30 September 2026
HomeBeritaKesraRakernas IPI 2026 Dorong Pustakawan Makin Terlibat, Bersinergi dan Berdampak

Rakernas IPI 2026 Dorong Pustakawan Makin Terlibat, Bersinergi dan Berdampak

SHNet, Jakarta – Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2026 di Semarang, Jawa Tengah, pada 6–8 Oktober 2026.

Mengusung tema “Pustakawan Terlibat, Bersinergi dan Berdampak”, Rakernas menjadi momentum penting untuk memperkuat peran pustakawan di tengah perubahan teknologi informasi dan perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Ketua Umum IPI yang juga Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Dr. Joko Santoso, M.Hum, mengatakan Rakernas merupakan agenda tahunan organisasi profesi pustakawan yang telah berdiri sejak 1973.

Menurutnya, IPI menjadi rumah bersama bagi pustakawan dalam mengembangkan aktivitas, kompetensi, sekaligus memperkuat kontribusi profesi tersebut bagi masyarakat.

“Terlibat artinya pustakawan hadir dalam berbagai peran literasi. Bersinergi berarti membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, karena pustakawan memiliki peran penting dalam memberikan pengetahuan dan akses informasi. Sedangkan berdampak berarti pekerjaan pustakawan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujar Joko dalam pra-Rakernas IPI 2026, di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Rabu (30/09/2026).

Rakernas tahun ini akan menjadi ruang evaluasi terhadap program organisasi sekaligus menyerap aspirasi pustakawan dari berbagai daerah. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi bahan untuk merumuskan program kerja IPI pada 2027, termasuk memperkuat posisi pustakawan dalam pembangunan sumber daya manusia.

Joko mengatakan perkembangan teknologi komunikasi dan AI turut mengubah pola kerja pustakawan. Karena itu, Rakernas 2026 memiliki format berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena diawali dengan workshop.

Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah penguatan dan penyegaran sertifikasi profesi pustakawan. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pustakawan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dan tantangan terkini.

Di era AI, lanjut Joko, pustakawan juga menghadapi tantangan dalam memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar dan dapat dipercaya.

“Langganan e-journal sangat mahal sehingga akses terhadap sumber-sumber pengetahuan menjadi persoalan tersendiri. Di sisi lain, literasi digital semakin penting, terutama bagaimana memilah informasi yang benar dan hoaks. Di sinilah pekerjaan pustakawan menjadi penting,” katanya.

Selain itu, IPI mendorong pengembangan kompetensi melalui berbagai program, termasuk model pembelajaran berbasis coaching dalam Wiyata Kinarya serta penerapan standar ISO.

IPI juga membuka kesempatan bagi pustakawan Indonesia untuk menulis dan berbagi gagasan. Hingga menjelang Rakernas, lebih dari 20 makalah telah masuk. Hal tersebut, menurut Joko, menunjukkan pustakawan memiliki kapasitas dan daya untuk menghasilkan gagasan serta karya.

Apresiasi untuk Pustakawan

Rakernas IPI 2026 juga akan dirangkai dengan IPI Award, sebagai bentuk apresiasi terhadap pustakawan yang selama ini menjalankan kerja secara konsisten di tengah masyarakat.

“Di balik rak-rak buku ada kerja sunyi pustakawan dalam memberikan akses pengetahuan. Kerja seperti ini belum banyak mendapatkan apresiasi, padahal memiliki peran dalam memperkuat budaya baca dan literasi,” ujar Joko.

Sebanyak 23 pustakawan telah diusulkan dari berbagai daerah untuk mengikuti IPI Award.

Wakil Ketua Umum PP IPI, Edi Wiyono, mengatakan IPI Award diberikan dengan sejumlah kriteria, antara lain diperuntukkan bagi anggota IPI, memiliki rekam jejak profesi, serta menunjukkan program inovasi yang memberikan dampak bagi organisasi dan masyarakat.

“Program inovasi yang dilakukan harus memberikan dampak, baik bagi asosiasinya maupun masyarakat. Rekam jejak profesi dan dokumen pendukung juga menjadi bagian dari penilaian,” jelas Edi.

Ia menambahkan, dalam Kongres IPI di Batam sebelumnya, organisasi telah mengusung nilai dasar IPI sebagai organisasi yang adem, demokratis, advokatif, dan efektif. Nilai tersebut diharapkan semakin diperkuat melalui Rakernas 2026 sebagai rumah bersama para pustakawan Indonesia.

Tantangan Jumlah dan Persebaran Pustakawan

Joko mengungkapkan Indonesia memiliki sekitar 219 ribu perpustakaan, yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah perpustakaan terbesar di dunia. Namun, persebarannya belum merata dan sekitar 80 persen di antaranya merupakan perpustakaan sekolah.

Sementara itu, jumlah pustakawan tercatat sekitar 22.218 orang, termasuk 5.365 pustakawan PNS. Adapun pustakawan yang telah tersertifikasi mencapai 3.305 orang.

Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara jumlah pustakawan dengan kebutuhan masyarakat yang dilayani.

Tantangan lain adalah keterbatasan jumlah asesor serta tempat uji kompetensi pustakawan. Persoalan tersebut menjadi bagian yang perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan profesionalisme pustakawan ke depan.

Menurut Joko, tantangan perpustakaan tidak hanya menyangkut jumlah, tetapi juga konektivitas, konten dan konteks. Masyarakat yang berada jauh dari akses perpustakaan, misalnya, perlu dijangkau melalui layanan seperti perpustakaan keliling.

Pada saat yang sama, perpustakaan dituntut menghadirkan konten yang relevan, termasuk karya-karya ilmiah, serta mengembangkan layanan yang semakin inklusif

Ketua Panitia Rakernas IPI 2026 sekaligus Ketua PD IPI Jawa Tengah, Itmamudin, mengatakan sekitar 200–300 peserta diperkirakan hadir dalam Rakernas IPI di Semarang.

Selain agenda organisasi, peserta juga akan diperkenalkan dengan potensi wisata dan perpustakaan di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang dan sekitarnya.

Sejumlah destinasi yang masuk dalam rangkaian kegiatan antara lain Kota Lama Semarang, Lawang Sewu, Candi Gedongsongo, Dusun Semilir, Agrowisata Sido Muncul, serta sejumlah perpustakaan, termasuk perpustakaan Universitas Diponegoro dan Universitas Islam Sultan Agung.

“Selain membahas agenda organisasi, kami ingin memperkenalkan potensi wisata, kuliner dan perpustakaan yang ada di Jawa Tengah kepada para peserta,” kata Itmamudin.

Dengan berbagai agenda tersebut, Rakernas IPI 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi forum evaluasi organisasi, tetapi juga momentum memperkuat posisi pustakawan sebagai bagian penting dalam membangun masyarakat yang literat, kritis dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Tema “Pustakawan Terlibat, Bersinergi dan Berdampak” pun menjadi penegasan bahwa pustakawan tidak lagi hanya identik dengan aktivitas di balik rak buku, tetapi memiliki peran strategis dalam membuka akses pengetahuan dan memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. (Stevani Sahertian)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU