6 May 2026
HomeBeritaKolaborasi IMDE-CIA Gelar Pelatihan Jurnalistik untuk Pelajar SD

Kolaborasi IMDE-CIA Gelar Pelatihan Jurnalistik untuk Pelajar SD

SHNet, Jakarta- Institut Medi Digital Emtek (IMDE) dan Yayasan Cahaya Inspirasi Anak (CIA) menggelar acara bersama yang menarik dan unik bagi pelajar tingkat sekolah dasar (SD) yakni pelatihan jurnalistik televisi. Acara bertajuk “Literasi Media Warior (Wartawan Junior) CIA Goes to IMDE” diselenggarakan di Kampus IMDE, Jakarta Barat, Selasa (05/05/2026).

Acara ini menampilkan narasumber praktisi media dan dosen IMDE, Sisca T.Gurning dan Suradi dan beberapa dosen berlatar belakang praktisi televisi juga ikut membantu Selain memaparan materi, peserta diajak untuk mengikuti latihan membaca lewat Promter yakni  alat bantu baca berbentuk layar atau kaca pemantul yang menampilkan naskah berjalan di depan lensa kamera. Kemudian peserta juga diajak menunjau beberapa studio milik Indosiar yaitu Studio 1, Studio 2, Studio 5 dan Studio 6.

Pelatihan jurnalistik setengah hari yang dibuka langsung oleh Rektor IMDE, Totok Amin Soefijanto, Ed.D ini bukan saja membuat para peserta dari berbagai sekolah ini bertambah pengetahuan, tetapi isa melihat langsung suasana studio yang biasa digunakan untukberbagai syuting baik acara hiburan maupun konser.

Ketika member sambutan pembukaan, Rektor IMDE mengatakan, literasi media saat ini semakin penting dikuasai oleh generasi Z dan Alpha. Apalagi, media berformat digital semakin memudahkan bahkan memanjakan penggunanya. Oleh sebab itu, generasi muda Indonesia harus melek media digital agar dapat memanfaatkannya untuk kebaikan masyarakat luas.

Rektor IMDE Totok Amin Soefojanto, Ed.D saat memberi sambutan

“Dalam kolaborasi IMDE dan CIA ini, kami ingin para jurnalis cilik atau wartawan yunior yang terpilih dapat menjadi teladan bagi teman-temannya. Mereka akan menjadi pelopor dalam membawa media ke horison baru, yang lebih kreatif dan humanis, jauh di depan AI atau kecerdasan artifisial. Dari mereka, kita optimistis, media akan mencerdaskan bangsa di masa depan,” papar Totok.

Totok Amin Soefijanto yang sebelumnya memiliki latar belakang sebagai jurnalis, juga menceritakan bagaimana perjalanan karir dan pengalamannya sebagai jurnalis yang kemudian membawanya ke dunai akademis karena mendapat beasiswa S-2 dan S-3 di Amerika Serikat.

Industri Televisi dan Kekuatan EMTEK

Sisca T. Gurning, dosen IMDE yang punya pengalaman lama di liputan televisi menjelaskan ihwal televisi dan Grup ETEK. Dikatakan, Televisi Free to Air, yang ada dalam Grup Usaha EMTEK, tbk, yaitu SCTV, Indosiar, Mentari dan Moji, bebas diakses siapa saja hingga saat ini.

Melihat langsung Studio 5 Indosiar dan foto bersama

Pengalaman dalam industri televisi ini menjadi kekuatan bagi EMTEK, walau saat ini banyak generasi muda, terutama generasi Alfa, yang lahir pada tahun 2013–2025, yang kurang tertarik untuk menekuti dunia televisi. Namun, Yayasan Cahaya Inspirasi Anak (CIA) bersama kampus milik EMTEK, yaitu Institut Media Digital EMTEK (IMDE), menyelenggarakan literasi media buat anak-anak SD dari berbagai sekolah di Jakarta, khusus pengenalan liputan dan pembuatan berita jurnalistik televisi.

Guna memahami dasar arti televisi yang berasal dari dua bahasa, yaitu tele dari bahasa Yunani, berarti jauh. Dan kata Visio, dari bahasa Latin atau vision, bahasa Inggris, yang artinya penglihatan, tampak, atau melihat. Secara harfiah, kata television diartikan sebagai melihat atau tampak dari jarak jauh. Sehingga pemahaman kata televisi tetap diadopsi oleh media baru seperti media sosial. Banyak kanal seperti di YouTube menggunakan kata televisi pada saluran (channel) mereka.

Sisca menjelaskan bagaimana berita televisi dibuat. Struktur berita televisi berbeda dengan penulisan berita di media cetak. Setelah mereka mengetahui bagaimana struktur berita televisi yang terdiri dari lead, tubuh berita, dan soundbite, mereka memahami bagaimana menulis berita untuk televisi, yang jauh berbeda dengan penulisan berita di media cetak. Yang terpenting, unsur berita 5W+1H tetap harus ada dalam menyampaikan informasi dalam berita televisi sama seperti berita media cetak.

Fotobersama di luar Studio 1 dan 2 Indosiar

Berita televisi sangat tergantung pada kecepatan dan keterbatasan durasi penayangannya. Sehingga pembuatan naskah berita, tidak boleh bertele-tele, harus singkat, akurat dan jelas. Peserta literasi media wartawan Junior CIA-IMDE ini sangat antusias belajar bagaimana mereka praktik membuat berita, membaca berita menggunakan teleprompter, dan standup reporting di depan kamera.

Tampak semua peserta percaya diri untuk tampil dan melaporkan berita tentang touring mereka ke studio-studio yang ada di kawasan EMETEK City di Jalan Damai, Daan Mogot, Jakarta Barat. Literasi yang dijadwalkan seharusnya berakhir di jam 12.00 siang, harus molor sampai jam 13.00 lewat, karena peserta yang merupakan generasi Alpa ini, sangat bersemangat untuk mencopa praktik melaporan berita di depan kamera.

Buat salah satu pengajar yang merupakan dosen jurnalistik di IMDE, Sisca T. Gurning, sangat terkesan dengan keinginan peserta yang sangat antusias belajar jurnalistik, menulis dan menyampaikan berita di usia sangat muda.”Walau saya tahu, belum tentu mereka bercita cita menjadi wartawan nantinya, tetapi melalui literasi pengenalan jurnalistik televisi ke mereka, setidaknya peserta dapat menjadi siswa yang suka membaca, menulis dan juga kritis terhadap informasi yang mereka konsumsi,” ujar Sisca.

Peserta selaian begitu menikmati pelatihan dan mengungkapkan kesenangannya melihat langsung studio. “Bagus banget studionya, aku baru liat langsung. Senang bisa ikut pelatihan ini,” ujar Fika, siswa kelas 4 SD.  Hal yang sama diungkapkan siswa dari sekolah lain seperti Mailk dan Elfa. (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU