SHNet, Jakarta – Persoalan narkoba di Indonesia sampai saat ini masih sesuatu yang bersifat mengkhawatirkan dan kompleks. Kita dapat melihat diberbagai media cetak dan elektronik yang meningkatnya pengungkapan kasus tindak kejahatan narkoba yang semakin beragam polanya dan bahkan semakin masif pula jaringan sindikatnya.
Penyalahgunaan narkotika sudah tidak memandang bulu dengan dibuktikan para korban penyalahgunaan narkotika, sudah ada dilapisan masyarakat. Seperti dari anak-anak, sampai orang dewasa, begitu juga dari tingkat.
Pendidikan baik yang berpendidikan rendah sampai seseorang yang memiliki Pendidikan tinggi. Jika dilihat dari profesi pekerjaan korban penyalahgunaan narkotika sudah ada dari artis, pendidik, pejabat, aparat negara bahkan tokoh agama.
Menurut laporan BNN peningkatan korban narkoba terjadi 24% sampai 28%. Berdasarkan laman situs Rumah Sakit Hermina, “para remaja yang menggunakan obat-obatan terlarang banyak disebabkan oleh faktor pengaruh lingkungan dan individu yang buruk.” (“Bahaya Narkoba Bagi Remaja,” Rumah Sakit Hermina Bogor, https://herminahospitals.com/id/articles/bahaya-narkoba-bagi-remaja.html.), terlebih lagi pengetahuan orang tua akan bahaya narkoba begitu sangat minim, sehingga mengakibatkan para remaja mudah terjerumus ke dalam narkoba.
Umumnya anak dan remaja menerima informasi perihal narkoba dari luar rumah yang sebagian besar dari teman-teman sebayanya. Alasan remaja mencoba memakai narkoba umumnya karena dapat membuat mereka merasa nyaman atau nikmat.
Orang tua yang tidak memahami secara jelas pengaruh narkoba sering terkesan menakuti dan tidak ada maknanya sehingga remaja berani menggunakan dan terpengaruh dari lingkungan luar.
Berdasarkan hal tersebutlah maka Universitas Kristen Indonesia (UKI), beserta GERAM (Gerakan Anti Madat) yaitu organisasi yang tertua berdiri tahun 1999 di Indonesia yang memberantas Narkoba, sejak tahun 2019 telah melakukan MOU bergandengan tangan mendukung pemerintah dalam memberantas narkoba.
Kolaborasi yang dilakukan pada tanggal 12 Maret 2022, dengan mengadakan seminar edukasi kepada masyarakat terutama dalam dunia pendidikan yang bertempat di Aula SMP SwastaMitra, dengan tema.
“Peranan Pendidikan Agama Kristen Dalam Mengedukasi Peserta Didik Tentang Bahaya Penyalahgunaan Narkoba”,guna mencegah penyelewengan dan penyimpangan dari narkoba, sehingga remaja dapat diselamatkan dari penyalahgunaan narkoba.
Dalam seminar ini, terdapat 3 pembicara yang memberikan edukasi yaitu Dr. A. Dan Kia, M.Th, Abraham Tefbana, M.Pd.K, dan Roce Marsaulina, M.Pd. Setiap pembicara dalam kesempatan ini sangat begitu menekankan tentang lebih baik untuk mencegah daripada mengobati.
Sebagaimana dari tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar dan indah untuk kehidupan.
Peran Guru merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan kegiatan Pendidikan agama Kristen. Prof. Brian Hill dalam B.S Sidjabat mengatakan “guru merupakan jembatan bagi para peserta didik dengan dunianya.”
Guru adalah pembimbing bagi peserta didik untuk belajar, mengenal, memahami, dan menghadapi dunia tempat ia berada, bahkan bahaya-bahaya seperti narkoba dapat disosialisasikan sehingga mereka dapat bertanggung jawab.
Sedangkan guru agama Kristen adalah guru yang mengajarkan cara hidup yang berkenan kepada Tuhan, dan membentuk karakter peserta didik, agar mereka menjadi manusia yang bertanggung jawab. Itu merupakan tugas utama dari guru agama Kristen, seorang guru menjadi wakil Kristus sehingga peserta didik akan melihat Kristus melalui gurunya di sekolah.
Penyalahgunaan narkoba dapat dicegah, dan memang harusnya demikian. Dari sinilah peran PAK dalam keluarga, gereja, sekolah dan masyarakat sangat dibutuhkan.
Ada beberapa kunci cara mengajarkan masalah narkoba kepada remaja;
1. Jangan memberi ceramah, sebab hal itu menyebabkan remaja itu menjahui anda.
2. Jangan menjadikan pengajaran itu sebagai acara formal, sebaliknya ajarkan dengan mengajak menonton bersama, mendengarkan radio, membaca dan lain sebagainya.
3. Gunan gambar-gambar dari buku untuk menjelaskan berbagai jenis narkoba, sehingga mereka mengenalnya ketika ditawarkan oleh teman atau lingkungannya.
4. jelaskan bahwa jika seseorang memakai narkoba untuk menghindari persoalan, menghilangkan rasa sakit dan stres, maka pengaruh itu hanya sementara dan setelah itu persoalan-persoalan dan rasa sakit itu akan datang lagi.
Dari hal tersebut langkah pencegahan dan penanggulangan narkoba adalah dengan teknik komunikasi yang paling efektif untuk diterapkan karena hubungan kedua arah dapat terjadi dan memberikan efektif positif pada kedua pihak, baik itu remaja dan orang tua atau pemimpin gereja atau guru.
Penerapan media teknologi juga dapat menjadi sarana bahan untuk membangun komunikasi yang baik kepada remaja.
Dalam seminar ini juga dijelaskan dampak dari penggunaan narkoba bagi remaja yaitu; 1. Perubahan dalam sikap, perangai, dan kepribadian. 2. Sering membolos, menurunnya kedisplinan dan nilai-nilai pelajaran. 3. Menjadi mudah tersinggung dan cepat marah. 4. Sering menguap, mengantuk, dan malas. 5. Tidak memedulikan kesehatan diri. 6. Selalu mencuri untuk membeli narkoba. Sedangkan bagi tubuh sendiri memiliki dampak; 1.
Dehidrasi, 2. Halusinasi, 3.Hilang Kesadaran, 4. Penyakit Kardiovaskular, 5. Masalah Pernapasan, 6. Kerusakan Ginjal, 7. Penyakit Hati, 8. Efek pada Otak, dan 9.Kematian. Semua hal tersebut harus dipaparkan agar setiap peserta dapat memiliki pengetahuan sehingga mereka tidak lagi mau mencoba-coba. Dari hal tersebut tujuan dari “lebih baik mencegah dari pada mengobati” bisa terlaksana. (ROCE MARSAULINA)

