18 July 2024
HomeBeritaCatatan Sepakbola Piala Eropa 2024, Anak-Anak Koloni di Tim Oranye...

Catatan Sepakbola Piala Eropa 2024, Anak-Anak Koloni di Tim Oranye…

Oleh : M. Nigara

Belanda hampir saja tidak lolos dari grup D, setelah segalanya: menang, seri, dan kalah. Beruntung UEFA ( Persatuan Asosiasi Sepak Bola Eropa ) masih memberi kesempatan bagi posisi tiga terbaik, maka tim asuhan Ronald Koeman itu bersama Georgia, Slovakia, dan Slovenia tetap bisa maju di babak 16 besar, Piala Eropa 2024.

Di babak Knockout , Belanda menjadi satu-satunya peringkat ketiga yang mampu mencapai Perempat final , setelah ‘menghancurkan’ Rumania 3-0. Di babak final, Belanda akan bertemu Turki, Sabtu (6/6/2024) di Stadion Olympiade Berlin, stadion yang sangat bersejarah bagi bangsa Jerman.

Sepanjang sejarah, Belanda sedikitnya memiliki dua tim nasional yang luar biasa. Pertama timnas 1974 dan 78, tim asuhan Rinus Michels itu mampu menjadi runner up Piala Dunia. Tahun 1974 kalah 1-2 dari tuan rumah Jerman Barat, dan 1978 kalah 1-3 juga dari tuan rumah Argentina.

Belanda memperkenalkan sepak bola total football , strategi yang diciptakan Michels itu memporak-porandakan sistem lama MW atau WM yang sebelumnya menjadi andalan. Lalu bermunculan nama-nama besar dari tim Oranye itu.

Johan Cruyff, Johan Neskens, Wim Yansens, Yan Jongbloed, Wim Rijsbergen, Ruud Krool, Arie Haan, Willy Van de Kerkhof, Rob Rensenbrink, Johnny Rep, dan lain-lain. Mereka berhasil mengguncang jagad sepakbola.

Lalu pada tahun 1988, Michels kembali dipercaya menjadi arsitek tim Oranye. Ia kembali mampu menggetarkan pentas Piala Eropa. Di final, mereka mengalahkan Uni Soviet 2-0 lewat gol Ruud Gullit menit ke-32 dan Marco van Basten menit ke-54.

Saat itu, Belanda juga melahirkan bintang-bintang yang mampu menembus jagad raya. Selain dua bintang itu, ada Frank Rijkaard, Ronald Koeman, Erwin Koeman, Jan Wouters, Gerald Vanenburg, dan kiper Hans van Breukelen.

Koloni

Saat ini, Belanda memang tidak sehebat dua tim di atasnya. Meski demikian, kita juga tidak bisa menyebut tim Belanda itu. Tim mereka yang tidak mungkin bisa menjadi ancaman bagi siapa pun yang ingin merebut Piala Eropa 2024.

Ujiannya memang, Sabtu mendatang. Jika mereka bisa mengalahkan Turki, maka Inggris atau Denmark bisa disingkirkan oleh tim Oranye ini.

Jika dua tim di atas Michles menciptakan strategi total football dengan menerapkan kecepatan dan kekuatan permanen , tim Koeman tidak sepenuhnya demikian. Meski begitu, Belanda tetap berbahaya.

Sekali ini, saya tidak ingin mengupas masalah teknis tim Oranye. Saya hanya ingin mengingatkan kita bahwa batas dunia sudah sangat tipis.

Jika 1974/78, Belanda sama sekali tidak diperkuat pemain luar, 1988 kekuatan tim Oranye justru mulai melibatkan pemain luar. Di FIFA ada tiga sumber pemain luar yang ‘diizinkan’ untuk direkrut.

Pertama, Naturalisasi Murni biasanya didasarkan pada imigran. Kedua, Naturalisasi berdasarkan keturunan atau asal-usul, ketiga, Naturalisasi berdasarkan koloni.

Nah, tim Oranye kali ini, dari 22 pemain yang dibawa Koeman, 9-15 adalah pemain naturalisasi. Dan, inilah tim Oranye pertama yang paling berwarna.

Virgil van Dijk, penyerang andalan Liverpool ini sudah berusia 32 tahun. Ia sudah berada di timnas Belanda sejak 2015. Darah yang mengalir di tubuhnya adalah China dan Suriname.

Nathan Ake, pemain Manchester City berusia 29 tahun. Awalnya bergabung dengan Akademi Chrlsea, lalu pindah ke Belanda. Darah yang mengalir ditubuhnya dari perpaduan sang ayah Moise Ake, Suriname Afrika dengan ibu Ineke Telder, Belanda.

Tijjani Reijnders, gelandang AC Milan, berusia 25 tahun itu memiliki vam Lekatompessy, jelas berasal dari Indonesia Timur, Ambon atau Maluku. Sama seperti beberapa pendahulunya Simon Tahamata dan mantan kapten timnas Belanda, Giovanni van Bronckhorst, Tijjani menjadi andalan tim Oranye.

Xavi Simons, gelandang RB Leipzig. Usianya baru 21 tahun, ia menjadi pendobrak tim negeri Kincir Angin. Ayahnya asli Suruname dan juga pemain bola profesional.

Cody Gakpo, merobek gawang Rumania di menit ke-16, pada menit ke-20. Seperti kapten Virgil, Gakpo adalah sayap andalan Liverpool. Usianya baru 25 tahun, ayahnya adalah warga negara Togo dan berdarah Ghana, adalah ibu asli Belanda. Namun jika melihat postur dan kulit Gakpo, warna ayah terlalu kuat menyerap.

Meski masih banyak lainnya, saya mengakhiri tulisan ini pada bintang Belanda yang memporak-porandakan Rumania dengan mencetak dua gol di menit 83 dan 90+3, untuk membawa negaranya ke _perempat final_ melawan Turki.

Usia pemain sayap Dortmund ini baru 25 tahun, ketajamannya saat menghajar Rumania, sangat luar biasa. Ayah dan ibunya asli Suriname, negeri yang pernah dijajah oleh Kerajaan Belanda. Dan tanah yang menampung lebih dari 12 persen rakyat Indonesia yang dibawa dan dipeketjakan di perkebunan oleh penjajah.

Dari sini, saya ingin, kita para penggila sepakbola nasional mau melihat perkembangan sepakbola di dunia secara terbuka.

Artinya jika negara yang jauh di atas kita, pernah menjadi juara dunia dan Eropa saja mau menerapkan naturalisasi, lalu, kita….

( Penulis adalah Wartawan Sepakbola Senior )

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU