SHNet, Jakarta- Musyawarah Nasional (Munas) Perkumpulan Penulis Indonesia Alinea dibuka dengan perhelatan diskusi publik yang apik dan sangat mengesankan, bahkan menyadarkan penulis bahwa peran penulisitu sangat besar dalam memberikan dampak untuk menjaga keseimbangan perkembangan peradaban manusia, di tengah derasnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan imitasi (Artificial Intelligence)
Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertema “ Penulis Terlibat, Bersinergi, dan Berdampak di Era Disrupsi” yang menghadirkan dua astronom teremuka, Karlina Supeli dan Premana Wardayanti Premadi, sejarawan-budayawan, Hilmar Farid, dan penulis-musisi Dee Lestari di Teater Utan Kayu, Jakarta, Sabtu (05/09/2026).
Konsep diskusi sangat menarik, karena dibuat tak biasa yakni para pembicara secara berurutan tampil secara monolog membawakan materinya, lalu panel, dan diskusi aktif dengan hadirin. Debra H. Yatim selalu moderator pun piawai memandu diskusi ini. Selain pengurus anggota Alinea, tampak hadir kolega para pembicara. Maka ruang teater Utan Kayu pun penuh dengan peserta diskusi.
Penulis yang sebelumnya dikenal sebagai musisi- Dee Lestari- yang tampil di urutan keempat, mengulas materi dengan tema “Penulis Memetabolisme Dunia”. Bagaimana proses menulis itu? Dee mengumpamakan, jika ada satu metafora untuk menjelaskan apa yang dilakukan penulis, saya akan mengatakan: penulis memetabolisme dunia.
Sesuatu masuk, dicerna, diurai, dipertemukan dengan unsur lain, lalu diubah menjadi bentuk baru. Begitu juga karya. Dunia masuk ke penulis sebagai realitas, tetapi ketika keluar sebagai cerita, bentuknya menjadi berbeda.
“Salah satu organ terpenting bagi penulis adalah rasa ingin tahu. Inilah modal utama pada tahap pertama proses kreatif, yakni keinginan dan keterbukaan untuk menyerap. Bahan tulisan bisa datang dari mana saja. Dari pengalaman personal, percakapan yang nggak sengaja kita dengar, berita,” jelas Dee.

Penulis serial novel Supernova, yang terbit awal 2000-an ini mengatakan, dunia tidak pernah masuk ke karya dalam keadaan utuh. Ia masuk seperti kain perca yang terdiri dari potongan pengalaman, kegelisahan, pengetahuan, ingatan, ketertarikan, mungkin juga luka. Semua itu lalu bercampur dengan sesuatu yang sudah ada dalam diri kita—yang sering saya bahasakan sebagai “filter unik”—cara kita melihat, sejarah pribadi kita, pertanyaan-pertanyaan yang belum selesai, bahkan mungkin bias yang tidak kita sadari. Situasi sosial, lingkungan, sejarah, teknologi, atau sesuatu yang sangat kecil tetapi entah kenapa nggak bisa kita lepaskan dari pikiran.
“Saya sendiri berkali-kali masuk ke wilayah yang pada awalnya tidak saya kuasai. Di Serial Supernova, saya bertemu dengan sains, filsafat, psikologi, spiritualitas, dan pertanyaan besar tentang kesadaran serta eksistensi. Di Aroma Karsa, saya masuk ke dunia penciuman, botani, ekologi, mitologi, dan berbagai wilayah pengetahuan yang tidak menjadi keseharian saya. Menulis memberi saya alasan untuk belajar,”tandas Dee.
Banyak yang Hilang, Harus Ditulis
Sementara itu sejarawan yang dikenal juga sebagai budayawan, Hilmar Farid mengungkap sejumlah perubahan dalam kebiasaan dan tradisi di Tanah Air, khususnya dalam bidang pertanian akibat proses pembaruan dalam sistem pertanian. Moderisasi yang dikenal sebagai revolusi hijau ini digalakkan pada awal Orde Baru hingga tahun 1980-an dengan tujuan untuk mencapai swasembada pangan.

Dari tujuan ini tercapai, bahkan Presiden Soeharto mendapat penghargaan menerima penghargaan berupa medali emas dan piagam “From Rice To Self Sufficiency” dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) pada 22 Juli 1986. Tetapi, kebiasaan, tradisi, dan pesta rakyat saat panen, sedikit demi sedikit hilang, karena fungsi manusia mulai digantikan mesin.
“Akar masyarakat seperti tergambar dalam alat tani yang disebut ani-ani, mulai hilang Kalau penulis tidak mengabadikan cerita ini, pasti generasi sekarang tak tahu, apalagi generasi mendatang. Jadi, apapun yag terjadi, terutama perubahan sosial, sekecil apapun penting untuk ditulis dan inilah peran penulis yang berdapak, utamanya mengingatkan,” papar Hilmar yang pernah menjabat sebagai Dirjen Kebudayaan di masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Dalam hubungan ini Hilmar menggarisbawahi tiga hal penting dalam konteks perubahan dan peran penulis yakni ingatan, perhatian, dan masa depan. penghargaan pada Presiden Soeharto karena berhasil melakukan swasembada pangan, terjadi di arus bawah ada perubahan sosial yang tak terekam yakni hilangnya tradisi dan kebiasan masyarakat petani.
“Begitu juga program Makan Bergizi Gratis atau MBG, transformasi apa yang terjadi? di mana posisi penulis? danmengapa ingatan publik hanya pada korupsinya, keracunan, dan salah administrasi saja,” tanya Hilmar yang intinya mengajak penulis untuk mencatat dan membukukan sekecil apapun perubahan yang terjadi.
Alam Semesta dan Penulis
Dua astronoi lulusan ITB Bandung, Karlina dan Premana menghentak hadirin, meski dengan bahasa yang halus dan pelan. Dua perempuan yang sangat piawai menggambarkan gerak alam semesta dan hubungan dengan manusia di bumi sangat menginspirasi. Keduanya menegaskan ‘komunikasi’ alam semesta dengan manusia.

Premana membawa kita pada praktik masyarakat yang berharap pada bulan. Untuk bulan tertentu manusia, terutama umat Islam berharap kepastian awal puasa dan saat tertntu lagi berharap pada awa ldul fitri. “Jadi, bulan teman setia, degan bulan yang sama tapi pada saat yang berbeda,”katanya.
Dikemuakan Premana, kita suka bertukar cerita, bertutur tentang kekaguman dan lain-lain. Pada saat yang sama kita membangun komunikasi dengan alam dan sesama kita sebagai pencerita.
“Saya sebagai astronom selalu bercerita bahwa alam semesta terlalu besar bila hanya untuk astronomi saja. Jadi kalau saya bercerita tantang alam semesta, maka seperti kita bercerota tentang rumah kita dengan segala isi dan kenangannya,” ujar Premana yang meraih gelar doktor astrofisika dari University of Texas ini.

Dengan logika yang mirip Premana, Karlina, astronom wanita pertama lulusan ITB Bandung ini mengemukakan tetang hubungan berfikir dan penulis. Katanya, berfikir sebagai sesuatu yangsangat tersembunyi. “Kita tidak tahu apa yang dipikirkan orang, kecuali terungkap dalam tindakan, misalnya tindakan menolak kejahatan penguasa,” katanya.
Namun yang terpenting dan ini menjadi masukan paling berhargabagi penulis. enurut Karlina, berfikir tidak menjamin apapun, apalagi jaminan perubahan dari suatu keadaan yang kacau atau rumit menjadi aman, damai sesuai harapan kita, kecuali ketika pikiran itu dituangkan dalam tulisan dan dibaca banyak orang sehingga menggerakkan orang melakukan sesuatu.
Setelah sesi tanya jawab dengan peserta, Raja Pantun Indonesia yang juga Dirut Balai Pustaka, Achmad Fachrodji membacakan pantun untuk keempat pembicara dan moderator. Dengan demikian diskusi menarikini tambah lengkap. q(sur)

