20 September 2026
HomeBeritaBalai Pustaka Akan Terbitkan Ulang Karya Sastra Rusia yang Sudah Diterjemahkan oleh...

Balai Pustaka Akan Terbitkan Ulang Karya Sastra Rusia yang Sudah Diterjemahkan oleh Sastrawan Indonesia

SHNet, Jakarta- Sejumlah karya sastra Rusia yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Balai Pustakan, segera akan dicetak ulang. Upaya ini akan semakin memperkuat khasanah sastra Rusia ke masyarakat umum Indonesia, apalagi hubungan RI-Rusia juga semakin kuat dalam berbagai bidang

Ihwal rencana penerbitkan ulang karya sastra Rusia ini diungkapkan Dirut Balai Pustakan, Achmad Fachrodji dalam Instagram pribadinya, usai diterima Dubes Rusia untuk Indonesia, Sergey Tolchenov, Jumat (18/09/2026). Di Instagram, Dirut Balai Pustaka dan Dubes Rusia untuk RI, foto bersama dengan memegang buku novel karya penulis Rusia  yang pernah diterbitkan Balai Pustaka beberapa tahun silam.

Achamd Fachrodji mengungkapkan, Dubes Rusia, Sergey Tolchenov sangat tertarik  dengan rencana penerbitan ulang karya sastra Rusia yang sudah diterjemahkan oleh Sastrawan Indonesia. Pada kesempatan pertemuan, Dubes Rusia berkomitmen akan membantu perolehan sponsorship dari perusahaan-perusahaan Nasional di Rusia.

Adapun novel-novel Rusia yang pernah terbit Balai Pustaka :

  1. Si Lembut Hati (Fyodor Dostoyevsky)
  2. Rumah Mati di Siberia (Fyodor Dostoyevsky)
  3. Perkenalan (Anton Tchechov)
  4. Perumpamaan (Lev Tolstoy)

Sebagai informasi mengenai awal dan fungsi Balai Pustaka. Balai Pustaka berdiri sejak tanggal 14 September 1908 oleh pemerintah Hindia Belanda, untuk mengakomodir niat politik etis dan untuk meredam tulisan yang tidak sesuai dengan kebijakan dari Hindia Belanda, dengan nama komisi bacaan rakyat.

Pada tahun 1917 berubah menjadi Balai Poestaka, dan pada masa pendudukan Jepang kembali mengalami perubahan nama menjadi Gunseikanbu Kokumin Tosyokyoku namun fungsinya kurang lebih sama yaitu mengumpulkan tulisan dari para sastrawan kemudian menerbitkan dan menyebarkannya kembali. Tahun 1945 kembali menjadi Balai Pustaka (BP), dan segera mendapatkan arahan Presiden Ir. Soekarno untuk membangun 2.600 unit taman bacaan dalam rangka memberantas buta huruf, dan mulai difungsikan menjadi mitra Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk menyediakan buku sekolah. BP merupakan penyedia utama buku sekolah yang dipakai sebagai rujukan buku bagi seluruh sekolah di Indonesia, dengan standar yang sama. (sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU