SHNet – Kesalahan persepsi mengenai Susu Kental Manis (SKM) masih marak terjadi di masyarakat, mulai dari anak-anak hingga kelompok lansia. Banyak orang tua yang meminumkan atau mengonsumsi SKM dengan anggapan bahwa semua produk berlabel “susu” pasti menyehatkan. Padahal, menjadikan kental manis sebagai pemenuh nutrisi harian menyimpan ancaman kesehatan yang serius.
Sorotan terhadap isu ini kembali mengemuka setelah ahli gizi Mita Rukmawati, S.Gz, membagikan pengalamannya melalui akun media sosial Threads @nutri_bestari. Mita menceritakan kisah seorang kakek berusia 62 tahun yang terkejut saat hasil pemeriksaan Gula Darah Acak (GDA) miliknya mencapai 297 mg/dL, padahal ia tidak memiliki riwayat diabetes.
Usai digali mengenai pola konsumsinya, terungkap bahwa kakek tersebut rutin minum kental manis setiap hari karena mengira produk tersebut adalah susu sehat yang aman diseduh sebagai minuman harian.
“Banyak orang, terutama lansia, mengira kalau SKM itu beneran susu. Karena yang mereka tahu yaitu ‘minum susu itu sehat’,” ungkap Mita dalam edukasinya.
Bukan Sumber Gizi dan Berbahaya Bagi Anak
Menanggapi fenomena tersebut, Mita kembali mengingatkan bahwa kental manis bukanlah susu yang ditujukan untuk dikonsumsi sebagai sumber gizi utama.
Tinggi kadar gula dan rendahnya kandungan protein serta kalsium pada kental manis membuatnya sama sekali tidak cocok difungsikan sebagai pengganti susu pemenuh nutrisi harian. Konsumsi kental manis sebagai minuman rutin sangat berbahaya, apalagi jika diberikan kepada anak-anak atau balita..
Pemberian kental manis pada anak sebagai pengganti susu menyimpan ancaman serius bagi kesehatan jangka panjang mereka. Tingginya kadar gula dan kalori yang tidak diimbangi gizi seimbang dapat memicu kenaikan berat badan berlebih hingga obesitas dini, sementara sisa gula pekat yang menempel di mulut menjadi makanan utama bakteri penyebab kerusakan gigi atau karies.Â
Tak hanya itu, asupan gula berlebih sejak usia dini berisiko merusak sensitivitas insulin yang berujung pada diabetes dan gangguan metabolisme saat dewasa. Di samping itu, anak yang terbiasa kenyang oleh minuman tinggi gula akan kehilangan selera makan makanan bergizi, sehingga berisiko mengalami malnutrisi hingga stunting akibat tak terpenuhinya nutrisi penting untuk tumbuh kembang mereka.Â
Hanya Sebatas Bahan Tambahan Makanan
Mita menegaskan bahwa kental manis bukan berarti dilarang total untuk dikonsumsi, melainkan harus ditempatkan sesuai fungsinya.
“Boleh dikonsumsi. Tapi tempatnya bukan sebagai pengganti susu atau sumber gizi utama. Lebih tepat digunakan sebagai bahan tambahan makanan/minuman dalam jumlah terbatas,” tegasnya.
Banyak masyarakat baru menyadari bahaya kebiasaan ini setelah timbul gejala fisik, seperti tubuh gampang lemas, sering buang air kecil di malam hari, atau ketika kadar gula darah sudah melonjak tinggi.
Melalui imbauan ini, masyarakat diharapkan lebih cermat membaca label pangan dan memeriksa kembali stok kental manis di rumah. Edukasi ini menjadi krusial agar orang tua tidak lagi salah kaprah menyajikan kental manis sebagai minuman pengganti susu bagi anak maupun keluarga.

