Jakarta – Pemberlakukan kebijakan Zero ODOL (Over Dimension Over Load) pada awal tahun 2023 mendatang bisa menyebabkan harga cabai di Jakarta mencapai Rp 100 ribu per kilogram. Hal itu disebabkan adanya kenaikan ongkos kirim komoditas cabai yang dikenakan para ekspedisi akibat terjadinya pengurangan muatan. Kenaikan harga cabai sebesar itu belum termasuk faktor lainnya seperti cuaca dan hama cabai.
Salah seorang bandar cabai di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, H. Nurcholis, menuturkan dalam kondisi normal saat ini dimana Zero ODOL belum diberlakukan, harga cabai keriting di Pasar Induk Kramat Jati mencapai Rp 30 ribu per kilogram (kg) dan cabe rawit merah Rp 50 ribu. Menurutnya, harga itu sudah berdasarkan kalkulasi modal dan ongkos armada angkutan dari Jawa Tengah ke Jakarta, yaitu sebesar Rp 1.000 per kg.
Jadi, katanya, kalau Zero ODOL diberlakukan, jelas itu akan menaikkan ongkos kirimnya juga. Jika ongkos kirim naik Rp 1.500 – 2.000 saja, menurut Nurcholis, itu sudah sangat memberatkan bagi para pedagang cabai di Pasar Induk Kramat Jati. “Kenaikan ongkos kirim ini pasti akan diikuti dengan kenaikan harga cabai yang akan kita jual. Harganya bisa-bisa nanti menjadi Rp 100.000-an per kilonya. Jelas itu sangat memberatkan bagi kita para pedagang cabai di Pasar Induk Kramat Jati. Penjualan bisa turun dan kita bisa rugi karena banyak cabai yang akan kering karena kelamaan disimpan,” kata pria yang sudah 22 tahun menjadi bandar cabai di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur ini.
Dia mengatakan selama ini cabai ke Pasar Induk Kramat Jati dari Jawa Tengah dan Jawa Timur diangkut dengan menggunakan Colt Disel yang secara tonase bisa membawa sebanyak 4,5 ton untuk sekali jalan. Namun, jika kebijakan Zero ODOL diberlakukan, tonase yang bisa diangkut hanya 2,5 ton saja untuk sekali jalan. “Artinya, cabai yang biasanya bisa dibawa dengan hanya satu truk saja, itu akan diangkut dengan dua truk. Itu kan sama saja dengan mengurangi pendapatan para supir truk dan bahkan mereka bisa nombok. Untuk itu, para supir truk itu jelas akan meminta agar ongkos per kilonya dinaikkan,” ungkap Nurcholis.
Waktu terjadi mogok para supir truk di Bandung, Surabaya, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, beberapa hari lalu saja, menurut Nurcholis, harga cabai langsung naik sebesar Rp 5 ribu per kilonya. “Itu karena cabai itu banyak dipasok dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jadi, waktu terjadi mogok mobil ekspedisi di sana, itu menyebabkan pasokan cabai ke daerah-daerah pasar induk yang ada di Cibitung, Bogor, dan juga Jakarta kurang,” katanya.
Faruk, supir truk asal Temanggung menuturkan biaya yang dikeluarkan untuk mengangkut cabai sebanyak 4,5 ton dengan menggunakan Colt Diesel dari Kendal Jawa Tengah ke Pasar Induk Kramat Jati mencapai Rp 1 juta. Itu di luar biaya kalau dia terkena tilang di jalan karena membawa truk ODOL. “Untuk satu rit, kita hanya bisa mengantongi uang Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu per orang kalau kita lagi berdua. Karena kita juga harus membayar setoran truknya juga,” tukasnya.
Jadi, kata Faruk, jika Zero ODOL diberlakukan pada 2023 nanti, bisa dipastikan para supir tidak akan bisa mengantongi uang lagi. “Ongkos kirim itu hanya tinggal Rp 3 juta sajauntuk sekali jalan. Uang segitu jika dikurangi biaya operasional di jalan saja sudah habis. Artinya, kita kerja susah-susah percuma aja dong,” cetusnya.
Arie, pemilik truk XPDC Prabowo Bersaudara mengatakan dengan diberlakukannya Zero ODOL pada 2023 mendatang, ongkos kirim diperkirakan akan naik menjadi 2-3 kalinya. “Kalau pengirim juga tidak mau menaikkan ongos kirimnya, kemungkinan bisa terjadi kita sebagai ekspedisi juga tidak akan mau mengangkut. Akibatnya, akan terjadi kekurangan pasokan di Jakarta dan harga sembako dipastikan akan naik,” ucapnya. (crls)

