17 April 2026
HomeBeritaGas Air Mata Jadi Pergunjingan, Pasca Kerusuhan Kanjuruhan

Gas Air Mata Jadi Pergunjingan, Pasca Kerusuhan Kanjuruhan

SHNet, Malang – Sepakbola Indonesia berduka. Sebanyak 127 orang tewas namun jumlah ini diperkirakan akan bertambah, sedangkan yang luka luka 180 orang akibat kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang, pasca laga Arema FC vs Persebaya, di ajang BRI Liga I 2022, yang digelar Sabtu (1/10) malam. Korban tewas terdiri dari Aremania (supporter Arema FC) dan dua anggota polisi.

Sebanyak 34 korban meninggal di dalam stadion, sedang lainnya meninggal di rumah sakit pada saat proses pertolongan. Kapolda Jatim Irjen Nico Afinta menyesalkan tragedi di Stadion Kanjuuruhan yang menyebabkan korban jiwa. ‘’Telah meninggal 127 orang, dua diantaranya anggota Polri,’’ jelas Kapolda Jatim kepada wartawan di Mapolres Malang, Minggu (2/10) dinihari.

Menariknya, sebagai ungkapan duka dan belasungkawa mendalam, sebagian warga Malang raya memasang pendera setengah tiang di depan rumah masing masing.

Hingga saat ini penanganan dan pendataan atas korban masih terus dilakukan. Sementara kondisi di sekitar Stadion Kanjuruhan, Minggu pagi sudah kondusif. Petugas keamanan menyeterilkan bagian dalam stadion terbesar di Malang Raya tersebut. Sampah-sampah maupun bangkai mobil-mobil yang terbakar masih teronggok di sekitar stadion. Kondisi itu menjadi tontotan warga yang biasa berolah raga di Stadion pada Minggu pagi

 

Rusuh

Kerusuhan bermula ketika massa Aremania berulah dengan menyerbu lapangan, usai tim kesayangannya kalah 3-2 atas Persebaya. Para supporter saling pukul. Mereka juga menyalakan flare dan melempar berbagai benda yang mereka bawa dari luar lapangan. Massa bergerak sporadic mengejar pemain hingga ke ruang ganti. Para pemain dan official Persebaya langsung dievakuasi petugas dari lokasi. Mereka diangkut menggunakan kendaraan taktis (rantis) untuk menghindari penyerangan supporter.

Massa lainnya merusak fasilitas Stadion Kanjuruhan, mulai merusak bangku pemain, papan iklan, hingga jaring gawang untuk melampiaskan kekecewaan. Mobil polisi pun tak lepas dari kemarahan massa. Sebanyak 13 kendaraan polisi dirusak dan dibakar.

Petugas keamanan dari TNI dan Polri pun kewalahan mengatasi jumlah massa yang makin besar, sehingga menembakkan gas air mata ke lapangan. Hembusan angin menyebabkan gas air mata mengarah ke tribun. Tembakan gas yang memerihkan mata itu, mengakibatkan para supporter panic, berlarian, berhamburan ke arah pintu keluar dan terinjak-injak.

‘’Waktu mau keluar tribun, tiba-tiba ada gas air mata yang terbawa angin. Semua panic mau keluar, akibatnya banyak yang terinjak-injak,’’ tutur Aldita, supporter yang duduk di Tribun 14. Aremanita ini berhasil selamat dengan luka lecet dan lebam di wajah dan tubuhnya.

Korban meninggal dan luka diangkut ke berbagai rumah sakit di sekitar Stadion Kanjuruhan di Kepanjen Kabupaten Malang. Diantaranya RSUD Kanjuruhan, RS Wafa,RS Teja Husada, Klinik Salsabila, RS Hasta Husada, RS Madiva Husada dan RS Mitra Delima. Ada pula korban yang di kirim ke RS Saiful Anwar Kota Malang. Sementara Minggu pagi, para korban meninggal dikirim ke IKF (Instalasi Kedokteran Forensik) RS Saiful Nawar Malang. Rencananya, Balaikota Malang jl Tugu No 1 Kota Malang akan menjadi pusat informasi terkait kerusuhan Kanjuruhan.

Bupati Malang HM Sanusi menyatakan, Pemkab Malang akan menanggung seluruh biaya pengobatan korban kericuhan di Stadion Kanjuruhan. ‘’’Rawat semua, Meski tidak ada identitasnya, rawat semua. Untuk biaya semua nanti ditanggung Kabupaten Malang. Setiap korban yang masuk rumah sakit harus dijawab, Saya sudah perintahkan seluruh kepala rumah sakit untuk merawat,’’ tegas Sanusi.

Bupati menyatakan, telah menugaskan Wakil Bupati Malang Didik Gatot Subroto untuk mengambil langkah strategis, menangani seluruh korban pasca kericuhan. Dia juga mengisntruksikan seluruh rumah sakit di Kabupaten Malang untuk merawat semua korban dengan baik, sekaligus mendata identitas para korban. Dia berharap kejadian ini merupakan yang terakhir bagi persepakbolaan Indonesia, ‘’Saya Bupati Malang dan Pemerintah Kabupaten Malang , Kami prihatin dan turut bersuka cita terhadap seluruh korban, Kami menyesalkan kejadian ini. Mudah-mudahan ini kejadian terakhir di persepakbolaan Indonesia,’’ pungkas Sanusi.

 

Kemenangan Tandang Setelah 23 Tahun

Bagi Persebaya, kemenangan 3-2 atas Arema FC dikandang Singo Edan merupakan penantian setelah 23 tahun. Fakta itulah menjadi penyulut emosi aremania, mengingat sejarah rivalitas antara Arema FC dengan Persebaya selama puluhan tahun.

Sementara, laga Arema FC dan Persebaya berlangsung seru sejak awal. Kedua tim bebuyutan langsung menggebrak dengan saling menyerang. Di menit ke 8 tuan rumah kebobolan lebih dulu, melalui aksi Silvio Rodrigues Pereira Junior. Terbebas dari jebakan offside, pemain Bajul Ijo itu dengan cepat membobol gawang Arema FC. Kebobolan 1 gol tak mengendorkan perlawanan Arema FC. Namun memasuki menit 32, Singo Edan kembali kebobolan melalui tendangan hukuman yang dimanfaatkan pemain Persebaya Leo Lelis. Arema FC baru bisa membalas ketinggalannya melalui gol yang dicetak Abel Camara di menit 42 dan tendangan pinalti pada menit 45+1.

Kedudukan seimbang 2-2 tak berlangsung lama. Taktik pelatih Javier Roca belum mampu menundukkan strategi yang diterapkan pelatih Persebaya, Aji Santoso. Di menit 51, Sho Yamamoto mencetak gol ke 3 untuk Persebaya, dan menjadi gol penentu kemenangan Bajul Ijo di kandang Singo Edan , setelah 23 tahun. (Eka Susanti)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU