik sosial “SI-Rukun”, serta diplomasi lintas iman yang telah dijalankan Indonesia dengan 37 negara mitra. Austria secara khusus menyebut Indonesia sebagai salah satu mitra dialog lintas agama yang paling konsisten dan konstruktif.

Gus Adib, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) menekankan dihadapan publik Austria yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat bahwa „Indonesia merupakan salah satu negara paling beragam di dunia, dengan kondisi geografis kepulauan dan lebih dari 700 bahasa daerah, namun bukan negara agama.

Foto bersama usai konfrensi

Dalam konteks tersebut, negara memiliki peran penting untuk terus memperkuat kerukunan umat beragama hingga ke tingkat desa. Indonesia memiliki 512 Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) serta program Desa Sadar Kerukunan sebagai bagian dari upaya menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang majemuk.“

Selain memperkuat hubungan bilateral, kegiatan ini juga semakin menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu rujukan global dalam praktik pengelolaan keberagaman, dialog lintas agama, dan diplomasi perdamaian berbasis nilai-nilai toleransi dan koeksistensi damai.

Sebagai tindak lanjut konkret, Indonesia mengusulkan pembentukan Indonesia–Austria Youth Platform untuk dialog lintas agama dan budaya di ruang digital, program pelatihan literasi digital bagi pemuda, penguatan pertukaran pelajar dan akademisi, serta pengembangan program residensi dan kolaborasi riset antar universitas kedua negara. (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU