7 November 2026
HomeBeritaUntuk Para Elit Republik Indonesia: Sampai Kapan Membiarkan Rakyat Menderita?

Untuk Para Elit Republik Indonesia: Sampai Kapan Membiarkan Rakyat Menderita?

Oleh: Jacobus K. Mayong Padang

Hari kedua kehebohan negeri ini karena sejumlah petinggi Polri ditangkap, Rabu 4 November 2026, saya mampir di sebuah ATM.
Seperti sebelumnya pernah saya iseng memungut struk yang menumpuk dalam kerajang sampah di samping ATM.

Sesampai di rumah saya meraih kopi yang sudah disiapkan istri tercinta lalu selonjoran di lantai untuk menikmatinya.

Struk penarikan, penyetoran dan pengiriman yang saya pungut lalu saya hitung, 114 lembar. Itu baru stengah hari dan boleh jadi sebelumnya sudah ada pembersihan.

Saya memilahnya. Yang saldonya di atas Rp 1 juta 48 lembar, yang di bawah Rp 1 juta 62 lembar dan 14 lainnya ada yg gagal dll.

Yang saldo di bawah Rp 1 juta, hanya beberapa lembar saja yang nilainya di atas Rp 500.000. Selebihnya dan terbanyak ada di hitungan di bawah Rp 300 ribu saja. Setidaknya itu sebuah gambaran kondisi ekonomi RAKYAT banyak.

Indonesia kalahkan Cina?

Keesokan harinya seorang pejabat pemerintah yang saya tidak tahu namanya dengan penuh semangat menjelaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,47%. Yang sungguh mengagetkan, katanya, itu lebih tinggi dari sejumlah negara maju termasuk Cina dan Korea Selatan.

Terus terang saya ragu dengan angka2 tsb. Termasuk sangat ragu ketika beberapa hari sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartato muncul di TV menjelaskan sejumlah kemajuan di bidang ekonomi di antaranya penurunan pengangguran. Dengan penurunan itu katanya, sekarang, Indonesia mencatat pengangguran terendah sejak 1994.

Suer, saya sangat meragukan angka itu berdasar pengamatan saya. Saya termasuk orang yang suka keluyuran. Di mana2 banyak lapak, warung, konter, gerai bahkan ruko yang tutup. Beberapa kali saya naik, waktu tempuhnya untuk suatu rute jauh lebih lama di banding tahun-tahun lalu misalnya.

Itu karena ngetemnya lebih lama menunggu penumpang. Sopirnya mengeluh karena penumpang berkurang. Begitu juga ojek motor. semua mengeluhkan kurangnya penumpang karena selain ekonomi yang sulit juga karena ojolnya semakin membludak.

Hanya saja saya orang yang awam masalah ekonomi. Karena itu saya harus mengurut dada memendam keraguan yang menyesakkan.

Sambil sesekali menyeruput kopi Toraja yang aromanya menyengat, saya selanjutnya menelisik angka2 di struk yang saldonya di bawah Rp 300.000. Seperti sudah saya tulis di atas, itu yang prosentasinya terbanyak.
Tetapi selain prosentasenya terbesar, lebih memiriskan hati jika mencermati sirkulasi yang tergambar di struk.

Misalnya yang menyetor Rp.100.000 lalu saldonya tercatat Rp 101.221.000. Berarti sebelumnya saldonya hanya Rp 1.221 saja. Ada lagi tertulis saldo awal Rp 14.000 lalu menyetor Rp 50.000 maka saldonya menjadi Rp 64.000. Ada juga yang lumayan saldo awalnya Rp 800.000 lalu menyetor Rp 100.000 sehingga saldonya jadi Rp 900.000.

Tetapi ada yang sungguh memprihatinkan, melakukan penarikan Rp.200.000 dan saldonya habis. Hal itu pertanda hari itu yang bersangkutan sangat butuh sehingga harus menarik semua uangnya yang ada. Boleh jadi kebutuhan sesungguhnya lebih dari Rp 200.000 tetapi karena uangnya cuma sebesar itu, maka itulah yang dia tarik habis.

Kesenjangan yang eksrim.

Bacaan lain dari sirkulasi yang amat kecil itu ialah mereka yang menyetor sekecil iti kemungkinan besar adalah pemilik warung2 kecil di pinggir jalan dan pekerja informal. Sungguh menyedihkan, mereka hanya bisa menyimpan Rp 50, Rp 75, Rp 100 sampai Rp 150 ribu saja. Sangat kecil, dan saya yakin kondisi demikian terjadi di seluruh negeri tercinta ini.

Ironisnya sirkulasi yang sungguh menyayat hati itu terjadi di saat 2 pejabat pemerintah dengan bangganya mengumumkan angka pengangguran yang katanya terendah sejak 1994. Dan yang lebih membuat pemerintah mendongak, pertumbuhan ekonomi 5 47% mengalahkan sebagian negara maju seperti Cina dan Korea Selatan.

Memungut struk di ATM beberapa kali saya lakukan di tempat yang berbeda. Itu saya lakukan terutama bila ada issu2 yang sedang hangat. Termasuk saat polisi menggeledah sebuah rumah mewah di Sentul dan menemukan uang Rp 457 milyar dan emas batangan 74 kg. Sementara di tingkat bawah ada warga yang harus menghabiskan tabungannya Rp 200.000 saja karena sedang butuh.

Jadi di negeri yang sangat kaya sumber daya alam ini, ada segelintir orang yang berkelimpahan sampai harus menyimpan uang tunai di rumahnya ratusan milyar sementara mayoritas RAKYAT hidup dalam kondisi yang amat sulit. Setidaknya itu yang tergambar dari struk2 penarikan, penyetoran dan pengiriman di ATM2.

Sekaligus gambaran betapa kesenjangan ekonomi di republik ini amat ekstrim.

Negara untuk elit

Sayangnya dalam berbagai kesempatan, yang ditampilkan, dipidatokan, dilaporkan, dipublikasikan adalah angka pertumbuhan ekonomi. Angka itu membuat elit yang sedang berkuasa pasti mendongak, puas dan bangga. Tetapi mereka tidak pernah tunduk melihat keadaan RAKYAT di level paling bawah. Mereka tidak menyaksikan dan merasakan keadaan yang sesungguhnya terjadi dan sedang menimpa RAKYAT banyak.

Sekarang hari ke empat setelah heboh petinggi Polri ditangkap. Hebohnya belum redah. Masih jadi perbincangan di mana2. Salah satu yang diperbincangkan, kepentingan apa dan siapa penyadapan itu ? Semua penasaran dan menanti persidangan yang akan membuka tabir penyadapan.

Tetapi tanpa harus menunggu persidangan, yang jelas dan pasti, semua issu2 besar dan hangat umumnya adalah pertarungan elit untuk mendapatkan, mempertahankan dan menikmati kekuasaan. Sangat jarang elit ribut karena memperdebatkan nasib RAKYAT, atau kepentingan mereka yang harus menarik semua tabungannya yang hanya Rp 200 ribu saja.

Kepentingan elit, itu yang tidak bisa dibantah.
Rezim silih berganti. Tetapi kondisi ekonomi RAKYAT tidak banyak berubah. Angka pertumbuhan ekonomi boleh tinggi tetapi penderitaan RAKYAT tidak lalu redah.
Jadi kalau elit ribut, sesungguhnya mereka ribut untuk kepentingan mereka, tidak untuk RAKYAT.

Persis yang kita saksikan 2 hari terakhir. Segera setelah 3 petinggi Polri ditahan, TNI langsung mengerahkan 20.000 pasukan TNI AL masuk Jakarta. Alasannya, untuk menjaga keamanan. Sementara jauh di pedalaman Papua sudah bertahun, begitu banyak RAKYAT yang dibunuh. Tetapi walaupun sudah berlangsung lama dan korban sudah begitu banyak, sampai sekarang belum dilakukan penanganan yang serius untuk melindungi warga di sana. Begitupulah karhutlah yang menghanguskan jutaan hektar hutan dan menyiksa jutaan warga, sampai sekarang belum selesai. Tetapi tidak ada pengerahan tenaga bantuan dalam jumlah sebesar yang dikerakan masuk Jakarta karena pertarungan elit.

Mencermati struk yang saya pungut di ATM, sebagai seorang Marhaenis, patutlah mengajukan pertanyaan kepada seluruh elit negeri ini; ” sampai kapan nembiarkan RAKYAT menderita ?”

Saya tinggal di Rawajati tempat persembunyian Tan Malaka dan menulis buku MADILOG yang melegenda. Maka teringatlah salah satu pesan Tan Malaka; “tidak mungkin kita mempercayakan nasib RAKYAT kepada orang yang hidupnya tidak seperti RAKYAT” .
Jelas, RAKYAT tidak bisa lagi mengharapkan elit sekarang yang sebagian besar sudah naik kelas menjadi elit yang hidupnya nikmat.

Walaupun di antara mereka banyak aktifis yang dulu lantang meneriakkan kepentingan RAKYAT. Tetapi tidak banyak yang konsiaten berjuang setelah masuk sistim. Konsisten sangat mahal. Pragmatisme selalu temukan alasan.

Penulis, Jacobus K. Mayong Padang. Penyambung Lidah Marhaen.

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU