SHNet, Depok– Lebih dari 30 tahun, Toyibudin M Kodri, pria asal Purworejo mengonsumsi kopi.
Meski awalnya dia minum kopi pabrikan yang dikemas dalam sachet
“Sejak SMA, saya sudah mengonsumsi kopi. Bahkan saat belajar bareng teman-teman di rumah, saya selalu sediakan kopi di gelas besar. Sudah 30 tahun saya mengonsumsi kopi. Namun, sekarang saya tidak lagi konsumsi kopi pabrikan,” ujar Toyibudin yang akrab disapa Budi kepada SHNet, Sabtu malam.
Peralihan dari konsumsi kopi pabrikan ke kopi tradisional menjadi kenangan tersendiri bagi pria yang memiliki hobi berpetualang dengan motor gede. Tahun 1992 Budi diajak oleh atasannya yang keturunan Irlandia untuk menikmati black coffee.
“Saat coba pertama kali, pahit banget. Maklum, saat itu saya biasa minum kopi pabrikan,” kata Budi dengan nada bersemangat. Perlahan tapi pasti, dia pun mulai meninggalkan kopi pabrikan dan beralih ke kopi tradisional. Sampai sekarang, ia rutin minum kopi, 2-3 cangkir sehari.
Menurutnya, kopi memiliki manfaat untuk kesehatan seperti meningkatkan Adrenalin, menururnkan berat badan/Bakar Lemak, kesehatan jantung dan sebagainya.
Kecintaan Budi terhadap kopi sejalan dengan kecintaannya pada tanah leluhur, Purworejo. Ia pun mencoba mengembangkan kopi dan UMKM di Purworejo.
Memperkenalkan kopi Purworejo ke kancah Nasional dan Internasional menjadi kerinduan ketua harian diaspora Purworejo yang meniti karier di Jakarta ini.
Berbagai upaya dilakukannya untuk memperkenalkan kopi asli Purworejo. Pada Juni nanti, dia dan teman-temannya akan membuat Coffee Lab. Mulai dari menanam, menjaga tanaman, petik merah, pemilihan kopi yang berkualitas baik, roasting hingga pengemasannnya, dilakukan di Coffee Lab.

Sebelumnya, Budi dan teman-temannya mendapat support dari Kemenkop melakukan pelatihan-pelatihan untuk pelaku UMKM kopi di Purworejo dengan mendatangkan barista. “Kami mendapat support dari Kemenkop pernah mendatangkan barista untuk memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM, pelatihan untuk membangun jaringan, pelatihan ecommerce. Kami juga punya forum diskusi yang melibatkan ahli pertanian, ahli penyimpanan kopi dan sebagainya,” ungkapnya.
H-7 Idul Fitri tahun ini, diaspora Purworejo berencana akan mengelar minum kopi gratis bagi para pemudik yang melintas di Jalan Daendels Purworejo dan di tengah kota Purworejo. “Tujuannya selain mempromosikan kopi Purworejo, juga destinasi wisata yang ada di daerah tersebut,” ujarnya.

Budi pribadi sejak tahun 2020 memiliki brand kopi BUD Coffee. Dia menggunakan kopi Purworejo, namun dipasarkan di daerah-daerah di luar Purworejo.
Jaga kualitas
Kopi Purworejo termasuk jenis kopi robusta yang umumnya tumbuh di Pulau Jawa. Selain memiliki cita rasa dan aroma yang khas, kopi Purworejo merupakan kopi organik karena tidak menggunakan pestisida.
Tak hanya sekedar memperkenalkan saja, kualitas dari kopi Purworejo juga harus dijaga. Kopi yang dipasarkan haruslah kopi yang petik merah. Inipun menjadi tantangan tersendiri
Ia menjelaskan, orang-orang di Purworejo masih banyak yang mengonsumsi kopi pabrikan. Selain itu, efisiensi yang membuat harga bisa berkompetisi.
Permasalah unik juga ada di petani kopi. Sebagian dr Mereka masih terbelenggu dengan kebutuhan Ekonomi sebingga sebagian ada yg dipetik saat biji masih Hijau. Hal tersebut berdampak pada kualitas kopi menjadi tidak bagus. “Kita sedang menyarankan agar petani tidak petik hijau. Kita sedang merancang Program pembelian saat mereka harus petik buah masih hijau dengan mencarikan solusi pendanaan dengan uang muka sebesar 70 persen, tetapi kopinya tidak boleh dipetik. Nanti kalau sudah merah baru dipetik. Dan kita beli dan Lunasi dengan harga kopi petik merah. Penggiat kopi juga memiliki kesepakatan beli kopi dengan harga yang sama dari petani,” kata Budi memaparkan.
Dia berharap, hingga akhir tahun 2022, Kopi Purworejo dapat menjangkau pasar Nasional. Ia juga tengah merintis pangsa pasar di Turki. Rencananya, tahun 2023, kopi Purworejo dengan brand Kopi Bagelen bisa menembus pasar Turki. (Van)

