2 May 2026
HomeBeritaEkonomiPeluang Cuan di Ruang Digital Indonesia Masih Sangat Besar

Peluang Cuan di Ruang Digital Indonesia Masih Sangat Besar

SHNet, Jawa Barat— Dalam rangka kampanye Gerakan Nasional Literasi Digital di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi menyelenggarakan Workshop Literasi Digital, Senin, 15 Mei 2023, di Jawa Barat.

Tema yang diangkat adalah “Menjadi Generasi Cakap, Kreatif, dan Inovatif di Era Digital” dengan menghadirkan narasumber dosen sekaligus digital enthusiast M Adhi Prasnowo; Relawan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia Enny Bonaventura; serta CEO Guru Youtuber Dirgantara Wicaksono.

Berdasar penelitian We are Social Hootsuite (2022), per Februari di Indonesia terdapat 204,7 juta pengguna internet yang setara dengan 73,7% dari populasi penduduk Indonesia. Angka tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya (2,1 juta atau naik 1%). Namun, survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018 mengungkap bahwa dari tiga sub indeks dalam Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) Indonesia, yaitu akses dan infrastruktur, intensitas penggunaan, serta keahlian/kecakapan, sub indeks keahlian yang memiliki skor paling rendah.

“Padahal, di era sekarang ini, teknologi digital membawa manfaat yang luar biasa besar. Teknologi digital dapat menghemat waktu, meningkatkan efisiensi bisnis, meningkatkan kualitas pendidikan, serta dapat membuka peluang pekerjaan baru,” tutur M Adhi Prasnowo.

Adhi melanjutkan, mengenai peluang kerja baru, saat ini tumbuh ragam pekerjaan yang membutuhkan keahlian atau kecakapan digital. Contohnya adalah bisnis pada perdagangan elektronik (e-commerce), pemasaran digital, penerjemah, kreator konten, konsultan, event planner, social media specialist, atau blogger. Seluruh aneka ragam pekerjaan tersebut berpotensi menjadi sumber penghasilan dengan konsep kerja yang lebih fleksibel.

Selanjutnya, Dirgantara Wicaksono menjelaskan, transformasi digital terus diupayakan di berbagai lini kehidupan masyarakat. Hal ini kemudian berdampak pada meningkatnya kebutuhan akan talenta digital di Indonesia. Kebutuhan akan talenta digital ini harus disikapi dengan serius, karena Indonesia bercita-cita ingin menjadi bangsa yang kompetitif di kancah global.

“Namun, ada tantangan dalam upaya memenuhi kebutuhan talenta digital di Indonesia. Tantangan itu berupa kesenjangan antara sumber daya dengan lapangan kerja yang ada. Saat ini dibutuhkan setidaknya 600.000 talenta digital setiap tahunnya di Indonesia,” ucap Dirgantara.

Dalam rangka mendukung kesiapan talenta digital menuju Visi Indonesia Emas 2045, ungkap Dirgantara, kolaborasi dan partisipasi aktif dari semua pemangku kepentingan amat dibutuhkan. Apalagi, pada 2030 mendatang, diperkirakan akan ada kekurangan 47 juta talenta digital di seluruh dunia. Di satu sisi, potensi ekonomi digital di Indonesia pada 2030 diperkirakan sebesar Rp 4.500 triliun.

Sementara itu, Enny Bonaventura mengingatkan, dalam meraup cuan dalam berkarya di ruang digital tetap dibutuhkan penegakan etika. Di dunia maya sekalipun, seperti halnya di dunia nyata, etika tetap diperlukan. Memegang teguh etika dapat mencegah kerugian akibat konten yang dibuat.

“Selain itu, etika dapat menjaga kenyamanan dan lingkungan digital yang kondusif. Etika juga mendorong inovasi digital yang lebih bertanggung jawab,” ucapnya.

Ia menyarankan agar dalam berkarya di ruang digital harus mematuhi aturan perundangan yang berlaku. Dilarang keras menjiplak atau bertindak plagiarisme dalam berkarya. Enny juga menyarankan agar menghormati karya orang lain, menghargai nilai dan kepercayaan publik, tidak menyebarkan hoaks atau ujaran kebencian, serta terus menghadirkan konten yang berkualitas.

Berdasarkan Survei Indeks Literasi Digital Nasional Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Katadata Insight Center pada tahun 2021 disebutkan bahwa Indonesia masih berada dalam kategori “sedang” dengan angka 3,49 dari skala 5. Dalam merespons hal tersebut, Kemenkominfo menyelenggarakan “Workshop Literasi Digital” dengan materi yang didasarkan pada empat pilar utama literasi digital, yaitu kecakapan digital, etika digital, budaya digital, dan keamanan digital.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G Plate yang memberikan sambutan secara daring menyampaikan bahwa selain membangun infrastruktur digital, pusat-pusat data, dan telekomunikasi di seluruh Indonesia. Kemenkominfo juga secara langsung mengadakan sekolah vokasi untuk menghasilkan tenaga kerja yang bertalenta digital.

“Kemenkominfo menyiapkan program-program pelatihan digital pada tiga level, yaitu Digital Leadership Academy yang merupakan program sekolah vokasi dan pelatihan yang diikuti oleh 200-300 orang per tahun bekerja sama dengan delapan universitas ternama di dunia. Digital Talent Scholarship sebagai program beasiswa bagi anak muda yang ingin meningkatkan kemampuan dan bakat digital. Dan yang terakhir Workshop Literasi Digital yang dapat diikuti secara gratis bagi seluruh masyarakat di Indonesia,” tutur Johnny.

Workshop Literasi Digital ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program Indonesia Makin Cakap Digital yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI bersama Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi.

Informasi lebih lanjut mengenai literasi digital dan info kegiatan dapat diakses melalui website literasidigital.id, media sosial Instagram @literasidigitalkominfo Facebook Page dan Kanal Youtube Literasi Digital Kominfo. (Stevani Elisabeth)

ARTIKEL TERKAIT

TERBARU