8 June 2026
HomeBeritaLebah Hutan dan Pohon Jadi Sorotan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

Lebah Hutan dan Pohon Jadi Sorotan di Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026

SHNet, Jakarta-Keterkaitan erat antara lebah madu hutan, pohon-pohon hutan tropis, dan keberlanjutan kehidupan manusia menjadi sorotan dalam peluncuran buku Bees and Trees yang digelar PARARA Environment Day bersama NTFP-EP Asia dan Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI), Jumat (5/6/2026).

Peluncuran buku yang bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 itu memberi perhatian terhadap petani lebah madu di tengah perubahan iklim dan semakin hilangnya hutan hujan Indonesia. Sebab, keberadaan lebah hutan dan pohon-pohon menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem hutan tropis.

Peneliti Pusat Riset Biologi BRIN, Sih Kahono, menjelaskan bahwa keberadaan lebah hutan sangat bergantung pada pohon-pohon penghasil pakan yang tumbuh di kawasan hutan. Pohon-pohon tersebut menyediakan nektar, serbuk sari, sekaligus tempat bersarang bagi lebah.

Di sisi lain, lebah berperan penting dalam proses penyerbukan yang mendukung regenerasi hutan dan keberlangsungan berbagai jenis tumbuhan.

Namun, menurut Sih, keberlangsungan lebah hutan kini menghadapi berbagai ancaman serius. Salah satunya adalah alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan, terutama kelapa sawit, yang berkembang pesat di sejumlah wilayah Sumatera.

“Alih fungsi hutan telah mengurangi habitat dan sumber pakan lebah. Pada saat yang sama, perubahan iklim menyebabkan musim hujan dan kemarau semakin tidak menentu sehingga memengaruhi pola berbunga tanaman pakan dan mengganggu siklus hidup koloni lebah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, lebah hutan memiliki pola migrasi yang mengikuti musim. Koloni lebah akan kembali ke lokasi yang sebelumnya menjadi habitat mereka untuk membangun sarang.

“Koloni lebah ini bermigrasi berdasarkan musim, dan suatu saat mereka akan kembali lagi ke hutan asalnya. Bagaimana bila pada saat mereka kembali hutannya sudah ditebang atau sudah berubah menjadi rumah-rumah? Mereka akan kembali membangun koloni di sana. Jadi jangan heran kalau ada sarang lebah di rumah atau di tengah-tengah masyarakat, salah satunya karena itu,” kata Sih.

Selain alih fungsi lahan dan perubahan iklim, sejumlah peristiwa alam juga turut memengaruhi populasi lebah hutan. Di Flores, misalnya, erupsi gunung api telah merusak banyak pohon yang selama ini menjadi tempat bersarang sekaligus sumber pakan lebah.

Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya produksi madu hutan. Situasi semakin sulit karena melemahnya daya beli masyarakat yang menyebabkan permintaan madu hutan ikut menurun.

Akibatnya, tidak hanya kelestarian lebah dan pohon madu yang terancam, tetapi juga mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada hasil hutan bukan kayu tersebut.

*Koperasi Mengambil Peran Penting*

Keberadaan Koperasi Hutan Lestari di Desa Batudulang, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah angin segar bagi kelestarian lebah hutan. Junaidi Zain, inisiator koperasi ini menegaskan mereka berkomitmen menjaga hutan dengan tidak membuka kebun di kawasan lindung.

“Koperasi Hutan Lestari memiliki izin Hutan Kemasyarakatan (HKm) seluas 1.000 hektare yang berada di kawasan penyangga Hutan Lindung Batu Lanteh. Kami berkomitmen menjaga hutan dengan tidak membuka kebun di kawasan lindung, melainkan hanya memanfaatkan hasil hutan bukan kayu seperti madu, kemiri, kayu manis, dan rotan,” ujarnya.

Menurut Junaidi, koperasi menerapkan standar panen, pengumpulan, dan pengolahan madu yang menjamin asal-usul, kualitas, serta keberlanjutan sumber daya. Upaya tersebut juga didukung oleh keberadaan rumah produksi yang memenuhi standar keamanan pangan.

Ia mengatakan, pengelolaan yang berkelanjutan membantu menjaga keberadaan lebah, pohon madu, dan berbagai pohon penghasil nektar sehingga masyarakat masih dapat memanen madu hutan secara berkelanjutan.

“Di saat banyak kawasan hutan di Sumbawa telah berubah menjadi kebun jagung dan tidak lagi menghasilkan madu hutan, kami masih bisa mempertahankan praktik panen yang berkelanjutan karena hutan tetap terjaga,” kata Junaidi.

Peluncuran buku Bees and Trees diharapkan menjadi pengingat bahwa keberlangsungan lebah hutan, kelestarian pohon-pohon hutan tropis, dan kesejahteraan masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Di tengah ancaman perubahan iklim dan hilangnya hutan hujan Indonesia, menjaga ekosistem hutan menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan kehidupan bagi generasi mendatang.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU