18 June 2026
HomeBeritaIndonesia Terima Koleksi Benda Bersejarah dari Pemerintah Belanda

Indonesia Terima Koleksi Benda Bersejarah dari Pemerintah Belanda

SHNet, Magelang – Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hilmar Farid, mewakili pemerintah Indonesia menerima penyerahan koleksi benda-benda bersejarah dari Belanda. Acara penyerahan berlangsung pada Senin, 10 Juli 2023 di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda.

Gunay Uslu, Menteri Muda Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda, mewakili pemerintah Belanda Dalam acara tersebut.

Direktorat Jenderal (Ditjen) Kebudayaan
Kemendikbudristek, menyampaikan hal ini dalam keterangannya kepada media dari Belanda, Senin (10/7).

Ditjen Kebudayaan menyampaikan bahwa dalam acara yang sama juga berlangsung penandatanganan dokumen Pengaturan Teknis (Technical Arrangement) dan Pengakuan Pengalihan Hak dari Kerajaan Belanda ke Republik Indonesia.

Menurut Ditjen Kebudayaan, pemerintah Indonesia menyambut baik penyerahan koleksi benda-benda bersejarah Indonesia dari pihak Belanda. Indonesia akan merawat koleksi-koleksi tersebut dengan hati-hati.

“Indonesia, dalam hal ini Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek akan melakukan konservasi dan pemanfaatan terbaik untuk benda-benda budaya ini,” jelas Hilmar Farid.

Hilmar menyatakan, repatriasi koleksi asal Indonesia di Belanda dapat dilakukan berkat kerja sama dan kerja keras kedua komite repatriasi, serta dukungan kedua pemerintah.

“Yakni Ditjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI yang telah menginisiasi pembentukan Tim Repatriasi Indonesia, dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Kerajaan Belanda,” kata Hilmar.

 

Pemerintah Indonesia menerima penyerahan koleksi benda-benda bersejarah dari Belanda, pada Senin, 10 Juli 2023 di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda.
[SHNet/Ist]

Menurut Hilmar, sejak 2 tahun lalu terus menjalin komunikasi positif dan produktif. Komunikasi tersebut berlangsung antara Ditjen Kebudayaan dengan Ketua Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja, dan Komite Repatriasi Benda Kolonial Belanda yang dipimpin oleh Lian Gongalvez-Ho Kang You.

Tujuannya, melanjutkan kerja sama dan mendorong ikhtiar pengembalian benda-benda bersejarah dari Belanda ke Indonesia.

Hilmar menjelaskan, repatriasi benda bersejarah ini bukan sekadar memindahkan barang dari Belanda ke Indonesia, melainkan juga mengungkap pengetahuan sejarah, dan asal-usul benda-benda seni bersejarah yang selama ini belum diketahui masyarakat.

“Jauh sebelum benda-benda tersebut kembali ke Indonesia, kedua komite repatriasi dari Indonesia dan Belanda bekerja sama melakukan serangkaian pertemuan dan diskusi, untuk membahas makna dari benda-benda tersebut bagi kedua bangsa, baik di masa lalu maupun di masa kini,” ujarnya.

Hilmar menilai, kerja sama kedua negara dalam bidang repatriasi ini berkembang ke arah yang positif, dengan mengembangkan program-program kerja sama museum, dan penelitian yang melibatkan para ahli dari kedua negara, dan pengembangan program beasiswa bagi para sarjana yang melakukan penelitian di dalam bidang repatriasi benda kolonial.

“Proyek repatriasi benda bersejarah ini adalah momentum penting, untuk menumbuhkan saling pemahaman dan kesetaraan di antara kedua bangsa,” pungkasnya.

Sejarah kedatangan koleksi seni ini ke Belanda sebagian masih belum jelas. Berawal dari Perdana Menteri Indonesia Timur, Ide Agung Anak Gde Agung, yang disebut-sebut telah menyelenggarakan pameran karya seni itu di beberapa kota di Belanda dan Eropa antara tahun 1948 dan 1950.

 

Koleksi Penting

Namun sebuah artikel di De Vrije Katheder, 23 Desember 1946 telah membahas sebuah pameran karya-karya Pita Maha, ‘sebuah koleksi penting’, di galeri seni van Lier di Castricum. Pada tahun 1955, koleksi tersebut disimpan di Tropenmuseum di Amsterdam.

Setelah melalui serangkaian penelitian yang komprehensif dari para ahli, empat koleksi artefak, yakni 132 koleksi benda seni Bali Pita Maha, Patung Singasari, pusaka kerajaan Lombok dan keris Puputan Klungkung akan dikembalikan ke Indonesia.

Sebanyak 132 koleksi benda seni Bali, antara lain karya berupa lukisan, ukiran kayu, benda-benda perak dan tekstil para maestro seniman yang tergabung di dalam kelompok seni Pita Maha. Ini adalah paguyuban seniman Bali yang didirikan pada 29 Januari 1936 oleh Tjokorda Gde Agung Sukawati, I Gusti Nyoman Lempad, Walter Spies dan Rudolf Bonet.

 

Pemerintah Indonesia menerima penyerahan koleksi benda-benda bersejarah dari Belanda, pada Senin, 10 Juli 2023 di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda. [SHNet/Ist]
Sedangkan, empat patung Singasari yang tersimpan di Museum Volkenkunde, Leiden adalah primadona dari abad ke-13 Masehi. Keempat patung tersebut berasal dari candi Singasari. Candi ini didirikan untuk menghormati kematian Raja Kertanegara, dinasti terakhir dari kerajaan Singasari.

Empat arca yang akan kembali ke Indonesia adalah Durga, Mahakala, Nandishvara dan Ganesha.

 

Bali dan Lombok

Repatriasi ini juga mengembalikan ratusan benda yang berasal dari kerajaan Lombok. Pengembalian benda-benda tersebut bersama dengan sebilah keris dari Kerajaan Klungkung, Bali.

Objek dari Puri Cakranegara, Lombok itu sebelumnya tersimpan di Tropenmuseum, sementara keris puputan Klungkung sejak lama menjadi koleksi museum Volkenkunde, Leiden.

Acara penyerahan dihadiri oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi Republik Indonesia Hilmar Farid, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda Mayerfas, Ketua Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja, Sekretaris Tim Repatriasi Bonnie Triyana, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Kementerian Luar Negeri Belanda serta sejumlah wartawan internasional dan para ahli sejarawan dan museum di Belanda. (whm/sp)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU