SHNet, Jakarta– Pelaku seni perempuan memiliki potensi yang besar untuk menghasilkan karya- karya yang luar biasa.
Sayangnya karya seni yang mereka ciptakan kurang gaungnya. Para pelaku seni perempuan masih bergerak sendiri- sendiri.
Hal inilah yang menjadi kegelisahan dari Fonnyta Amran, sutradara teater perempuan Indonesia. Ia menggagas hadirnya “Breaking Barriers Initiative”.
“Inisiatif ini dibentuk untuk membantu perempuan pelaku seni di Indonesia agar memiliki ruang yang lebih besar dalam berkolaborasi, belajar bersama, serta membangun jejaring untuk berproses dalam menciptakan karya pertunjukan,” ujarnya, di Jakarta, Kamis (11/8).
Lewat Breaking Barriers Initiative, Fonnyta ingin bentuk pelaku seni perempuan Indonesia seperti sutradara, produser, koreografer dan sebagainya bisa belajar bareng. “Ekosistem itu yang mau dicapai. Meski gak bisa instan,” ungkapnya.
Breaking Barriers Initiative akan menggalang berbagai diskusi tentang penyelenggaraan seni teater dan menghadirkan akademisi, pelaku seni, sutradara, penulis naskah dan produser baik dari Indonesia maupun internasional.
Kegiatan ini juga diharapkan dapat mempertemukan pelaku seni dengan pihak-pihak lain seperti korporasi, yang memiliki perhatian khusus dalam pengembangan seni teater di Indonesia.

Ia juga tidak menampik menjadi sutradara teater perempuan, tak sedikit tantangan yang dihadapinya. Salah satunya, saat mengambil keputusan.
Tak jarang, ada orang yang meragukan keputusannya, tidak dipercaya dan menganggapnya jutek. Baginya, seorang pemimpin dalam mengambil keputusan, tidak ada kaitannya dengan gender.
“Menghadapi tantangan seperti itu, saya memilih mendengarkan yang postif aja dan tetap berkarya,” ujar Fonnyta dengan santai.
Pada September 2021, Fonnyta menerima beasiswa untuk program master dalam penyutradaraan teater yakni Master of Art of Classical & Contemporary Theatre Directing di The Royal Conservatoire of Scotland, salah satu kampus terbesar dan terbaik dalam pendidikan seni pertunjukan di dunia. Fonnyta menjadi sutradara teater pertama dari Indonesia yang diterima di kampus tersebut.
Saat ini, ia tengah menggarap karya tentang perempuan. Meski belum ada judulnya, pengembangan naskah sudah dilakukan sejak April 2022.
Ia mengatakan, bentuk naskahnya pendek dan akan dibawa ke tempatnya menuntut ilmu di Skotlandia.
Rencananya, naskah tersebut akan ditampilkan dalam bentuk virtual performance pada Desember.
Karya seni yang sedang digarap Fonnyta bercerita tentang 3 orang perempuan dari 3 generasi dan etnik berbeda. Ketiganya mempunyai perspektif tentang cinta. (Stevani Elisabeth)

