8 May 2026
HomeBeritaDiluncurkan Buku “Membangun Tanpa Menggusur”, Kisah Sukses Pembangunan Kampung Susun...

Diluncurkan Buku “Membangun Tanpa Menggusur”, Kisah Sukses Pembangunan Kampung Susun di Jakarta

SHNet, Jakarta- Ingat pergolakan warga di Jakarta ketika musim penggusuran? Sebagian warga Ibukota masih ingat, tapi mungin lebih banyak yang lupa.  Memang penggusuran di Jakarta seolah beriringan dengan pembangunan kota yang sangat masif. Luka warga yang digusur belum sepenuhnya pulih.

Proses penggusuran kampung untuk pembangunan ataupun penataan lingkungan kota tak lepas dari proses politik, terutama pemilihan kepala daerah atau gubernur. Saat kampanye  atau debat kandidat, pasangan calon kepala daerah mengungkapkan konsep dan janji untuk melaksanakan program bila memenangkan pertarungan.

Dalam kaitan buku ini, ada janji calon gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) yang berpasangan dengan Basuki Tjahaya Purnama  (Ahok) untuk membangun Kampung Deret, sebuah upaya memperbaiki lingkungan kampung dengan bantuan pemda, tanpa menggusur.   Tapi saat Wakil Gubernur Ahok naik menggantikan Jokowi, konsep Kampung Deret ditinggalkan, dan penggusuran pun berlangsung.

“Jadi buku Membangun Tanpa Menggusur ini ditulis dengan melihat aktor-aktor politik dan juga aktor LSM yang ikut berperan. Kisah pilu warga dan usaha yang giat menuntut keadilan  menjadi bagian penting dari buku ini,” kata Untung Widyanto, salah satu penulis buku dengan judul lengkap “Membangun Tanpa Menggusur: Perjuangan Kampung Susun dari Reruntuhan hingga World Habitat Award” yang diluncurkan dan dibedah di Urban Knowledge Hub Jakarta, Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, Jumat (08/05/2026).

Menurut Untung, buku ini menceritakan perjuangan warga Kampung Akuarium (Jakarta Utara), Kampung Kunir (Jakarta Barat) dan Kampung Bukitduri (Jakarta Selatan) yang digusur pemerintah daerah pada tahun 2015-2016. Setelah terjadi pergantian Gubernur, mereka membangun kembali kampungnya melalui perencanaan partisipatif yang didampingi LSM, antara lain UPC, JRMK, Rujak, Komunitas Ciliwung Merdeka, LBH Jakarta, dan arsitek sosial seperti Yu Sing, Kamil Muhammad, dan Departemen Arsitektur UI. Gubernur Anies Baswedan meresmikan rumah susun ini dan menyerahkan kepada warga untuk membentuk koperasi perumahan.

Selain Untung Widyanto yang mantan wartawan Tempo dan banyak menulis buu terkait lingkungan, penulis buku “Membangun Tanpa Menggusur” adalah M. Azka Gilsyan, mantan Anggota Tim Gubernur untuk Percepata Pembangunan (TGUPP) Pemprov DKI 2019 mendampingi Gubernur Anies R Baswedan dan saat ini konsultan kebijakan publik.

Dalam acara peluncuran dan bedah buku ini, Untung Widyanto dan Azka Gilsyan tampil bersama berbagi kisah tentang proses penyusunan dan penulisan buku yang unik ini. Pada saat bedah buku, selaian Untung dan Azka, tampil direktur studio riset-desain dan arsitektur pppooolll, Kamil Muhammad dan Elisa Sutanudjaja, Direktur Eksekutif Rujak Center for  Urban Studies.

Sebelum sesi bedah buku, diputar video sambutan Anien Baswedan, dan Noer Fauzi Rachman, doktor dari University of California, Berkeley yang menjadi salah satu nara sumber penulisan buku “Membangun Tanpa Menggusur” ini. Lalu testimoni warga Kampung Aquarium Dharma Diyani dan mantan Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yusmada Faizal.

Foto bersama usai peluncuran dan bedah buku

Simbol Keadilan

Gubernur DKI Jakarta 2017-2022 Anies Baswedan yang memberi sambutan via video mengatakan, kota bisa berbicara. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan kebijakan. Dengan tindakan. Dengan cara ia memperlakukan warganya, terutama mereka yang paling rentan. Kampung Susun adalah cara Jakarta berbicara.

Ketika sebuah kota menggusur kata Anies, kota itu berkata, “Kamu tidak terlihat.” Ketika sebuah kota membangun  tanpa bertanya, kota itu berkata, ”Suaramu tidak penting.” Tapi ketika sebuah kota duduk bersama warganya, mendengar, merancang bersama, danmembangun dengan martabat, maka kota itu sedang berkata, “Kamu ada, kamu berharga, kamu bagian dari kami.” Dan buku “Membangun  Tanpa Menggusur” merekam  perjalanan panjang itu.

Anies lebih jauh mengatakan, dari reruntuhan Kampung Akuarium yang digusur tahun 2016, hingga bangunan yang kini  berdiri sebagai simbol keadilan. Dari air mata Pak Rusdi yang kehilangan segalanya dalam semalam, hingga senyum warga yang menerima kunci rumah baru mereka. Dari penolakan dan perlawanan, hingga pengakuan dunia melalui World Habibat Ward 2024.

Salah seorang warga Kampung Akurium, Dharma Diyani dalam testimoninya mengatakan, Kampung Susun kini sudah berusia 10 tahun. Pada April lalu kita merayakan ulang tahunnya yang ke-10. Bukan untuk gaya-gayaan, tetapi untuk mengingatkan dari yang dulu tidak ada dan kini ada. ”Kami seperti dihargai, jadi orang gitu,” katanya sambil menambahkan kini banyak penelitian soal Kampung Susun untuk keperluan perguruan tinggi.

Mantan Asisten  Pembangunan dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Yusmada Faizal dalam testimoni singkat mengatakan, buku “Membangun Tanpa Menggusur” ini semoga bisa menjadi dasar untuk pembangunan di sejumlah daerah yang padat penduduk seperti Jakarta, sebab isinya merupakan contoh baik dari sebuah pembangunan kota.

Arsitek Kamil Muhammad mengatakan mestki tidak langsung berhubungan dengan Kampung Susun Akuarium, dirinya yang ikut membantu di Kampung Kunir menilai pentingnya keterlibatan arsitek dalam pembangunan kota yang lebih luas. Pendampingan ke warga juga sangat penting dan ini bagian dari studinya.

Sedangkan Elisa Sutanudjaja mengatakan, dirinya amat senang karena Kampung Susun terbangun. semula kampung itu untuk jangka waktu puluhan tahun telah terstigma buruk. Hasil yang dicapai ini telah melebih atau melampaui ekspektasi bahkan hingga meraih penghargaan dunia. “Namun tidak perlu semua kota dibangun vertikal seperti ini, kecuali di kota-kota yang snagat padat dan lahannya sempit. untungnya pembangunan vertikal juga ikut memebnatu persoalan atas hak tanah,” katanya. (sur)

 

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU