3 October 2026
HomeBeritaGalery Cemara 6 Jakarta, Lully Tutus, dan Keberhasilan ‘Mencuri Waktu’

Galery Cemara 6 Jakarta, Lully Tutus, dan Keberhasilan ‘Mencuri Waktu’

SHNet, Jakarta- Pameran  tunggal lukisan karya Lully Tutus bertajuk “Mencuri Waktu Di Tengah Riuh”, berakhir pada  pekan ini. Selama hampir dua minggu, sebanyak 18 lukisan dan satu karya instalasi yang digelar di Galery Cemara 6, Jalan HOS Tjokroaminoto, Menteng, Jakarta Pusat, menyedot pengunjung.

Pameran ini menjadi pembuktian sang pelukis dalam menapaki karirnya sebagai seniman di tengah berbagai tantangan yang mengitarinya. Di akhir pameran, Sabtu 3 Oktober ini, tulisan berikut ingin flashback ketika pameran dibuka dengan sambutan yang luar biasa dari seniman, sahabat, dan pemerhati seni.

Perempuan pelukis bernama lengkap Lully Tutus Pinandita tampil menawan ketika memberika sambutan pembukaan pameran tunggalnya. Stelan kebaya, membalut tubuhnya yang ramping.  Bunga Kamboja warna kuning di kedua telinganya, menambah keanggunan. Banyak undangan, terutama perempuan, memuji penampilannya yang sempurna.

Lully, begitu kolega dan sahabatnya menyapa di area pameran, boleh merasa bungah. Paling tidak, dengan 18 lukisan dan satu karya instalasi yang dipamerkan, dia telah ‘menaklukkan’ Ibukota Jakarta.

Pelukis Lully Tutus saat memberikan sambutan pameran tunggalnya

“Kamu harus bisa ke Jakarta, jangan karena saya sakit, kamu tidak berani. Alhamdulillah sekarang saya berdiri  di sini. Memberi sambutan pameran tunggal saya. Ini adalah takdir buat saya ada di sini. Karena itu terima kasih buat suami saya tercinta dan  tim semua pihak yang ikut membantu,” papar Lully saat berbicara di hadapan para undangan yang menghadiri pembukaan pameran tunggalnya, Selasa 22 September 2026.S

Kurator seni, Mikke Susanto memuji sambutan Lully yang disebutnya luar biasa,  sangat lancar dan runtut menceritakan perjalanan singkat hidupnya dan proses berkesenian, dalam hal ini melukis.

Pembukaan pameran yang dihadiri istri Duta Besar Jepang untuk Indonesia benar-benar menghadirkan suasana seperti terkandung dalam judul pameran “Mencuri Waktu di Tengah Riuh” yang menggambarkan proses kreatif melukis Lully di tengah kesibukan sebagai ibu dari ketiga anaknya. Pada saat penulis biografi Alberthiene Endah memberikan sambutan pembukaan, salah satu anak Lully yang duduk di belakang menangis.

Lully pun beberapa kali harus menenangkan anaknya. Alberthiene tersenyum dan mengatakan bahwa inilah fakta bahwa Lully, perempuan pelukis ini benar-benar mencuri waktu, termasuk di acara puncak pameran tunggalnya. “Ini alami sekali. Kita bisa melihat dan merasakan bagaimana ketika lully melukis di rumah, saat mencuri waktu. Jadi, bagi saya, Lully luar biasa,” katanya.

Suasana pembukaan pameran tunggal karya Lully Tutus yang dihadiri banyak undangan

Gambaran suasana pembukaan pameran tunggal Lully  memberikan fakta pada hadirin, dan mereka yang melihat lukisan-lukisan yang dipamerkan. Bila kita punya bakat dan tentunya keinginan untuk terus berkarya, dalam situasi apa pun -dalam konteks kehidupan kita- karya berkualitas akan bisa kita buat atau lahirkan.

Lalu siapa Lully Tutus? Dalam pembukaan pameran, hadirin disuguhkan potongan video kehidupan seharu-hari Lully sebagai ibu rumah tangga,sama dengan banyak ibu-ibu lain di Indonesia. Dia mengurus tiga anak dan tentunya suaminya, ke pasar, memasak, mengantar sekolah dan ritual ibu rumah tangga lainnya. Video itu bukan  tanpa makna, tapi ingin menunjukkan tema pameran dengan kesehariannya sebagai seorang ibu. Dia harus mencuri waktu untuk melukis. Tapi di Linkin pribadinya, Lully menulis  sebagai Director and Visual Artist

Lully Tutus lahir di Rembang, Jateng,  28 Maret 1980 dan  sejak kecil ikut Mbah Putrinya. Dia mulai menekuni seni lukis  2009, “Sembari mengasuh saya, Beliau  suka membuat boneka kecil yang terbuat dari lilin, biasanya disebut ‘tengulan’. Syapun senang memperhatikan saat Mbah Putri melakukan hobbinya itu. Akhirnya Beliau pun mengajari saya membuat ‘tengulan’. Itulah awal mula perkenalan dengan seni rupa,”ungkap Lully

Selain belajar membuat boneka, Lully kecil juga suka mencoret coret kertas atau media apapun untuk digambari sesuatu. Kegiatannya ini mendapat dukungan dari Mbah Putri. Beliau kemudian memperkenalkan Lully pada maestro lukis Indonesia, Affandi. “Setiap kali  melihat Affandi menggambar, dalam benak timbul cita cita kelak ingin seperti Beliau, jadi pelukis. Pak Affandi itu idola saya,” kata Lully.

Lully menceritakan, keinginan  untuk melanjutkan ke ISI agar dapat memperdalam pengetahuan di bidang seni ternyata tidak direstui orangtuanya. Akhirnya Lully, menjalani pendidikan di Politeknik Undip,  Jurusan Akutansi hingga selesai.

“Tahun 2001 saya pernah bekerja sekaligus belajar ilustrasi pada majalah anak ‘INO’ milik rumah produksinya Arswendo Atmowiloto. Saat itu medianya masih kertas dan tinta,” cerita Lully lebih lanjut.Sejak 2009, Lully mulai melukis dengan media kanvas dan cat minyak. Langkah ini mendapat dukungan penuh dari suaminya, Jaka Yulianta.

Dua pengunjung tengah membincangkan karya Lully Tuttus

Rumah Wadah Produktif, yang Powerfull.

Wartawati yang kini lebih dikenal sebagai penulis biografi, Alberthiene Endah sangat mengapresiasi kiprah Lully yang telah melampaui berbagai tantangan dalam berkarya. Dia juga menyatakan bahwa rumah adalah wadah produktif yang sangat kuat.

“Melihat kiprah Lully seperti saya menemukan diri saya belasan tahun yang lalu. Bahkan saya pernah merindukan pada satu titik bagaimana ‘merumah tanggakan’ diri saya, karena saya terlalu sibuk dengan rutinitas pekerjaan, memimpin majalah, rapat, bertemu banyak orang, seperti waktu harus prduktif-produktif. Waktu itu saya workaholic,” papar Alberthiene

Diakui Alberthiene, sebenanya dirinya  merasa –pada titik itu- kesibukan telah memperbudak dirinya dalam konteks wanita karir: karena selalu saya yang dituntut itu  legacy, produksi, dan target atau KPI, jenjang karir. Tanpa mengurangi rasa hormat pada dunia karor, tapi dia  merasakan sendiri apa yang dialami.

Apakah rumah tidak bisa memberikan nilai-nilai yang setara dengan dunia karir? akhirnya Alberthiene memberanikan diri untuk berhenti dari karir dan mulai menulis biografi, apalagi saat itu sudah menulis biografi ibu negara, Ani Yudhoyono.

“Ahirnya saya juga pindah dari apartemen yang selama ini telah ‘mengurung’ saya dalam dunia sepi dan tak pernah dengar tukang sayur, tukang siomay, dan tukang makanan kecil lainnya. Selanjutnya saya pindah ke ‘darat’ membeli rumah di daerah Ciganjur, JakartaSelatan,” ujar AE, panggilan akrab Alberthine Endah.

Seorang pengnjung asyik memperhatikan salah satu lukisan Lully yang dipajang.

Aspek Sosiologis

Sebanyak 18 lukisan dan satu karya instalasi  yang dipamerkan selama hampir dua pekan ini memperlihatkan aspek sosiologis yang kuat, khususnya yang berkaitan dengan beragam aspek kehidupan sang pelukis, maupun situsi sosial saat ini.

Mikke Susanto yang sudah mengkurasi  lebih 120 an pameran, menekankan aspek sosiologi seni atau aspek  kehidupan sehari-hari pada karya Lully kali ini menjadi sorotan penting dan bahkan utama, dibanding saat Lully menggelar pameran-pameran sebelumnya.

Diakui Mikke, langkahnya untuk mengkurasi  karya Lully untuk pameran ini, prosesnya cukup   panjang. “Pameran tunggal ini momen sangat penting, bukan saja bagi Lully sang pelukis, tapi juga saya sebagai kurator dan semua pihak yang terlibat, termasuk pengunjung yang menikmati karya-karya Lully,” katanya.

Akademisi yang mengajar di Jurusan Tata Kelola Seni, ISI Yogyakarta ini  mengungkapkan, dalam kurasi, pameran ini berasumsi pertama, bahwa Lully adalah perempuan pelukis yang sering kali bisa kita artikulasi yang biasa dihadapi perempuan perupa lainnya. “Karena itu karya-karya Lully ini saya kemas sebagai tajuk dalam pameran mencuri waktu di tengah riuh aspek sosiologi pelukis tergambar dalam pameran ini,”ujar Mikke.

Kehidupan seniman, termasuk Lully,  perupa yang notabene, kebanyakan perempuan di Indonesia yang bergelut dengan urusan rumah tangga dengan segala dinamikanya. Tapi kata Mikke,  ini menjadi semacam penanda bagi publik bahwa karakter seperti ini bagian dari fenomena di Indonesia. “Jangan lupa lho, banyak perempuan perupa yang menjadi ikon, bergulatnya sepeti ini, seperti Lully,” katanya.

Bagi Lully Tutus, lanjut Mikke,  waktu untuk melukis muncul di  antara serangkaian kegiatan keluarga. Ketika sedang  atau selesai melakukan tugasnya: setelah anak-anak  disiapkan dan diantar ke sekolah, setelah belanja  keperluan dapur dan kebutuhan rumah tangga  terurus, setelah perhatian diberikan kepada suami  dan keluarga. Waktu untuk berkarya mungkin  pendek, terputus-putus, dan sering kali harus  menunggu kesempatan.

Namun, justru di tengah  keterbatasan itulah tumbuh ketekunan untuk terus  bekerja dan mempertahankan keberadaannya  sebagai seorang seniman. “Mencuri waktu” dalam konteks ini bukanlah tindakan  melawan keluarga. Inilah cara Lully menjaga ruang  bagi dirinya sendiri di tengah kehidupan yang  menuntut kehadirannya hampir sepanjang hari.(sur)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU