17 April 2026
HomeBeritaPariwisataAkademi Batik Tuli(s) Palbatu, Perkuat Pemberdayaan Masyarakat Inklusif dan Pelestarian Budaya

Akademi Batik Tuli(s) Palbatu, Perkuat Pemberdayaan Masyarakat Inklusif dan Pelestarian Budaya

SHNet, Jakarta — Rumah Batik Palbatu resmi meluncurkan Akademi Batik Tuli(s) sebagai upaya memperkuat pemberdayaan masyarakat inklusif, khususnya difabel tuli, sekaligus melestarikan budaya batik di tengah perkembangan zaman.

Founder Rumah Batik Palbatu, Budi Dwi Haryanto mengatakan, kehadiran akademi ini tidak hanya berfokus pada penciptaan karya, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi para peserta. Menurutnya, program ini dirancang agar berkelanjutan, terutama bagi komunitas tuli yang selama ini memiliki keterbatasan akses.

“Rumah Batik Palbatu bisa menciptakan karya sekaligus nafkah bagi difabel tuli. Akademi Batik Tuli(s) ini akan terus kami jaga keberlanjutannya,” ujar Budi Dwi Haryanto yang biasa disapa Hari, di Rumah Batik Palbatu, Jakarta, Kamis (16/04/2026).

Ia menjelaskan, pihaknya juga berupaya menarik minat generasi muda, khususnya Gen Z, dengan menghadirkan inovasi dalam motif dan teknik batik. Rumah Batik Palbatu telah menciptakan hampir 100 canting cap dan sekitar 40 motif batik cap yang akan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

“Untuk motif, Saya banyak mengambil inspirasi dari kuliner, gedung-gedung di Jakarta, hingga tanaman. Jadi motif batik Jakarta tidak hanya terbatas pada ondel-ondel atau Monas,” katanya.

Selain itu, Rumah Batik Palbatu membuka akses belajar gratis bagi warga sekitar Palbatu serta merekrut siswa dan mahasiswa, termasuk dari sekolah luar biasa. Program ini didukung oleh tenaga profesional seperti psikolog, uji kompetensi dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), hingga penyediaan beasiswa.

Budi juga mengusung tagline unik, “Menjumpai Tuhan dengan batik”, sebagai bentuk pendekatan spiritual dalam proses berkarya.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jakarta Raya. Senior Manager Komunikasi dan Umum PLN UID Jakarta, Haris Andika, menyatakan pihaknya melihat potensi besar dari pengembangan batik di Jakarta sebagai sesuatu yang istimewa.

“Saya melihat di Jakarta, batik itu menjadi hal yang unik dan menarik. Rumah Batik Palbatu bisa menjadi ruang kolaborasi untuk melestarikan budaya sekaligus memberdayakan masyarakat inklusi,” ujarnya.

PLN turut memberikan pelatihan tambahan, khususnya di bidang pemasaran digital, agar para peserta tidak hanya memiliki keterampilan membatik, tetapi juga mampu memasarkan produknya secara mandiri.

“Kami melakukan pelatihan pemasaran digital dan menghubungkan mereka dengan marketplace PLN. Harapannya, mereka tidak hanya menjadi pengrajin, tetapi juga pelaku ekonomi yang mandiri,” kata Haris.

Ia menambahkan, PLN juga akan mendorong kolaborasi lebih luas dengan berbagai pihak, termasuk dinas pendidikan, guna memperkenalkan batik sebagai bagian dari budaya yang harus terus dijaga dan dikembangkan.

Haris mengungkapkan, pada 2025 Rumah Batik Palbatu telah meraih sejumlah penghargaan, termasuk UKM Award dan penghargaan tingkat provinsi, yang menjadi bukti kontribusinya dalam pengembangan ekonomi kreatif berbasis inklusi.

“Semoga ke depan kualitas dan kuantitas karya semakin meningkat, sehingga teman-teman inklusif tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga penggerak ekonomi,” ujarnya.

Peresmian Akademi Batik Tuli(s) ini diharapkan menjadi langkah strategis dalam memperluas akses pelatihan, memperkuat ekonomi kreatif, serta menjaga warisan budaya Indonesia melalui pendekatan yang inklusif dan berkelanjutan. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU