20 September 2026
HomeBerita"Mencuri Waktu Di Tengah Riuh": Pameran Tunggal Seni Visual Lully Tutus

“Mencuri Waktu Di Tengah Riuh”: Pameran Tunggal Seni Visual Lully Tutus

SHNet, Jakarta-“Mencuri Waktu di Tengah riuh” merupakan pameran tunggal visual ketiga yang dipersembahkan oleh seniman perempuan Bernama Lully Tutus Pinandita. Berlangsung mulai Selasa  22 september hingga 03 oktober 2026, Cemara 6 Galeri-Toeti Heraty Museum Jakarta yang menjadi pilihan tempat untuk diselenggarakannya pameran ini.

Rangkaian pameran ini juga akan menghadirkan acara khusus berupa talkshow bersama seniman, Lully Tutus Pinandita dan juga kurator, Mikke Susanto yang dilaksanakan pada tanggal 23 September 2026.

Pameran ini berbicara bahwa waktu melukis itu sepadan dengan aktivitas lainnya. Pameran ini juga mengajak kita melihat kembali hubungan antara kerja domestik, keintiman, dan produksi seni. Aspek sosiologi seni menjadi cara untuk melihat realita dan fenomena kekaryaan kreatif.

Kehidupan keluarga Lully sangat dekat dengan berbagai aktivitas sehari-hari yang menghasilkan bentuk-bentuk kerja yang sering kali tidak tercatat sebagai “produksi”. Memasak, menyiapkan sarapan, mengurus rumah, mengantar anak, berbelanja, hingga menemani suami mungkin tampak sebagai rutinitas biasa. Namun, semua itu sesungguhnya merupakan kerja yang membuat kehidupan sebuah keluarga dapat berjalan.

Di dalamnya terdapat pengelolaan waktu, perhatian, emosi, spirit dan relasi antarmanusia. “Mencuri Waktu” juga memperlihatkan bahwa riuhnya aktivitas domestik tidak selalu berarti kebisingan atau kesibukan semata. Di baliknya terdapat keintiman, percakapan, kebersamaan, konflik, perhatian, dan berbagai pengalaman kecil yang membentuk kehidupan keluarga. Dari sanalah kisah-kisah tumbuh. Lully menangkap pengalaman tersebut dan membawanya ke dalam lukisan.

Rumah dan keluarga tidak hanya menjadi latar kehidupan, tetapi menjadi ruang tempat pengalaman dikumpulkan, dihayati, dan kemudian diolah menjadi bahasa visual. Ada waktu yang tidak pernah benar-benar diberikan kepada seorang seniman.

Lully Tutus, Iwak Pitik, Akrilik pada kanvas, 2026

Memanfaatkan Waktu

Waktu kadang harus ditemukan, disisihkan, bahkan “dicuri”. Bagi Lully Tutus, waktu untuk melukis muncul di antara serangkaian pekerjaan keluarga sedang atau selesai dilakukan: setelah anak-anak disiapkan dan diantar ke sekolah, setelah belanja keperluan dapur dan kebutuhan rumah tangga terurus, setelah perhatian diberikan kepada suami dan keluarga. Waktu untuk berkarya mungkin pendek, terputus-putus, dan sering kali harus menunggu kesempatan. Namun, justru di tengah keterbatasan itulah tumbuh ketekunan untuk terus bekerja dan mempertahankan keberadaannya sebagai seorang seniman.

“Mencuri waktu” dalam konteks ini bukanlah tindakan melawan keluarga, melainkan cara Lully menjaga ruang bagi dirinya sendiri di tengah kehidupan yang menuntut kehadirannya hampir sepanjang hari. Seharian penuh, ia berada di tengah riuh.

Pada akhirnya, melukis bagi Lully bukan sesuatu yang harus ditempatkan lebih tinggi daripada pekerjaan rumah tangga. Melukis atau berkarya seni setara dengan memasak, menyiapkan sarapan, mengantar anak ke sekolah, maupun berbincang dengan suami. Semuanya merupakan bagian dari kehidupan yang sama dan sama-sama membutuhkan waktu, perhatian, tenaga, serta
perasaan.

Secara sosiologis, keluarga dalam karya-karya Lully hadir sekaligus sebagai pemberi peran, objek pengamatan, dan sumber inspirasi. Karena itu, ketika Lully “mencuri waktu” untuk melukis, sesungguhnya ia tidak sedang meninggalkan kehidupan keluarganya. Ia justru sedang membawa kehidupan itu ke dalam karya mengubah riuh keseharian dan fantasi-fantasinya menjadi pengalaman artistik, dan menjadikan keluarga sebagai bagian penting dari keberadaan dirinya sebagai seniman.(sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU