Oleh: Jacobus Kamarlo Mayong Padang
Sedihnya negeri yang besar dan kaya raya ini, yang diperjuangkan dengan pengorbanan luar biasa, kini dikuasai mafia yang bisa melakukan apa saja demi kepentingan diri, keluarga dan kelompoknya.
Demi kepentingannya, apa saja bisa dilakukan, dipermainkan, bahkan aturan main yang penting sekalipun bisa diatur, dipernainkan, diakali, dikompromikan. Dan lembaga yang diamanatkan untuk mengatur tata cara bernegara yang benar, ikut terjerumus atau menjerumuskan diri dalam pernainan menyimpang.
Teringat saat gegap gempitanya derap perjuangan refornasi untuk mengakhiri rezim otiriter, lagu Perahu Retak yang dilantunkan Frangky Sahilatua menjadi hiburan dan penyemangat para aktifis yang keringatan dan kelaparan. Lirik Perahu Retak ternyata masih mengekang negeri ini, sampai hari ini.
Yang salah dibenarkan, yang benar disingkirkan ………..
Sayangnya bait yang kurang;
Yang pintar jadi bodoh atau membodohkan diri, Yang paham jadi ngelantur entah karena apa,
Mungkin bung Dinamikanto bisa membuat lirik baru. Dan bung Afnan membuat seuntai puisi tentang kisruhnya negeri di tangan mafia. Mafianya dari pinggir jalan sampai pinggir istana.
Ataukah kita pasrah saja mengikuti lirik Ebiet;
“Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang”. Sambil pasrah, cuek, masa bodoh menyaksikan berjuta Marhaen hidup merana di negeri yang sumber daya alamnya luar biasa.
Bukan hanya itu, negeri yang karena letak dan bentuknya yang indah lalu digelar, Zamrud Khatulistiwa, kata Koes Ploes amat subur sehingga tongkat dan batu pun jadi tanaman.
Dalam kekisruhan yang sedemikian parah, dari panggung kampanye, dari podium pelantikan, dari ruang2 rapat para elit, terdengar slogan memukau; Menuju Indobesia emas.
Ha ha haaaa…..indah, memukau, padahal itu hanya sekedar iklan, iklan semata untuk meninabobokkan RAKYAT. Saya membiasakan menulis RAKYAT dengan huruf kapital untuk memberi makna bahwa RAKYATlah sesungguhnya pemilik negeri ini. Tetapi RAKYAT disuguhi iklan indah agar mereka terus tenang di gubuk reotnya sekalipun hanya makan dengan nasi dan tempe saja.
Pantas saja, rezim silih berganti tetapi kehidupan Marhaen tidak berubah. Dari yang didalilkan Douwes Dekker lewat Max Havelaar, yang diteriakkan Husni Thamrin dkk di Volksraad sampai gugatan Bung Karno, Maskoen, Supriadinata bersama Gatot Mangkoepradja di Landraad Bandung, Marhaen tetap saja merana. Karena beban hidup yang tak kunjung meringan membuat dua petani di Sragen saling bunuh.
Terdengarlah celoteh di warung kopi Mang Aen di sebuah pengkolan di Bandung, kemiskinan sengaja dipelihara. Karena RAKYAT yang miskin sangat mudah dirayu. Cukup dengan 5 bungkus mie instan, sekilo gula pasir dan minyak goreng, amplop Rp 50.000 kedaulatan mereka dipinjamkan pada elit. Dan para elitnya memanfaatkan itu untuk memperkaya diri, mengurus keluarga, membuat keputusan yang menguntungkan keluarga.
Dengan pola itu, penjajahan bagi Marhaen sesungguhnya belum berakhir hanya berpindah majikan dan sang majikan terus berjanji. Sekarang dengan janji kemilau; menuju tahun emas. Lagi dan lagi Marhaen dijanji. Tetapi tak ada yang konsisten dengan janjinya.
Konsisten sangat mahal,
Pragmatisme selalu temukan alasan.
Jacobus K. Mayong Padang
Penyambung Keluhan Marhaen
Rawajati, tujuhsepuluhduanolduaenam

