26 May 2026
HomeBeritaDekan FEB UPNVJ: Indonesia Berpeluang Besar Kembangkan Industrialisasi Berkelanjutan

Dekan FEB UPNVJ: Indonesia Berpeluang Besar Kembangkan Industrialisasi Berkelanjutan

Jakarta– Indonesia terjebak dalam status middle income sejak 1980-an. Sebab, pada 1960-an masih berstatus pendapatan rendah.  Jebakan ini disebabkan kegagalan negara-negara berpenghasilan menengah untuk memiliki pertumbuhan produktivitas tenaga kerja yang lebih cepat melalui inovasi teknologi dan peningkatan industri daripada negara-negara berpenghasilan tinggi. Untuk itu, Indonesia harus terus mengembangkan industrialisasi. Sebab, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industrialisasi berkelanjutan.

Demikian Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPN “Veteran” Jakarta adalah Dr. Dianwicaksih Arieftiara SE.Ak., M.Ak., CA., CSRS ketika tampil sebagai narasumber dalam The 2nd Jakarta Economic Sustainibility International Conference Agenda (JESICA) pada hari ketiga, Sabtu (3/12/2022).

Selain Dianwicaksih, narasumber dalam acara yang membahas topik “Sustainable Industrialization and Inequality Challenges” ini, yakni Prof. Gulzhakan Mynzhanova, Ph.D. (Kazakh Ablai Khan University, Kazhakstan), Prof. Bertrand Wigniolle. Professor yang berasal dari Universite Paris 1 PanthÈon-Sorbonne, France dan Prof. Surajit Mazumdar dari India. Seminar ini dipandu Zackharia Rialmi, S.IP., MM, CHRP.

Dianwicaksih yang membawakan topik “Sustainable Industrialization and Inequality Challenges”, mengatakan,  untuk meningkatkan industry maka perlu mengutamakan penggunaan sumber daya inovasi yang terbatas, memfasilitasi teknologi, dan mendukung peningkatan industri dalam bentuk kebijakan merupakan faktor yang sangat krusial bagi pemerintah negara berpenghasilan menengah untuk menjadi solusi dari masalah ini.

Dia mengatakan, agenda 2030 antara lain menjadikan komitmen untuk membangun infrastruktur yang tangguh, mendorong industrialisasi yang inklusif dan berkelanjutan, serta mendorong inovasi sebagai tujuan pembangunan berkelanjutan.

Menurut Dianwicaksih, industrialisasi sangat dipengaruhi keberadaan sumber daya manusia dan mesin sebagai faktor pendukung utama kegiatan industri. Hal ini untuk mempercepat kegiatan industri. Dalam kegiatan industri, katanya, sumber daya manusia dan teknologi perlu meningkatkan penggunaan suatu produk.

Untuk negara berkembang, jelas Dianwicaksih, industrialisasi dipengaruhi  antara lain, faktor penguatan kawasan industry, pemberian insentif berupa subsidi, fasilitas pajak dan kredit, serta fasilitas perolehan devisa bagi perusahaan pionir. Selain itu, dengan menargetkan kebijakan industri di sektor-sektor di mana negara memiliki sumber daya yang melimpah. Di Indonesia sumber daya alam dan sumber daya manusia. “Pemerintah Indonesia perlu bertindak sebagai fasilitator dalam pasar yang efektif untuk memungkinkan inovasi teknologi dan peningkatan industri,” katanya.

Menurutnya, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan industrialsasi berkelanjutan karena memiliki populasi besar, yang merupakan pasar besar dan tenaga kerja besar; lebih banyak ikut dalam rantai nilai global, serta Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam: maritim, pariwisata, kehutanan.

Namun, dia mengingatkan, adanya tantangan untuk terus meningkatkan, alokasi investasi ke sektor-sektor produktif, sektor informal yang besar, dan konsisten untuk merealisasikan tujuan.

Prof. Gulzhakan Mynzhanova, Ph.D yang memaparkan “Analysis of The Prospects For The Implementation of The Goals of Sustainable Development on The Example of The Almaty Region of The RK.

Gulzhakan secara khusus membahas mengenai pembangunan bekerlanjutan, dengan merujuk kepada situasi di Kazakhstan. Menurutnya, di dunia moderan, tujuan pembangunan berkelanjutan menjadi semakin menentukan arah pembangunan ekonomi karena semakin memburuknya situasi lingkungan dan, akibatnya, mencapai batas pertumbuhan ekonomi.

Dia menguraikan agenda pembangunan berkelanjutan global dengan melihat penerapan dan potensinya di wilayah Almaty,Kazakhstan. Dalam kajiannya, dia melihat kalau tujuan pembangunan berkelanjutan (SDG) menunjukkan potensi yang signifikan dari wilayah Almaty, baik secara ekonomi maupun sosial.

Salah satu tugas pokok dalam mewujudkan potensi tersebut, jelasnya, dengan  meningkatkan efisiensi produksi berdasarkan pemanfaatan sumber daya daerah secara rasional, meningkatkan lapangan kerja, dan menyelesaikan masalah pembangunan infrastruktur sub-kawasan daerah.

Menurutnya, pencapaian dan implementasi SDG di kawasan terkait dengan penyelesaian tugas interaksi antarnegara dan sifat internal. Selain itu, solusi dari tugas pencapaian SDG di tingkat regional harus didasarkan pada pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan untuk mencapainya.

Sementara itu, Prof. Bertrand Wigniolle membawakan materi secara daring dengan tema “Sustainable development and intertemporal choices: how discounting the future?”dan Prof. Surajit Mazumdar. Professor yang berasal dari India ini memamparkan materi mengenai Third World Industrialization, Inequality and Sustainability.(sp)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU