SHNet, Jakarta-Ballroom Yustinus di lantai 15 Kampus Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, di Jalan Sudirman No 51, Jakarta Selatan, sejak siang hingga malam, dipenuhi sivitas akademika-mulai pimpinan yayasan, rektor, dosen hingga mahasiswa. Tamu dari berbagai kalangan juga tampak hadir, termasuk rektor, dosen, dan sejumlah mahasiswa dari Institut Media Digital Emtek (IMDE), Jakarta Barat.
Akhir pekan ini, tepatnya, Jumat, 9 Oktober 2026, ada acara besar memperingati 100 Tahun Frans Seda. Sosok multidimensi-tokoh pendidikan, keagamaan, politisi, dan birokrat- bernama lengkap Franciscus Xaverius Seda yang dilahirkan pada 4 Oktober 1926, di Maumere, Flores Tengah, NTT, memang sangat erat dengan Unika Atma Jaya, sebab dia menginisiasi pendirian universitas yang kini berkembang di sejumlah kota.
Peringatan 100 Tahun Frans Seda yang diberi tajuk “Centennial Celebration” dikemas dengan berbagai acara yang cukup hikmat, menarik, menghibur, dan kekinian. Dimulai dengan Misa Syukur bersama Uskup Ignatius Kardinal Suharyo, di Kapel St. Albertus Magnus, Gedung Karol Wojtyla lantai 13 pada siang hari.
Menjelang sore dan malam, acara dilanjutkan dengan acara pokok “Centennial Celebration”. Diawali beberapa sambutan, salah satunya dari Rektor Unika Atma Jaya, Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Sp.S (K) yang menjelaskan rangkaian peringatan Frans Seda, lalu berharap munculnya Frans Seda – Frans Seda muda yang dapat meneruskan ide, gagasan, dan perjuangan Tokoh Frans Seda. Karena dalam acara ini ada kerja sama dengan IMDE, Rektor IMDE, Totok Amin Soefijanto, Ed.D ikut memberikan sambutannya. Beliau juga sebelumnya, lama menjadi juri dalam ajang lomba yang digelar Frans Seda Foundation.
Usai seremoni sambutan, disuguhkan penampilan drama teatrikal perjalanan tokoh Frans Seda dengan judul ‘Untuk Tuhan dan Tanah Air’. Selingan permainan alat musik Sasando khas NTT oleh Matio Jubileo, meanambah semarak perayaan ini.
Di acara ini juga dimumkan hasil lomba film vertikal bertema kebhinekaan yang pelaksanaannya merupakan kolaborasi IMDE dan Frans Seda Foundation. Peserta lomba film vertikal berasal dari berbagai daerah dan dua pemenang dari Lampung dan Klaten hadir di panggung ballroom.
Yang cukup menarik dan kekinian, panitia perayaan 100 Tahun Frans Seda, melalui kecanggihan kecerdasan atau AI, berhasil ‘menghidupan sosok Frans Seda’ dalam bentuk talkshow antara hadirin dan Frans Seda. Penampilan Frans Seda dalam rekaan AI begitu menawan, dengan senyum khas dan cara bicara Frans Seda yang tenang dan penuh makna, hadirin seakan menyaksikan langsung keberadaan sang tokoh.
Dalam talkshow ini Frans Seda menjawab dengan jelas dan lugas, prtanyaan yang diajukan hadirin. Patut digarisbawahi di sini, Frans Seda dalam menjawab pertanyaan, bahwa pendidikan, belajar yang sungguh-sungguh, dan kerja keras merupakan modal utama untuk meraih kemajuan. Frans Seda sangat menekankan pada generasi muda untuk melakukan hal itu dan juga mengingatkan soal integritas moral.

Suasana Baru
Sementara itu, Rektor IMDE, Totok Amin Soefijanto, Ed.D mengatakan, kita merayakan 100 Tahun Frans Seda dengan suasana baru. Kehadiran AI memungkinkan kita berdialog dengan figur Frans Seda. Semua pikiran beliau dapat kita dengar dan lihat langsung, lengkap dengan ekspresi wajah, gestur, dan emosi nada suaranya.
“Kita dari generasi yang lebih tua dapat membantu generasi muda memahami ide dan kegundahan Frans Seda, melalui AI dan media baru seperti film short vertikal, selain dari membaca ribuan artikel karyanya,” katanya.
Dikemukakan Totok, IMDE turut serta merayakan Centennial ini dengan lomba film short vertikal untuk siswa SLTA dari seluruh Indonesia. Kami mendasarkan ide lomba dari Terowongan Silaturahim yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta sebagai lambang persatuan dan keharmonisan.
Menurut Totok, ada dua tujuan dari Lomba Film Vertikal IMDE 2026. Pertama, salah satu inti pesan dari Frans Seda adalah jadilah jembatan. Lomba film ini diinspirasi adanya Terowongan Silaturahim antara Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta. Indonesia harus terus merawat persatuannya.
Kedua, film vertikal merupakan kreasi yang mulai tumbuh pesat. Dracin (drama China) misalnya menghasilkan miliaran dolar. IMDE dan Frans Seda Foundation (FSF) mewujudkan lomba ini dengan harapan munculnya bakat muda, Frans Seda muda, yang akan memajukan industri kreatif .
“Demikian, kami persembahkan para pemenang lomba film vertikal yang pertama. Terimakasih kepada FSF, RANS Entertainment, Superbank, Vidio.com, Mayora, Emtek Media, Emtek Beauty, dan seluruh sponsor,” ujar Totok .

Pemenang Lomba Film Vertikal
Seperti disinggung diawal, dalam perayaan 100 Tahun Frans Seda ini diumumkan hasl Lomba Film Vertikal 2026 Kegiatan ini bersinergi dengan panitia peringatan 100 Tahun Frans Seda, sebagai bagian dari upaya mendorong kreativitas generasi muda melalui karya audiovisual yang mengangkat nilai keberagaman, toleransi, dan kebersamaan.
Dalam kompetisi yang diikuti pelajar SMA/SMK sederajat dari berbagai daerah di Indonesia ini, SMKN 65 Jakarta berhasil meraih Juara 1. Posisi Juara 2 diraih SMK Kristen Immanuel 2 Sungai Raya, sedangkan Juara 3 diraih MAN 2 Tulang Bawang Barat. Adapun Juara Harapan 1 diraih SMKN 1 Klaten dan Juara Harapan 2 diraih SMAK Monte Carmeli Maumere.
Berikut daftar lengkap pemenang Lomba Film Vertikal 2026:
- Juara 1: SMKN 65 Jakarta
- Juara 2: SMK Kristen Immanuel 2 Sungai Raya
- Juara 3: MAN 2 Tulang Bawang Barat
- Juara Harapan 1: SMKN 1 Klaten
- Juara Harapan 2: SMAK Monte Carmeli Maumere
Ketua Lomba Film Vertikal 2026, Teguh Setiawan, S.Pd., M.I.Kom., menjelaskan bahwa film vertikal berdurasi pendek merupakan bentuk adaptasi perfilman terhadap perubahan perilaku audiens di era digital.
“Film vertikal bukan sekadar mengubah format gambar menjadi tegak, tetapi juga membutuhkan pendekatan visual dan cara bercerita yang berbeda. Sementara itu, durasi pendek menuntut pembuat film mampu membangun konflik, emosi, dan pesan secara efektif sejak awal cerita,” ujar Teguh.
Menurutnya, tantangan utama film berdurasi pendek adalah menyampaikan cerita yang utuh dan bermakna dalam waktu terbatas.
“Justru di sinilah kreativitas diuji. Bagaimana membuat penonton terhubung dengan cerita, merasakan emosinya, dan mengingat pesannya meski dalam waktu singkat. Kami berharap lomba ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki makna,” tambahnya.
Melalui kompetisi ini, para peserta didorong untuk mengembangkan kemampuan bercerita, mengeksplorasi teknik produksi audiovisual, serta memanfaatkan format vertikal sebagai medium penyampaian pesan yang relevan dengan perkembangan platform digital.
Angkat Keberagaman
Teguh Setiawan menjelaskan, Lomba Film Vertikal 2026 mengusung tema “Berbeda, Bersama, Ruang untuk Semua”, yang mengajak generasi muda memandang keberagaman sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis. Tema ini juga terinspirasi dari nilai toleransi dan persaudaraan yang tercermin dalam Terowongan Silaturahim, yang menghubungkan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral Jakarta.
Melalui medium film vertikal, para peserta didorong untuk mengembangkan ide cerita yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, membangun empati, serta menyampaikan pesan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup berdampingan dan saling menghargai.(sur)

