SHNet, Jakarta — Kabar penarikan sejumlah produk Bebelac di Arab Saudi beredar di media sosial dan dikaitkan dengan Bebelac yang dipasarkan di Indonesia. Kaitan itu menyesatkan. Peringatan otoritas Arab Saudi berlaku untuk bets tertentu, sehingga tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan Bebelac di Indonesia ikut ditarik.
Saudi Food and Drug Authority (SFDA) pada 27 Februari 2026 mengeluarkan peringatan atas bets tertentu produk formula bayi Bebelac dan Aptamil produksi Nutricia-Danone. Menurut SFDA, perusahaan telah menyampaikan pemberitahuan dan melakukan penarikan sebagai langkah kehati-hatian karena potensi kontaminasi cereulide. (sfda.gov.sa)
Penarikan di Arab Saudi memang terjadi. Namun, unggahan media sosial yang memberi kesan bahwa semua produk Bebelac, termasuk yang beredar di Indonesia, ikut terdampak telah memperluas cakupan pengumuman tersebut tanpa dasar.
Di Indonesia, penjelasan BPOM mengenai potensi cemaran cereulide pada Januari 2026 menyebut dua bets S-26 Promil Gold pHPro 1 produksi Nestlé Suisse SA, bukan Bebelac. Penarikan kedua bets itu dilakukan sebagai langkah kehati-hatian di bawah pengawasan BPOM. Pengumuman tersebut tidak mendukung klaim bahwa Bebelac di Indonesia ikut ditarik karena kasus di Arab Saudi. (hukor.pom.go.id)
Pemeriksaan fakta Tirto juga menemukan unggahan yang mencampurkan kabar penarikan di Arab Saudi dengan klaim bahwa Bebelac berbahaya karena mengandung maltodekstrin. Padahal, SFDA menyebut potensi kontaminasi cereulide pada bets tertentu sebagai alasan penarikan. Kandungan maltodekstrin dalam suatu produk tidak membuktikan produk tersebut terkontaminasi cereulide. (tirto.id, sfda.gov.sa)
Tim Riset Tirto.id mengingatkan pentingnya memeriksa informasi penarikan melalui pengumuman resmi, bukan menarik kesimpulan dari unggahan media sosial. “Dasar penarikan harus merujuk pada produk dan bets yang secara resmi dinyatakan terdampak oleh otoritas pengawas pangan,” tulis tim tersebut dalam artikel pemeriksaan faktanya.
Karena itu, konsumen perlu mencocokkan nama produk dan nomor bets pada kemasan dengan pengumuman otoritas yang berwenang. Kesamaan merek saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa suatu produk ikut ditarik.
Praktisi Komunikasi dan Dosen Periklanan Politeknik Negeri Media Kreatif (Polimedia) Andre Donas meminta masyarakat tidak terjebak dan larut terkait isu kandungan maltodekstrin dalam susu formula (sufor). Dia mengatakan, penggunaan maltodekstrin sudah diatur oleh BPOM.
“Jadi lebih baik tenang saja dan tidak perlu khawatir karena penggunaan maltodekstrin sudah diawasi ketat oleh BPOM. Jangan terkecoh oleh hoax di media soal maltodekstrin” kata Andre Donas di Jakarta.
Dia mengungkapkan bahwa kandungan maltodekstrin dalam sufor yang ramai di media sosial dinilai perlu dilihat secara utuh. Dia melanjutkan, terutama karena bahan tersebut bukan hanya digunakan oleh satu produk atau satu produsen tertentu.
Dia mengatakan, penggunaan maltodekstrin hampir dipakai oleh seluruh produsen sufor dalam takaran yang sudah ditentukan sehingga aman dikonsumsi anak. Andre lantas mengungkap kejanggalan kemunculan isu tersebut secara tiba-tiba dengan menyebut satu produk tertentu.
Menurutnya, ada pihak tertentu yang sedang berusaha membentuk opini publik terhadap produk tertentu. Dia mengatkan, pengungkapan kandungan maltodekstrin salah satu produk secara terus-menerus dapat membentuk persepsi negatif terhadap merek apabila tidak disertai konteks mengenai penggunaan bahan tersebut pada produk pangan lain.
Dia melanjutkan, persoalan maltodekstrin yang perlu diperhatikan adalah ketika keberadaan bahan tersebut pada satu produk tertentu seolah menjadi persoalan khusus. Sementara maltodekstrin merupakan bahan yang juga digunakan dalam berbagai produk pangan kemasan mulai dari susu, minuman berenergi, makanan ringan hingga saus dan bumbu dapur.

