9 June 2026
HomeBeritaKopi Ijen Raung Banyuwangi Disukai Turis Asing

Kopi Ijen Raung Banyuwangi Disukai Turis Asing

SHNet, Jakarta –  Kopi yang ditanam di kaki Gunung Ijen biasanya disebut Kopi Ijen atau Kopi Ijen Raung, mulai dikenal tahun 1978 dan lebih banyak berjenis kopi arabika karena berasal dari dataran tinggi pegunungan Ijen Raung.

Wilayah tersebut sangat cocok untuk budidaya perkebunan kopi arabika, yang umumnya tumbuh pada ketinggian sekitar 700-1.700 kaki di atas permukaan laut, berbeda dengan jenis kopi robusta yang hanya bisa ditanam di dataran rendah.

Kopi Ijen khas Banyuwangi memiliki cita rasa unik karena terpaan udara asam belerang pegunungan Ijen dan udara yang mengandung asam garam laut. Cita rasa seperti ini sangat digemari oleh wisatawan baik domestik dan luar negeri.

“Sebelum pandemi, wisatawan Rusia dan Eropa sering datang ke kedai kopi di desa kami hanya untuk mencicipi kopi luwak arabika di sini, tidak jarang setelah membawa pulang Kopi Ijen, mereka akan melakukan repeat order dan kita kirim ke negara mereka,” ujar Achmad, seorang petani kopi di Banyuwangi.

Sebelum pandemi, ia sering mengirim kopi luwak dan kopi arabika merek “Ijen Maning” miliknya dengan kisaran harga Rp1 juta per kilogram untuk kopi luwak dan Rp400 ribu per kilogram untuk kopi arabika kepada pelanggan-pelanggan asing yang pernah datang ke kedainya.

“Permintaan paling besar itu sebenarnya datang untuk kopi luwak liar. Petani kopi di sini benar-benar mengumpulkan biji kopi hasil dari pembuangan binatang luwak yang memang berkeliaran di perkebunan kopi. Luwak itu memilih sendiri tumbuhan kopi terbaik untuk dimakan sehingga kualitas biji kopi luwak ini sangat baik. Namun karena pasokan luwak liar sangat terbatas, biasanya kami selalu menawarkan 2 kopi tersebut,” tambahnya.

Walaupun tak seramai sebelum pandemi, kini kedai kopi Ijen Maning milik Achmad mulai berangsur pulih. Tanpa karyawan, Achmad yang dibantu oleh istri anaknya dengan giat memenuhi permintaan konsumen akan kopi-kopinya.

Pemerintah daerah Banyuwangi sendiri memang memiliki perhatian khusus akan potensi ekonomi dari pertanian Kopi. Sejak awal tahun 2009, pemerintah Banyuwangi terus menerus memberikan pelatihan untuk petani-petani kopi.

Hingga saat ini, pemerintah daerah terus mendukung geliat para petani kopi Ijen salah satunya Banyuwangi Festival (B-Fest) dan menggelar acara di berbagai sudut kota dan desa, guna menarik wisatawan untuk masuk ke jalan desa di mana setiap warga menjual kopi hasil panen rumahannya.

Guna meningkatkan potensi ekonomi Banyuwangi, Pemda Banyuwangi melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi menargetkan 3 juta wisatawan berkunjung ke Banyuwangi pada tahun 2022 ini, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Sementara itu, merujuk data BPS Jatim (2020) di Jawa Timur terdapat area produksi kopi seluas 113.332 hektare yang tersebar di Banyuwangi, Kabupaten Malang, Jember, Bondowoso, dan Kabupaten Blitar dengan total produksi mencapai 68.114 ton kopi.

Sedangkan dari Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas), di Jatim terdapat 24 industri pengolahan kopi skala besar yang tersebar di wilayah Sidoarjo, Jember, Malang, Pasuruan, Gresik, dan lain-lainnya.

Dan data Pusdatin Kemenperin mencatat nilai ekspor kopi dan produk kopi Jawa Timur pada tahun 2020 meningkat dibandingkan tahun 2019, dengan nilai sebesar 164,01 juta dolar AS pada tahun 2019, menjadi 166,85 juta dolar AS pada tahun 2020 atau meningkat 1,73 persen. (Vicky Tjoa)

 

 

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU