Oleh: Achmad Mundzir
SAYA mengelola Balai Pengobatan Sayid Abdurrahman yang murni dari masyarakat di Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Saat itu tahun 2006 saya punya keinginan bila nanti balai pengobatan ini selesai direnovasi, saya ingin mengundang menteri dari Jakarta untuk meresmikannya. Saat itu mengundang menteri jauh dari prediksi kemampuan semua orang. Karena balai pengobatan saya Said Abdurrahman, Nahdlatul Ulama adalah balai kecil dan tidak dihitung para pejabat kesehatan yang ada di Kabupaten Jombang.
Tetapi saya punya himmah yaitu kemauan yang besar. Karena saya bermimpi di datangi seorang ibu. Maka, datanglah saya ke Jakarta dan bertemu dengan ibu Rita dan Ibu Ami, staf di Departemen Kesehatan RI saat itu.
Saat itu Ibu Ami imengatakan, “Pak Mundzir, ndak mungkin ngundang seorang menkes tiba-tiba. Harus kirim surat dulu. Ndak bisa ketemu menteri langsung.”
Mendengar itu hati saya kecut, tapi saya tetap berusaha membujuk bu Ami. “Bu, mohon maaf ya, saya kan dari daerah, masak enggak bisa ketemu 5 menit saja,” kata saya di ruangan bu Ami.
Mungkin Ibu Menteri Fadilah saat itu menyaksikan perdebatan saya dengam bu Ami, lewat CCTV. Akhirnya Bu Ami dipanggil ke ruang menteri.
“Pak Mundzir, umpama nanti dikasih waktu, Pak Mundzir sebentar saja ya,” katanya, setelah keluar ruang menteri.
“Lima menit saja bu. Saya ketemu dengan menteri, saya alhamdulillah. Bilang saja dari NU,” Saya menjawab.
Akhirnya saya diterima oleh Bu menteri didampingi Pak Bambang, Sekretaris Sekjen Departemen Kesehatan, Karena pak sekjennya enggak ada, lagi ke luar negeri.
“Pak Mundzir, Ibu bisa menerima Pak Mundzir, tapi sebentar saja karena Ibu mau rapat dengan Menko Kesra Alwi Shihab,” tambah pak Bambang.
Bu menteri langsung menyapa saya, “Eh, Pak Mundzir, ada apa?”
“Assalamualaikum, Bu,” saya nyungkem kepada beliau. Hati saya adem disapa menteri yang sering bicara di televisi itu.
“Saya dari Jombang, Bu. Semalam saya mimpi mau ketemu ibu,” jelas saya terus terang.
“Wah, saya juga mimpi ada tamu seorang kyai. Apakah ini?” jawab ibu ini membuat saya kaget. “Ya Allah” saya nyebut dalam hati.
Akhirnya kami ngobrol dengan Ibu Menkes Siti Fadilah di ruangannya, didampingi Pak Bambang itu.
Saya menyampaikan singkat niat mengundang menkes meresmikan balai kesehatan di Jombang.
“Saya bernazar bila balai pengobatan saya ini selesai, yang meresmikan adalah seorang seorang menteri, Mohon ibu bersedia datang,” saya memberanikan diri langsung mengundang.
Memang rasa-rasanya tidak mungkin seorang menteri mau datang.meresmikan balai pengobatan yang hanya 2 kamar. Biasanya seorang menteri hanya mau datang hanya pada rumah sakit kelas B, setidaknya kelas C plus.
Di Jombang saya pernah mengundang bupati, wakil bupati, enggak ada yang datang karena itu enggak mungkin menteri akan datang. Yang datang palingan sekretaris menteri.
Kerena menteri enggak datang, maka tidak ada yang datang. Bupati maupun wakil Bupati, bahkan Kepala Dinas Kesehatan pun enggak datang.
Undangan saya disambut, bu menteri mau datang. Saya aba-aba ke Dinas Kesehatan Jawa Timur bahwa menteri kesehatan mau datang meresmikan Balai Kesehatan di Jombang.
“Pak Mundzir, Pak Mundzir kenal dengan Pak Hasyim Muzadi?” Ibu bertanya.
“Kenal, Bu. Saya kenal baik dengan beliau,” jawab saya.
Ibu menanyakan apakah saya mengenal Kyai Idris, Kyai Langitan, dan beberapa kyai lainnya yang saya kenal semua.
Saya langsung mengontak ke pak Hasyim Muzadi melalui telepon saya dan langsung diangkat
“Iya, Dir,” kata pak Hasyim menjawan telpon.
“Mohon izin Kyai saya bersama bu Menteri Kesehatan Siti Fadilah,” jelas saya.
Pak Hasyim mungkin kaget ngapain seorang Mundzir, orang biasa koq ada di ruangannya menteri.
“Kyai ini bu menteri mau bicara dengan panjenengan,” Kata saya, kemudian seluler saya sampaikan ke bu menteri.
“Pak saya mau hadir ke Jombang, mau meresmikan balai pengobatan NU yang ada di Jombang…Kalau Pak Hasyim mau hadir, saya pasti hadir,” kata bu Menteri terus terang.
“Saya hadir, Bu,” jawab pak Hasyim. Ia menunda kunjungannya ke Singapura.
Maka hadirlah Menkes Siti Fadilah. Kedatangannya hampir bersamaan dengan Kyai Hasyim Muzadi di bandara Juanda, Surabaya.
Ibu Fadilah minta saya menjemput. Ibu saat itu sakit perut. Kalau enggak keliru saat itu menderita diare. Jadi Ibu menkes datang pakai infus. Saya ingat banget saat-saat itu. Pak Hasyim datang dari Yogya mendarat di Juanda.
Tidak ada yang menyangka kehadiran ibu Menkes Fadilah bersedia hadir. Karena balai pengobatan yang yang akan diresmikan, kecil sekali hanya 2 kamar.
Kedatangan ibu Fadilah ke Jombang menjadi berita bukan hanya di Jombang tapi nasional,– seorang menteri mau hadir meresmikan sebuah balai pengobatan yang sederhana.
Sejak saat itu ibu Fadilah menjadi dekat dengan ulama-ulama Nahdlatul Ulama (NU).
Menkes Fadilah bukan hanya hadir di tempat Balai Kesehatan, tapi ibu juga mengunjungi panti asuhan dan memberikan benyak bantuan.
Wartawan bertanya-tanya mengapa ibu mau menghadiri peresmian balai kesehatan yang hanya punya 2 bilik kamar. Saya jawab, Ya, karena Ibu cinta kepada kyai dan Nahdaltul Ulama. Walaupun beliau dari Muhammadiyah. Inilah sosok pemimpin yang mencintai seluruh rakyatnya.
Setelah acara di Jombang, Ibu langsung menuju ke Pesantren Tebu Ireng, menjumpai ke Gus Solah. Gus Solah menunjukan balai pengobatannya, embrio rumah sakitnya di Tebu Ireng.
Betapa cintanya pemerintah pada NU saat itu. Padahal ibu menkes belum begitu mengenal NU. Tapi, setelah kunjungan ke Jombang itu, Ibu hadir di beberapa pondok pesantren lain. Seingati saya ada 30 pondok pesantren besar dan kecil di Jawa Timur.
Kunjungan selalu dilakukan setiap hari Sabtu. Antar lain Pondok Pesantren Darul Ulum, Pondok Pesantren Tebuireng, Pondok Pesantren Nirboyo, Pondok Pesantren Langitan, Pondok Pesantren Genggong, dan banyak lagi.
Kalau masih ingat program penting Departemen Kesehatan saat Siti Fadilah memimpin salah satunya adalah poskestren (Pos Kesehatan Pesantren).
Saya dan ibu punya misi memeratakan layanan kesehatan rakyat lewat pesantren. Karena tidak mungkin menkes bikin rumah-rumah sakit yang biayanya besar banget. Maka saya usul pendirian pos kesehatan pesantren (poskestren) yang bangunannya dari Menteri Kesehatan, alatnya dan dokter dari Dinas Kesehatan, yang direkomendasikan oleh Menteri Kesehatan.
Penulis, Achmad Mundzir, pengelola Balai Pengobatan Sayid Abdurrahman, Jombang

